PROSA.ID, Yogyakarta – Kepergian Gandung Pardiman meninggalkan kesan mendalam bagi sejumlah tokoh politik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mereka mengenang almarhum sebagai politisi yang rendah hati, terbuka, serta mampu menjembatani hubungan antara politisi senior dan generasi muda.
Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, mengenang Gandung sebagai sosok yang tetap menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Di tengah kesibukannya menjalankan tugas di Jakarta, Gandung tetap menyempatkan diri menyapa rekan-rekannya di Kulon Progo.
Menurut Agung, Gandung menunjukkan perhatian kepada siapa pun yang berada di lingkaran pergaulannya.
Meski aktivitas politiknya banyak berlangsung di Jakarta, ia tidak melupakan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
“Setiap mau ke Jakarta, beliau juga menghubungi teman-teman di Kulon Progo untuk mengajak ngopi. Bahkan, hanya beberapa jam sebelum berangkat, beliau masih menyempatkan diri,” ujar Agung saat ditemui di RS Panti Rapih Yogyakarta, Selasa (27/10/2026).
Kebiasaan tersebut, menurut Agung, menunjukkan bahwa Gandung tetap menjaga kedekatan dengan lingkungan asalnya.
Ia juga menilai almarhum memiliki kemampuan membangun komunikasi yang baik dan menyerap aspirasi orang-orang yang berinteraksi dengannya.
Agung turut mengenang kemampuan Gandung dalam merangkul berbagai kalangan politik.
Almarhum mampu menjembatani hubungan antara politisi senior dan junior sehingga komunikasi di antara mereka berjalan dengan baik.
“Pak Gandung ini dikenal sebagai maestro yang bisa menghubungkan dan menyelaraskan politisi senior dengan junior. Semuanya bisa dikemas dengan enak,” katanya.
Ahmad Syauqi: Gandung Contoh Politisi yang Mengabdi kepada Masyarakat
Sementara itu, anggota DPD RI, Ahmad Syauqi Soeratno, mengaku bersyukur pernah mengenal Gandung dalam waktu yang cukup lama.
Baginya, almarhum memberikan teladan tentang bagaimana seorang politisi seharusnya menjalankan peran dan tanggung jawabnya.
Syauqi mengenang Gandung sebagai sosok yang menunjukkan bahwa politik bukan semata-mata soal kekuasaan, melainkan juga bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
“Saya bersyukur sempat mengenal cukup lama dengan beliau. Sejak awal, beliau menunjukkan kepada kita bahwa politik itu bagian dari pengabdian masyarakat,” ungkap Syauqi.
Ia menilai, keterbukaan menjadi salah satu karakter kuat Gandung.
Almarhum mampu membangun komunikasi tanpa menciptakan jarak, termasuk ketika berinteraksi dengan politisi yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda.
“Pak Gandung ini sangat terbuka, sangat egaliter. Dengan saya pribadi juga sangat baik,” katanya.
Syauqi juga mengaku beberapa kali berinteraksi dengan Gandung dalam berbagai perjalanan.
Pengalaman tersebut membuatnya mengenal almarhum bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga sebagai sosok yang mampu menjalin hubungan personal dengan baik.
Kepergian Gandung, menurut Syauqi, menjadi kehilangan bagi dunia politik, khususnya bagi DIY.
Ia berharap keteladanan almarhum dapat menginspirasi lahirnya politisi-politisi yang lebih baik dan mampu membawa nama Yogyakarta ke tingkat nasional.
“Sekali lagi, kita kehilangan sosok seperti Pak Gandung. Semoga suatu hari muncul politisi-politisi yang lebih baik dari Jogja di pentas nasional,” pungkasnya. (Ken).
