PROSA.ID, Yogyakarta – Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto mendesak pemerintah daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta bergerak cepat menangani potensi bencana longsor di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.
Ia juga meminta seluruh pemerintah daerah di DIY menyiapkan anggaran yang memadai untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan krisis air bersih.
Desakan itu disampaikan Eko Suwanto saat melakukan monitoring dan evaluasi risiko bencana di sekitar Jembatan Jalan Sembungan, Kasihan, Bantul, Kamis (30/7/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Komisi A DPRD DIY menemukan keretakan pada struktur penopang jembatan serta kondisi tebing sungai yang berpotensi longsor.
Struktur Jembatan Retak, Tebing Sungai Dinilai Labil
Eko Suwanto mengungkapkan, kondisi bantaran sungai di lokasi tersebut sangat mengkhawatirkan.
Struktur tanah telah bergeser dan tebing sungai hanya ditopang oleh perakaran bambu.
Sementara itu, jalur tersebut menjadi akses lalu lintas yang padat setiap hari.
“Kondisi struktur penopang dan tanah di kawasan bantaran sungai tersebut tergolong sangat labil dan sudah bergeser. Tebing sungai hanya ditopang oleh perakaran pohon bambu. Kita catat ada potensi bahaya dan padatnya arus lalu lintas di jalur tersebut,” ujar Eko Suwanto.
DPRD DIY Minta Penanganan Darurat Segera Dilakukan
Komisi A DPRD DIY meninjau lokasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul dan tokoh masyarakat.
Dari hasil pemantauan, seluruh pihak sepakat bahwa langkah mitigasi harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Menurut Eko, penanganan cepat diperlukan agar struktur jembatan tidak semakin rusak dan potensi longsor susulan dapat dicegah.
Langkah tersebut juga dinilai penting untuk melindungi keselamatan warga dan pengguna jalan.
“Hari ini teman-teman Komisi A ditemani BPBD Kabupaten Bantul bersama tokoh masyarakat melihat ada potensi bencana longsor di sepanjang sungai ini,” jelasnya.
Eko mengungkapkan, selain itu arus lalu lintas juga cukup padat, sehingga keselamatan pengguna jalan maupun keselamatan warga harus dikedepankan.
“Harapan saya Pak Bupati Bantul harus cekat-ceket menyelesaikan ini untuk memastikan keselamatan warga sekitar,” ungkapnya.
Komisi A Siapkan Konsep ‘Sungai Aman Bencana’
Eko Suwanto menjelaskan, Komisi A DPRD DIY akan menggelar rapat kerja pada awal pekan depan bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO).
Pertemuan itu akan membahas penanganan teknis lokasi terdampak sekaligus merumuskan konsep baru bertajuk Sungai Aman Bencana.
Eko menilai, DIY telah memiliki berbagai program mitigasi seperti Desa Tangguh Bencana, Kelurahan Tangguh Bencana, dan Satuan Pendidikan Aman Bencana.
Kini, konsep serupa perlu diterapkan pada kawasan sungai yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana.
“Ada kebutuhan gerak cepat penanganan jangka pendek, sekaligus perlu regulasi dan konsep baru penanganan sungai secara komprehensif,” ujarnya.
Eko berjanji, Senin depan pihaknya akan melakukan koordinasi, merumuskan bersama BBWSO apa yang disebut Sungai Aman Bencana.
“Kita sudah punya Desa Tangguh Bencana, Kelurahan Tangguh Bencana, dan Satuan Pendidikan Aman Bencana. Ke depan saya mohon dukungan masyarakat untuk melahirkan Sungai Aman Bencana,” tandasnya.
Pemda Diminta Siapkan Anggaran Mitigasi Kekeringan
Selain ancaman longsor, Komisi A DPRD DIY juga menyoroti dampak musim kemarau yang mulai dirasakan sejumlah wilayah di Bantul, Gunungkidul, dan Sleman.
Eko meminta pemerintah daerah memperkuat sinergi dengan instansi teknis agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Ia menegaskan, pemerintah wajib mengalokasikan anggaran yang cukup untuk mendukung mitigasi bencana kekeringan sehingga distribusi bantuan air bersih dapat berjalan optimal.
“Kita sudah menerima laporan dampak bencana musim kemarau. Mitigasi dampak bencana diperlukan agar masyarakat tetap tercukupi kebutuhan air bersih. Tentu pemda harus menangani dengan gerak cepat sesuai kemampuan anggaran yang ada. Anggaran harus memadai untuk mendukung mitigasi bencana kekeringan,” pungkasnya. (Ken).
