Home » 17 Taman Budaya Se-Indonesia Berkumpul di Jogja, Reuni 25 Tahun Bawa Karya dan Kisah Perjuangan Seniman Difabel

17 Taman Budaya Se-Indonesia Berkumpul di Jogja, Reuni 25 Tahun Bawa Karya dan Kisah Perjuangan Seniman Difabel

Konferensi pers Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV Tahun 2026 di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (21/9/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Yogyakarta kembali menjadi titik temu kebudayaan Nusantara. 

Sebanyak 17 Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia akan berkumpul dalam Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV Tahun 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), 28 September-1 Oktober 2026.

Mengusung tema ‘Gyaning Rasa Mantraning Nusantara’ dan slogan ‘Srawung Karya, Gulawenthah Budaya’, perhelatan ini tidak sekadar menghadirkan pentas seni. 

Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan, pengalaman, karya, sekaligus memperkuat jejaring antartaman budaya di Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, DianLakshmi Pratiwi mengatakan, penyelenggaraan tahun ini memiliki makna khusus. 

Persiapan telah dirajut sejak April 2026 hingga akhirnya mempertemukan kembali para pengelola dan pelaku seni budaya dari berbagai penjuru Indonesia.

“Dari total 26 Taman Budaya yang tersebar di Indonesia, sebanyak 17 Taman Budaya memastikan hadir memboyong seniman terbaik mereka. Bahkan, salah satu kontingen daerah rela memboyong hingga 80 orang rombongan,” ujar Dian di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (21/9/2026).

Reuni 25 Tahun, Yogyakarta Jadi Ruang Srawung

Dian menyebut, pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi ekosistem kebudayaan nasional. 

Menurut dia, perjumpaan antar taman budaya membuka ruang yang lebih luas untuk berbagi pengalaman dalam mengelola kebudayaan di daerah masing-masing.

“Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia jadi wadah pertemuan antartaman budaya dari berbagai provinsi di Indonesia untuk memperkuat jejaring, membuka ruang pertukaran karya dan gagasan, serta mendorong kolaborasi dalam pengembangan seni dan budaya,” katanya.

Dian menegaskan, Taman Budaya tidak cukup hanya menjadi tempat pertunjukan. 

Lembaga kebudayaan tersebut juga perlu menjadi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan praktik pengembangan ekosistem seni budaya.

“Melalui pertemuan ini, Taman Budaya tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga ruang dialog dan berbagi pengalaman dalam pengelolaan serta pengembangan ekosistem kebudayaan,” jelasnya.

Tema ‘Gyaning Rasa Mantraning Nusantara’ merefleksikan perjumpaan pengetahuan, rasa, dan kekuatan budaya Nusantara. 

Sementara slogan ‘Srawung Karya, Gulawenthah Budaya’ menegaskan semangat mempertemukan karya sekaligus merawat, mengembangkan, dan meregenerasikan kebudayaan melalui interaksi antardaerah.

17 Taman Budaya Bawa Karya Terbaik

Sebanyak 17 Taman Budaya akan mempresentasikan karya seni pertunjukan dari daerah masing-masing di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

Pertunjukan tersebut menjadi salah satu agenda utama Temu Karya. 

Namun, penyelenggara juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung yang membuka ruang interaksi lebih luas bagi masyarakat dan wisatawan.

Kepala TBY, Purwiati mengungkapkan, rangkaian kegiatan sengaja dirancang agar masyarakat tidak hanya datang untuk menonton pertunjukan utama.

“Selain pentas seni dari 17 Taman Budaya se-Indonesia, Temu Karya Taman Budaya juga dirangkai dengan sejumlah kegiatan pendukung yang membuka ruang interaksi seni dan budaya bagi masyarakat luas,” jelas Purwiati.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Suluh Sumurup Art Festival ‘Maneges’ pada 24 September-2 Oktober 2026. 

Pameran ini menghadirkan 193 karya dari 131 seniman difabel yang berasal dari 14 provinsi.

Sebanyak 13 komunitas, sanggar, dan sekolah turut terlibat. 

Enam Taman Budaya se-Indonesia juga ikut memperkuat penyelenggaraan pameran yang berlangsung di Galeri/Ruang Pameran Taman Budaya Yogyakarta.

Pameran tersebut menghadirkan ruang inklusif bagi seniman difabel untuk mengekspresikan karya sekaligus memperluas apresiasi publik terhadap keberagaman dalam ekosistem seni rupa.

Seniman Difabel Tembus Asap Karhutla Demi Karya

Kurator Suluh Sumurup Art Festival, BudiIrawanto mengungkapkan, sisi lain di balik pameran tersebut. 

Sejumlah seniman difabel dari Kalimantan menghadapi kendala berat untuk mengirimkan karya mereka ke Yogyakarta.

Asap dan kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah sempat menjadi hambatan logistik. 

Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan para seniman untuk mengirimkan karya.

Budi mengatakan, perjuangan itu justru memperkuat makna tema ‘Maneges’, yang mengajak manusia melakukan perenungan mendalam untuk menemukan kesadaran tentang dirinya.

“Tema Maneges yang diusung tahun ini seolah menjadi pemantik daya tahan jiwa para seniman. Kata ini menggambarkan proses perenungan mendalam untuk menemukan kesadaran sejati tentang siapa diri kita sebenarnya,” ujar Budi.

Menurut Budi, karya para seniman difabel tidak hanya menghadirkan bentuk dan warna. 

Karya tersebut juga merekam keteguhan hati dan harapan hidup.

“Melalui goresan warna dan bentuk, teman-teman disabilitas mengekspresikan keteguhan hati serta harapan hidup yang menginspirasi siapa pun yang menyaksikannya,” katanya.

Dari Orkestra hingga Membatik Bersama

Selain pameran, TBY menyiapkan PojokKreatif Taman Budaya pada 27 September-2 Oktober 2026. 

Agenda ini menghadirkan produk kreatif, kerajinan, cendera mata, kuliner, karya ekonomi kreatif, workshop seni, serta panggung kesenian.

Pada 28 September, Konser Musik Orkestra Taman Budaya Yogyakarta akan menjadi bagian pembukaan Temu Karya. 

Konser tersebut mempertemukan musisi, komponis, arranger, dan konduktor dalam sajian orkestra di Concert Hall TBY.

Konduktor Oni Krisnerwinto akan memimpin pertunjukan yang juga melibatkan anak-anak Vocal dari Bimbingan Seni Art for Children (AFC), Ndarboy, Tyoek Satrio, Princessa Alicia, Marcella Dee, Sanggar Kancil Art, serta maestro Didik Nini Thowok.

Sehari berikutnya, 29 September, TBY menghadirkan Gelar Karawitan ‘NdangTak Gong’ di Lobby Gedung Societeit Militaire. 

Grup Kidang Alit akan tampil dalam agenda penyambutan para kepala Taman Budaya se-Indonesia sekaligus ruang apresiasi terhadap tradisi karawitan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Aksi Membatik Bersama di atas kain sepanjang 25 meter pada 2 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Batik Nasional.

Anak-anak Bimbingan Seni Art for Children TBY bersama masyarakat umum akan terlibat dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari edukasi dan apresiasi terhadap batik sebagai warisan budaya.

Temu Karya Jadi Ruang Kolaborasi Kebudayaan

Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV juga diramaikan agenda ThursdayNight Run pada 24 September. Komunitas Playon Jogja bersama perwakilan OPD Pemerintah Daerah DIY akan mengikuti kegiatan tersebut.

Keseluruhan rangkaian itu memperlihatkan bahwa Temu Karya tidak berhenti pada pertunjukan seni. 

Forum tersebut mempertemukan pelaku budaya, pengelola Taman Budaya, seniman, komunitas, hingga masyarakat dalam satu ruang interaksi.

Yogyakarta pun menjadi titik temu berbagai pengalaman kebudayaan dari daerah-daerah di Indonesia. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *