Home » Panggung Surup FSY 2025 Bahas Posisi Komunitas Sastra di Yogyakarta, Keberagaman Simbol Kekuatan

Panggung Surup FSY 2025 Bahas Posisi Komunitas Sastra di Yogyakarta, Keberagaman Simbol Kekuatan

Penampipan Musikalisasi Puisi di Panggung Surup FSY 2025, Sabtu (2/8/2025). (Foto: Istimewa)

PROSA.ID, Yogyakarta – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 menggelar “Panggung Surup: Sastra Surup” di Panggung Teras, Taman Budaya Embung Giwangan, Sabtu (2/8/2025), pukul 16.30–18.00 WIB.

Festival yang digelar menjelang senja ini menyuguhkan berbagai pertunjukan lintas ekspresi, mulai dari pembacaan puisi, narasi pendek, hingga catatan personal.

Tak hanya pertunjukan, sesi sore itu juga menghadirkan diskusi bertajuk “Refleksi Tokoh Komunitas”.

Diskusi santai ini membahas posisi komunitas sebagai simpul penting dalam dinamika sastra di Yogyakarta.

Dihadiri tiga narasumber, yaitu Latief S. Nugraha, Fairuzul Mumtaz, dan Hendra Himawan.

Hendra Himawan menyatakan, komunitas sastra tidak bisa diseragamkan sebab keberagaman justru dinilai sebagai kekuatan. Sehingga menjadi ekosistem yang dinamis dan berlapis.

“Komunitas di Yogyakarta sangat banyak dan beragam. Itu bukan masalah, justru potensi. Dari keberagaman itulah kita bisa saling menguatkan, bukan menyeragamkan,” jelasnya.

Hendra menekankan, komunitas bukan semata ruang produksi karya, tetapi juga tempat perjumpaan dan pertukaran gagasan.

Selain itu, beragam isu tak luput menjadi pembahasan, antara lain tentang regenerasi, solidaritas lintas komunitas, serta upaya menjaga semangat berkegiatan.

Dalam kesempatan yang sama, penampilan Tholokustik/Perpustra menambah suasana syahdu dengan lantunan akustik dan kata-kata lirihnya.

Sementara itu, Kelompok Sastrawi turut menampilkan musikalisasi puisi dengan pendekatan pertunjukan yang intim dan menyatu dengan suasana senja.

Di bawah semilir angin sore, pengunjung tidak sekadar menyaksikan, tetapi turut larut dalam suasana batin yang reflektif.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno menyampaikan, Panggung Surup dirancang sebagai bentuk literasi batin yang memperluas makna membaca.

Menurut Ismawati, festival ini tidak hanya soal membaca teks, tetapi juga membaca kehidupan untuk mendapatkan makna spiritual.

“Ngaji senja melalui sastra membuka ruang untuk merenung, menenangkan diri, dan menemukan makna bersama dalam suasana yang lebih spiritual,” ungkapnya.

Atmosfer di Panggung Surup dengan menawarkan nuansa perenungan, dimana senja diubah menjadi pengalaman batin yang puitik dan mendalam.

Melalui segmen ini, lanjut Ismawati, FSW 2025  memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya hidup dalam teks, tetapi juga dalam peristiwa dan pertemuan. Sebagai penghubung antara manusia, waktu, dan kesadaran. (Icha Dara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *