PROSA.ID, Yogyakarta – Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama Pemerintah Daerah DIY memperingati World Clubfoot Day 2026 dengan menggelar wisuda bagi 10 anak penyandang clubfoot (Congenital Talipes Equinovarus/CTEV) yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian terapi metode Ponseti.
Kegiatan yang mengusung tema “See Early, Treat Early, Run Free” ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dan penanganan dini clubfoot.
Acara berlangsung di Yogyakarta, Sabtu (7/6/2026), dihadiri pemerintah daerah, tenaga kesehatan, akademisi, serta 18 anak penyandang clubfoot bersama 36 orang tua dan pendamping.
10 Anak Lulus Terapi, Kini Bisa Berjalan dan Bermain Normal
Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Program Peningkatan Layanan Clubfoot dengan dukungan MiracleFeet memberikan apresiasi kepada 10 anak yang dinyatakan lulus terapi setelah menjalani seluruh protokol medis metode Ponseti.
Metode tersebut mencakup pemasangan gips bertahap, tindakan tenotomi, hingga penggunaan sepatu koreksi (brace) selama beberapa tahun untuk mencegah kekambuhan.
Salah satu orang tua penerima manfaat, Widyaningsih, warga Sedayu, Bantul, mengaku bersyukur melihat perkembangan putrinya, Alesha Satria Aviora.
“Saya merasakan perubahan besar pada anak saya setelah menjalani terapi gips, tenotomi, dan penggunaan brace selama hampir empat tahun. Sekarang ia bisa berjalan dan beraktivitas seperti anak-anak lainnya,” ujarnya.
125 Anak Jalani Perawatan Clubfoot di DIY
Project Manager Program Penanganan Clubfoot Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Debi Pranungsari menjelaskan, program penanganan clubfoot di DIY telah berjalan sejak 2021.
Hingga saat ini, sebanyak 125 anak mengikuti program perawatan. Dari jumlah tersebut, 23 anak telah mencapai kategori good treatment outcome atau berhasil menyelesaikan terapi dengan hasil yang sangat baik.
“Anak-anak yang sebelumnya mengalami clubfoot kini dapat berjalan, berlari, bermain, hingga bersekolah seperti anak-anak lainnya. Banyak yang bahkan tidak terlihat pernah mengalami kelainan kaki saat lahir,” kata Debi.
Orang Tua Jadi Penentu Keberhasilan Terapi
Debi menegaskan, keberhasilan terapi clubfoot sangat bergantung pada kedisiplinan orang tua dalam mendampingi anak menggunakan sepatu koreksi.
Pada fase awal terapi, anak harus mengenakan brace hingga 23 jam per hari. Setelah kondisi membaik, durasi penggunaan dikurangi secara bertahap hingga hanya digunakan saat tidur.
Menurutnya, banyak kasus kekambuhan terjadi karena penggunaan brace tidak dilakukan secara konsisten.
“Lebih baik anak menangis sekarang karena memakai sepatu koreksi daripada menangis di masa depan karena harus mengulang terapi dari awal,” jelasnya.
Clubfoot Bisa Dideteksi Sejak Dalam Kandungan
Debi mengungkapkan, clubfoot merupakan kelainan bawaan yang menyerang sekitar satu dari 800 kelahiran.
Hingga kini, penyebab pastinya belum diketahui secara ilmiah. Meski demikian, kondisi tersebut sudah dapat dideteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan USG.
“Semakin cepat ditangani setelah lahir, semakin baik hasil terapinya. Idealnya penanganan dimulai saat bayi masih berusia beberapa hari,” paparnya.
BPJS Belum Menanggung Sepatu Koreksi
Debi mengungkapkan, BPJS telah membantu pembiayaan tindakan medis seperti operasi dan layanan kesehatan lainnya.
Namun hingga saat ini, alat bantu berupa sepatu koreksi belum masuk dalam skema pembiayaan BPJS.
YAKKUM terus mendorong agar alat bantu tersebut dapat ditanggung pemerintah sehingga lebih banyak anak penyandang clubfoot memperoleh akses terapi yang berkelanjutan.
“YAKKUM juga menyediakan sepatu koreksi secara gratis melalui dukungan MiracleFeet. Orang tua dapat menukar sepatu ketika ukuran kaki anak bertambah selama masa terapi,” ungkapnya.
Jamkesos DIY Perluas Akses Layanan Kesehatan
Kepala Seksi Kepesertaan dan Pengembangan Jaminan Kesehatan Sosial Balai Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial DIY, Inaryaka menegaskan komitmen pemerintah daerah memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat miskin, rentan miskin, dan penyandang disabilitas.
Menurutnya, Program Jaminan Kesehatan Terpadu (Jamkesos) berfungsi sebagai penyangga bagi kebutuhan layanan kesehatan yang belum dapat dibiayai BPJS Kesehatan.
“Dinas Kesehatan DIY melalui Balai Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial terus memperluas akses pelayanan kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Terpadu, layanan puskesmas, rumah sakit, hingga dukungan alat bantu dan rehabilitasi bersama mitra seperti YAKKUM,” imbuhnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang belum memiliki BPJS atau memiliki kepesertaan nonaktif tetap berpeluang mendapatkan bantuan setelah melalui proses verifikasi.
Kolaborasi Wujudkan Target Run Free 2030
Koordinator Program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Christian Pramudya menilai, keberhasilan anak penyandang clubfoot tidak hanya ditentukan oleh layanan medis, tetapi juga dukungan keluarga.
“Dukungan orang tua menjadi faktor paling penting. Alat bantu, layanan kesehatan, dan program pemerintah sangat membantu, tetapi keberhasilan anak untuk berjalan dan berlari tetap membutuhkan komitmen keluarga,” katanya.
Sementara dokter ortopedi RSUD Sleman sekaligus Wakil Perkumpulan Ahli Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI) DIY, Risa Dumastoro menjelaskan program Good Feet at Four dikembangkan untuk memastikan anak mendapatkan pemantauan hingga usia empat tahun guna mencegah kekambuhan.
“Melalui kolaborasi antara YAKKUM, MiracleFeet, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, tenaga medis, dan keluarga, DIY terus memperkuat layanan penanganan clubfoot yang inklusif,” paparnya. (Ken).
