PROSA.ID, Yogyakarta – Kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi dunia seni, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan etika.
Politisi Ganjar Pranowo mengingatkan para pelaku seni media rekam agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan tanggung jawab dalam berkarya.
Pesan itu Ganjar sampaikan saat mengunjungi pameran internasional Jalan Menuju Media Kreatif #18 (JMMK #18) di Yogyakarta, Senin (26/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ia berkeliling melihat karya, mencermati berbagai sajian visual, serta berbincang dengan seniman dan panitia.
“Para pelaku dan karya seni media rekam saat ini dituntut untuk selalu bersiap, beradaptasi, dan berinovasi di tengah derasnya arus disrupsi AI. Namun, yang paling utama dan tidak boleh kita abaikan adalah etika dalam menggunakan serta memanfaatkan teknologi AI itu sendiri,” tegas Ganjar.
JMMK #18 Hadirkan 161 Karya Seni
Pameran JMMK #18 berlangsung pada 23–29 Oktober 2026 dengan mengusung tema Re; Definition, Re; Interpretation, Re; Application.
Tema tersebut mengajak pelaku seni dan masyarakat meninjau kembali definisi, interpretasi, serta penerapan seni di tengah perubahan teknologi.
Melalui tema itu, penyelenggara mendorong ekosistem seni untuk merespons perkembangan teknologi secara kritis.
Karya seni tidak hanya dituntut memiliki nilai estetis, tetapi juga mampu menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.
Pameran ini menampilkan 161 karya dari beragam medium seni media rekam.
Pengunjung dapat menikmati fotografi, film fiksi, film dokumenter, film eksperimental, video musik, video art, animasi, hingga instalasi interaktif yang memanfaatkan teknologi.
Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan ini bersama Pendhapa Art Space dan Project Eleven dari Australia.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X membuka rangkaian pameran tersebut pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Libatkan Seniman dari 12 Negara
JMMK #18 juga memperluas dialog seni melalui partisipasi seniman dari 12 negara, yakni Turkiye, Australia, Malaysia, Thailand, Italia, Hungaria, Jerman, Rumania, Peru, Singapura, Uruguay, dan Tiongkok.
Kehadiran kurator internasional asal Australia, Dr. Fassih Keiso, turut memperkuat perspektif lintas negara dalam penyelenggaraan pameran.
Kolaborasi tersebut membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus memperluas pengenalan seni media rekam Indonesia di tingkat global.
Selain karya mahasiswa dan seniman muda, pameran tahun ini menghadirkan koleksi fotografi cetak tua atau alternative process photography karya Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi.
Pameran khusus tersebut menjadi bagian dari perayaan pengukuhan Irwandi sebagai guru besar di bidang ilmu seni media rekam.
Panitia Siapkan Pendamping bagi Pengunjung Disabilitas
Di tengah perluasan jejaring internasional, JMMK #18 turut menekankan pentingnya aksesibilitas bagi seluruh pengunjung.
Panitia bekerja sama dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) ISI Yogyakarta untuk mendukung pengalaman pameran yang inklusif.
Kolaborasi tersebut mencakup pelatihan bagi 10 gallery sitter yang bertugas mendampingi dan memfasilitasi pengunjung penyandang disabilitas.
Panitia menyiapkan pendampingan agar mereka dapat menikmati karya dengan lebih aman dan nyaman.
Sebelum mengakhiri kunjungan, Ganjar mengajak masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk datang langsung ke JMMK #18.
Pameran ini terbuka untuk umum hingga Kamis, 29 Oktober 2026. (Ken).
