PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas ’Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menyiapkan donasi Rp20 juta untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penyandang disabilitas.
Melalui Unisa Festival 2026, kampus ini juga mengajak mahasiswa dan masyarakat mengumpulkan botol plastik bekas untuk mendukung beasiswa mahasiswa.
Unisa Yogyakarta menggelar festival tersebut di Kampus Terpadu pada Jumat-Sabtu, 9-10 Oktober 2026.
Mengusung tema Melampah Sesarengan, Unisa Fest 2026 menghadirkan berbagai kegiatan sosial, pemberdayaan UMKM, diseminasi hasil riset, dan aksi peduli lingkungan dalam rangka memperingati usia ke-34 kampus.
Unisa Siapkan Donasi Rp20 Juta untuk UMKM Disabilitas
Wakil Rektor IV Unisa Yogyakarta, Ali Imron mengatakan, kampus terus memperluas kontribusinya kepada masyarakat melalui program pemberdayaan ekonomi dan kegiatan sosial.
Ia menjelaskan, Unisa Yogyakarta membina sejumlah UMKM melalui Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora, terutama Program Studi Manajemen.
“Kampus juga memberi kesempatan kepada pelaku UMKM penyandang disabilitas untuk mempromosikan produk mereka melalui Pasar Rakyat dalam Unisa Fest 2026,” katanya di sela acara, Sabtu (10/10/2026).
Imron menegaskan, kampus mengarahkan bantuan kepada pelaku usaha disabilitas untuk memperkuat modal, bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi.
“UMKM yang disabilitas ini bukan untuk diberikan bantuan atau konsumsi, tetapi mereka memang sudah memiliki usaha, sehingga sumbangan yang kita berikan itu dapat menambah modal mereka,” ujarnya.
Unisa Yogyakarta menyiapkan total donasi Rp20 juta dari kegiatan amal atau charity serta dukungan kampus.
Dana tersebut diharapkan membantu para pelaku usaha mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnis mereka.
Selain itu, Unisa menghadirkan 20 tenant UMKM dalam Pasar Rakyat.
Para peserta mencakup pelaku usaha dari lingkungan sekitar kampus dan penyandang disabilitas.
“Melalui kegiatan ini, Unisa membuka ruang promosi bagi pelaku UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kampus,” ungkap Imron.
Perkuat Gerakan Green Campus
Imron menyampaikan, kampus terus mendorong penerapan konsep Green Campus melalui prinsip 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).
Guna menjalankan program tersebut, kampus menggandeng Lazismu dan mitra yang bergerak di bidang pengelolaan sampah plastik.
“Kolaborasi ini membantu mahasiswa mengubah botol bekas menjadi sumber pendanaan sosial sekaligus mengurangi sampah yang berakhir di lingkungan,” paparnya.
Melalui Unisa Fest 2026, lanjut Imron, kampus menggabungkan pemberdayaan UMKM disabilitas, dukungan pendidikan, dan kepedulian lingkungan dalam satu rangkaian kegiatan.
Ia berharap mahasiswa dan masyarakat semakin aktif memilah sampah serta mengembangkan kebiasaan mengelola limbah secara bertanggung jawab.
“Kampus juga ingin memperluas manfaat program tersebut agar semakin banyak mahasiswa dan pelaku usaha yang memperoleh dukungan,” ungkap Imron.
Jual Botol Plastik Bekas untuk Membiayai Beasiswa
Unisa Yogyakarta juga menghubungkan pengelolaan sampah plastik dengan dukungan pendidikan mahasiswa.
Melalui program Mahasiswa Sadar Infak Sedekah (Madaris) bersama Lazismu Unisa Yogyakarta, mahasiswa mengumpulkan botol plastik bekas, memilahnya, lalu menjualnya kepada pengepul.
Pembina Madaris sekaligus Manajer Eksekutif Lazismu Unisa Yogyakarta, Andis menjelaskan, program tersebut telah berjalan sejak 2024.
Ia mengungkapkan, mahasiswa memisahkan botol berdasarkan jenis dan warna, kemudian melepaskan tutup serta label merek sebelum menjualnya.
Pengelola selanjutnya menghimpun hasil penjualan untuk mendukung program beasiswa mahasiswa.
“Tujuan kita sebenarnya ingin menyosialisasikan kepada mahasiswa bahwa infak yang kalian berikan ke Lazismu, ke Madaris itu akan kembali ke mahasiswa itu sendiri dalam bentuk program beasiswa,” jelas Andis.
Lazismu Unisa Yogyakarta mengelola hasil penjualan botol plastik bersama dana infak mahasiswa, termasuk infak rutin Senin-Kamis.
Kata Andis, dana tersebut menopang beasiswa living cost berupa bantuan sembako setiap bulan dan beasiswa Serdadu yang dibuka setiap awal semester.
“Setiap penerima memperoleh bantuan Rp1,5 juta per semester. Hingga kini, sekitar 90 mahasiswa telah merasakan manfaat program beasiswa yang mengandalkan hasil penjualan botol bekas dan dana infak tersebut,” tuturnya.
Selain membiayai beasiswa, pengelola juga menggunakan dana infak untuk membantu mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah atau membutuhkan biaya pengobatan.
Ajak Pengunjung Kumpulkan 1.500 Botol Plastik
Unisa Fest 2026 menjadi momentum bagi kampus untuk memperluas gerakan pengumpulan sampah plastik.
Kampus mengajak setiap pengunjung membawa minimal tiga botol plastik bekas yang sudah dibersihkan untuk diserahkan kepada Madaris.
Andis memperkirakan pengunjung telah menyumbangkan sekitar 1.500 botol plastik selama festival.
“Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena panitia terus menerima botol hingga sore hari,” imbuh Andis.
Andis menilai, program ini tidak hanya menghasilkan dana untuk beasiswa, tetapi juga mengajak masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah.
Pada awal program, mahasiswa masih menemukan botol plastik yang bercampur dengan berbagai jenis sampah.
Namun, sosialisasi rutin mulai mendorong masyarakat memisahkan botol plastik sebelum membuang sampah.
“Tujuan kita ingin mengajak teman-teman mahasiswa, ayo peduli lingkungan. Kita sama-sama pilah botol kita sendiri dan ayo kita kelola dengan baik, barangkali ke depannya bisa lebih bermanfaat buat teman yang lain,” pungkas Andis. (Ken).
