PROSA.ID, Yogyakarta – Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melahirkan inovasi yang berpotensi memperkuat tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia.
Melalui riset doktoralnya, Dr. Kholid Haryono, S.T., M.Kom., berhasil mengembangkan 12 prinsip desain Inteligen Bisnis (Business Intelligence/BI).
Desain tersebut diklaim dapat menjadi acuan perguruan tinggi dalam mengambil keputusan admisi secara lebih cepat, akurat, transparan, dan berbasis data.
Ketua Jurusan Informatika FTI UII, Dr. Ir. Raden Teduh Dirgahayu menyebut, hasil penelitian tersebut menjadi kontribusi penting.
Ia menilai, penelitian ini tidak hanya menghasilkan sebuah sistem, tetapi juga melahirkan prinsip desain yang dapat diterapkan oleh berbagai perguruan tinggi dengan karakteristik serupa.
“Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah sekaligus solusi praktis. Perguruan tinggi tidak hanya memperoleh contoh implementasi sistem Inteligen Bisnis, tetapi juga memiliki prinsip-prinsip desain yang dapat dijadikan pedoman saat membangun sistem pendukung keputusan di bidang admisi,” ujar Teduh, Jumat (31/7/2026).
Hadirkan Tiga Kebaruan Sekaligus
Menurut Teduh, penelitian doktor tersebut menghadirkan tiga kebaruan penting.
Pertama, penelitian menghasilkan teori berupa prinsip desain Inteligen Bisnis khusus untuk domain admisi perguruan tinggi.
Kedua, penelitian menjadi salah satu implementasi pertama Action Design Research secara utuh pada pengembangan Inteligen Bisnis di bidang admisi.
Ketiga, penelitian menghasilkan bukti empiris melalui implementasi nyata di lingkungan perguruan tinggi, bukan sekadar purwarupa yang berhenti di laboratorium.
“Nilai lebih penelitian ini terletak pada keseimbangan antara kontribusi akademik dan implementasi nyata. Inilah yang dibutuhkan dunia pendidikan tinggi saat ini,” kata Teduh.
Pengambilan Keputusan Masih Banyak Mengandalkan Intuisi
Sementara Dr. Kholid Haryono menjelaskan, proses penerimaan mahasiswa baru di banyak perguruan tinggi masih menghadapi tantangan besar.
Selama ini, pengambil kebijakan harus menentukan kuota penerimaan, nilai ambang batas kelulusan, hingga waktu penutupan pendaftaran dalam kondisi informasi yang tersebar di berbagai sistem dan waktu yang sangat terbatas.
Akibatnya, banyak keputusan strategis masih mengandalkan pengalaman maupun intuisi dibandingkan analisis data yang komprehensif.
“Kami melihat pengambilan keputusan admisi sangat dinamis karena melibatkan banyak pemangku kepentingan dengan kebutuhan informasi yang berbeda. Karena itu, dibutuhkan sistem Inteligen Bisnis yang mampu menyajikan data secara cepat, relevan, dan mudah dipahami,” kata Kholid.
Kembangkan Dashboard Inteligen Bisnis Berbasis Action Design Research
Dalam penelitian tersebut, Kholid menerapkan pendekatan Action Design Research (ADR) yang memadukan kekuatan Design Science Research dan Action Research.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti membangun sistem sekaligus mengujinya secara langsung pada organisasi.
Pengembangan dashboard Inteligen Bisnis berlangsung melalui empat tahap iterasi, yakni Alpha, Beta, Gamma, dan Delta.
Tim peneliti melakukan pengujian fungsional, Importance-Performance Analysis (IPA), System Usability Scale (SUS), serta evaluasi bersama pimpinan universitas, kepala bidang admisi, dan ketua program studi.
“Hasilnya, seluruh 31 fitur pada dashboard dinilai memenuhi harapan pengguna. Sistem juga memperoleh skor usability 84,4 dari 100, yang menempatkannya dalam kategori sangat baik,” jelasnya.
Petakan 20 Jenis Keputusan Admisi
Penelitian ini juga menghasilkan pemetaan komprehensif terhadap 20 jenis keputusan admisi yang dikelompokkan menjadi tujuh kategori utama.
Kholid mengungkapkan, penelitian menemukan empat pola dominan dalam pengambilan keputusan, yakni heuristik, kolaboratif, analitis, dan intuitif.
Setiap model muncul sesuai tingkat keterbatasan informasi serta kemampuan kognitif para pengambil keputusan.
“Pemetaan ini membantu perguruan tinggi memahami bahwa setiap keputusan membutuhkan dukungan informasi yang berbeda. Sistem Inteligen Bisnis harus mampu menyesuaikan kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Lahirkan 12 Prinsip Desain Inteligen Bisnis
Kontribusi terbesar penelitian ini adalah lahirnya 12 Design Principles (DP-1 hingga DP-12) yang dapat dijadikan panduan dalam membangun sistem Inteligen Bisnis untuk admisi perguruan tinggi.
Prinsip-prinsip tersebut mencakup kepercayaan terhadap data, arsitektur informasi berbasis keputusan, tata kelola kebijakan yang mudah ditelusuri, visualisasi data yang sesuai kebutuhan pengguna, hingga mekanisme evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan.
“Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya berhenti pada pembangunan aplikasi, penelitian ini menghasilkan pengetahuan desain yang bersifat preskriptif sehingga dapat diterapkan kembali pada institusi lain,” ungkap Kholid.
Dorong Transformasi Keputusan Berbasis Data
Kholid menyimpulkan bahwa investasi pada Inteligen Bisnis bukan sekadar investasi teknologi, melainkan investasi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di perguruan tinggi.
Dengan memanfaatkan data yang tepercaya, relevan, dan mudah dipahami, perguruan tinggi dapat beralih dari keputusan yang selama ini banyak mengandalkan intuisi menuju keputusan yang lebih objektif, akurat, dan akuntabel.
Meski penelitian dilakukan pada satu perguruan tinggi, lanjut Khalid, generalisasinya masih bersifat analitis.
“Saya berharap penelitian lanjutan dapat menguji prinsip-prinsip tersebut di berbagai institusi, sekaligus mengembangkan kemampuan predictive Business Intelligence dan mengevaluasi dampak implementasinya dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Ken).
