Home » 13 Seniman Jepang Bawa Nihonga ke Jogja, Buka Dialog Lewat Karya Seni

13 Seniman Jepang Bawa Nihonga ke Jogja, Buka Dialog Lewat Karya Seni

Musashino Art University Departement of Japanese Painting Exhibition in Jogja, di Langgeng Art Space, Jum'at (23/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Sebanyak 13 seniman dari Jepang membawa Nihonga, tradisi seni lukis khas Jepang, ke Yogyakarta. 

Melalui pameran ini, mereka menguji bagaimana seni tradisional dapat berkembang ketika bertemu dengan budaya berbeda.

Pameran yang diinisiasi oleh Ace House Collecttive di Langgeng Art Space pada 23 Oktober – 27 November 2026 ini mempertemukan mahasiswa, alumni, dan staf pengajar Departemen Japanese Painting Musashino Art University, Tokyo, Jepang. 

Mereka menampilkan karya yang mereka buat selama menjalani residensi di Yogyakarta maupun karya yang mereka bawa langsung dari Jepang.

Pengajar Departemen Japanese Painting Musashino Art University, Profesor Sohey Iwata menjelaskan, pameran ini tidak sekadar memperkenalkan seni lukis Jepang kepada masyarakat Indonesia. 

Ia ingin menjadikan pameran tersebut sebagai ruang pertemuan bagi seniman dari dua negara untuk bertukar gagasan dan pengalaman.

“Ini juga semacam eksperimen untuk melihat seberapa jauh kita bisa membangun pertukaran budaya melalui karya seni dan proses penciptaannya, antara kami dari Jepang dan seniman lokal di Jogja,” ujar Iwata di Langgeng Art Space Yogyakarta, Jum’at (23/10/2026) malam. 

Seniman Jepang Uji Tradisi Nihonga di Jogja

Nihonga atau Japanese Painting merupakan tradisi seni lukis yang tumbuh di Jepang dan terus berkembang hingga sekarang. 

Para seniman mempertahankan penggunaan material tradisional dan teknik pengolahan warna untuk menghasilkan lukisan pada media kertas atau kain.

Melalui pameran di Yogyakarta, para seniman Musashino Art University membawa tradisi tersebut ke lingkungan budaya yang berbeda. 

Mereka ingin melihat bagaimana pertemuan dengan seniman lokal dapat memperkaya proses penciptaan sekaligus membuka kemungkinan baru bagi Nihonga.

Iwata menegaskan, seniman perlu mengakui perbedaan budaya ketika membangun hubungan lintas negara. 

Menurutnya, anggapan bahwa seni tidak mengenal batas tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan.

“Kami berpikir bahwa ada batas-batas yang jelas. Namun, melalui perbedaan budaya itulah kita bisa berdialog, berdiskusi, saling memahami, dan menerima perbedaan,” jelasnya.

Ia mengajak seniman untuk tidak menghapus identitas budaya masing-masing demi mencapai keseragaman. 

Sebaliknya, mereka dapat menggunakan perbedaan sebagai titik awal untuk saling mengenal dan mengembangkan gagasan artistik.

“Kami berharap seniman Jepang dan Indonesia dapat menemukan cara baru untuk mengembangkan seni tanpa kehilangan karakter budaya masing-masing,” ungkapnya. 

Dialog dan Kebersamaan Membentuk Kebudayaan

Iwata memandang kebudayaan tidak hanya tumbuh melalui pembangunan gedung atau pembentukan lembaga. 

Ia menilai, interaksi antarmanusia juga memainkan peran penting dalam membangun kebudayaan.

Ia mencontohkan kebiasaan seniman makan bersama, berbincang, dan mendiskusikan perbedaan pandangan. 

Pertemuan sederhana seperti itu dapat membantu mereka memahami pengalaman dan cara berpikir satu sama lain.

“Budaya lahir melalui dialog di antara orang-orang yang memiliki perbedaan. Dengan membicarakan perbedaan itu, kita bisa saling memahami dan menerima apa yang membuat kita berbeda,” jelasnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan pameran Nihonga di Yogyakarta. 

Para seniman tidak hanya memperlihatkan hasil karya, tetapi juga membuka ruang perjumpaan untuk membangun hubungan lintas budaya.

Iwata menyebut, pengalaman tersebut penting bagi perkembangan seni lukis Jepang. 

“Dengan membawa Nihonga ke luar negeri, para seniman dapat mengevaluasi posisi tradisi tersebut dalam konteks seni yang lebih luas,” imbuhnya. 

Mereka juga dapat memikirkan arah perkembangan Nihonga ketika berhadapan dengan berbagai perspektif dan pengalaman budaya baru.

Residensi Buka Ruang Eksplorasi Artistik

Sejumlah mahasiswa Musashino Art University menjalani residensi singkat di Yogyakarta, terutama pada Agustus 2026. 

Mereka menghasilkan beberapa karya selama berada di kota ini, sedangkan peserta lainnya menyiapkan lukisan di Jepang dan membawanya untuk pameran.

Pengalaman tersebut memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk berkarya di lingkungan yang berbeda dari tempat mereka belajar. 

Mereka juga dapat mengenal suasana Yogyakarta dan berinteraksi dengan lingkungan seni setempat.

Pameran ini menghadirkan karya Sohey Iwata, Mayuko Akiba, Kei Sato, Sayaka Kasugai, Ashe, Ibuki Enomoto, Lina Zhou, Yi Huang, Bisen. Z, Mai Kurauchi, Fuka Ueda, Hanli Zhang, serta seniman tamu Takashi Kuribayashi.

Melalui beragam karya tersebut, pameran ini memperlihatkan bagaimana para seniman mengembangkan pendekatan Nihonga dan mengeksplorasi kemungkinan teknik tersebut ketika keluar dari lingkungan asalnya.

Iwata menambahkan, pameran di Indonesia ini sebagai langkah penting bagi kelompoknya untuk memperluas hubungan dengan dunia seni internasional.

“Ini mungkin menjadi pameran yang sangat penting, bagi kami,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *