PROSA.ID, Yogyakarta — El Nino 2026 berpotensi membawa cuaca lebih kering ke sejumlah wilayah Indonesia.
Pakar Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Sumarsono mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kekeringan, kebakaran, gangguan kesehatan, hingga potensi krisis air.
Dosen Teknik Geofisika UPN ‘Veteran’ Yogyakarta tersebut menjelaskan, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur mengalami peningkatan.
Fenomena tersebut kemudian memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.
“Di kawasan Amerika Latin seperti Peru justru akan muncul hujan di atas rata-rata normal. Sedangkan di bagian timur, seperti Indonesia, pengaruhnya adalah musim kering dan berkurangnya curah hujan,” jelasnya, Senin (31/8/2026).
El Nino Diprediksi Berdampak Lebih Luas
Suharsono menyebut, analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino tahun ini mencapai intensitas kuat dan berlangsung hingga kuartal pertama 2027.
Sekitar 70 persen wilayah Indonesia diperkirakan terdampak fenomena tersebut.
Angka itu lebih luas dibandingkan dampak El Nino 2023 yang mencapai sekitar 63 persen wilayah Indonesia.
Meski demikian, Suharsono menegaskan dampak El Nino tidak akan terasa secara merata.
Sejumlah wilayah di utara garis ekuator masih berpeluang mengalami hujan, meskipun curahnya berada di bawah rata-rata.
“Sedangkan wilayah di selatan garis ekuator, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, diprediksi berpotensi mengalami dampak lebih kering,” paparnya.
Jawa hingga Nusa Tenggara Perlu Waspada
Kondisi itu membuat masyarakat di wilayah selatan Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan.
Selain kekeringan, cuaca panas dan kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran serta persoalan kesehatan.
Suharsono meminta masyarakat tidak menyikapi El Nino dengan kepanikan.
Ia menilai, masyarakat dapat mengurangi risiko dengan menerapkan sejumlah langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
1. Hindari Aktivitas yang Memicu Kebakaran
Masyarakat perlu menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah secara sembarangan.
Cuaca yang lebih panas dan kering dapat membuat material mudah terbakar. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan.
2. Hemat Air dan Perkuat Distribusi
Efisiensi penggunaan air menjadi langkah penting menghadapi potensi kekeringan.
Suharsono mengatakan, kondisi hidrogeologi Yogyakarta memiliki tingkat ketersediaan air tanah yang berbeda-beda.
Wilayah utara, seperti Sleman, memiliki pasokan air yang relatif besar.
Sebaliknya, sejumlah wilayah lain memiliki ketersediaan air lebih terbatas, termasuk Gunungkidul yang memiliki karakter kawasan karst.
“Daerah yang masih memiliki pasokan air berlebih, seperti Sleman, dapat berbagi dengan daerah yang kekurangan air, seperti Gunungkidul. Dengan demikian, kita dapat berbagi sekaligus memanfaatkan air secara efisien,” imbuhnya.
Suharsono menjelaskan, dalam menghadapi El Nino 2026 membutuhkan distribusi dan subsidi air dari wilayah yang memiliki pasokan lebih besar menuju wilayah yang mengalami kekurangan.
3. Jaga Kesehatan dan Cukupi Air Minum
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan selama cuaca panas dan kering.
Suharsono mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengantisipasi potensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak.
Selain itu, masyarakat perlu mencukupi konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi akibat peningkatan suhu dan cuaca panas.
Pakar UPN Jogja Minta Masyarakat Tidak Panik
Suharsono menambahkan, El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi secara berulang.
Karena itu, masyarakat tidak perlu menghadapi fenomena tersebut dengan kekhawatiran berlebihan.
Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal sambil meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, kebakaran, kekurangan air, dan gangguan kesehatan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Kita dapat menghadapi setiap perubahan atau gangguan alam dengan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, disertai kewaspadaan terhadap potensi dampaknya,” pungkasnya. (Ken).
