Home » UMY Terjunkan 1.817 Mahasiswa KKN ke Papua hingga Kairo, Hadirkan Skema Baru Berbasis Sekolah dan Lingkungan

UMY Terjunkan 1.817 Mahasiswa KKN ke Papua hingga Kairo, Hadirkan Skema Baru Berbasis Sekolah dan Lingkungan

Pelepasan mahasiswa KKN UMY Semester Genap TA 2025/2026, Selasa (28/7/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menerjunkan sebanyak 1.817 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode Juli 2026.

Para peserta disebar ke berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri dengan skema pengabdian yang lebih beragam dan kolaboratif.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan UMY, Faris Al-Fadhat mengatakan, mahasiswa KKN tahun ini ditempatkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Papua sebagai lokasi terjauh.

Selain itu, UMY juga mengirim mahasiswa ke luar negeri, yakni Kairo, Malaysia, serta menjalin kolaborasi dengan mitra di Singapura dan Jepang.

“Alhamdulillah pada bulan Juli ini kita menerjunkan 1.817 mahasiswa. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia hingga ke luar negeri seperti Kairo dan Malaysia. Kami juga bekerja sama dengan Singapura dan Jepang,” katanya usai melepas mahasiswa peserta KKN di UMY, Selasa (28/7/2026).

Hadirkan Skema Baru Berbasis Sekolah dan Lingkungan

Faris menjelaskan, KKN tahun ini memiliki sejumlah pembaruan.

Terutama, pada variasi skema pengabdian yang dirancang agar memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.

Jika sebelumnya mayoritas mahasiswa ditempatkan di desa, kini UMY menambah skema pengabdian di sekolah-sekolah, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), pemerintah desa, wilayah 3T, hingga program tematik berbasis lingkungan.

Tema-tema yang diusung meliputi pelestarian sungai, lingkungan hidup, serta KKN Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat di lokasi penempatan.

“Variasi skemanya lebih banyak. Kami juga memperluas kerja sama dengan berbagai institusi, termasuk kampus di luar negeri,” ujarnya.

Libatkan 90 Dosen Pembimbing Lapangan

Faris menjelaskan, sebanyak 90 dosen pembimbing lapangan (DPL) mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN.

Ia menyebut, para DPL berasal dari berbagai disiplin ilmu sehingga mampu memberikan pendampingan sesuai kebutuhan program di lapangan.

Faris menegaskan, kehadiran DPL bukan hanya mengawasi mahasiswa, tetapi juga memastikan komunikasi dengan masyarakat berjalan baik dan proses pembelajaran berlangsung optimal.

“KKN bukan mahasiswa mengajar masyarakat, tetapi mahasiswa belajar bersama masyarakat sekaligus memberi dampak. Karena itu peran pembimbing sangat penting untuk mengarahkan dan menjaga komunikasi,” jelasnya.

Mahasiswa Diminta Rendah Hati

Dalam pembekalan, Faris berpesan agar mahasiswa tidak datang ke masyarakat dengan merasa paling pintar.

Faris menekankan bahwa KKN merupakan proses belajar yang menjadi bekal sebelum mahasiswa benar-benar menyelesaikan studi dan terjun ke dunia kerja maupun masyarakat.

“Datanglah dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati. Jangan merasa mengajari masyarakat. Belajarlah dari mereka, pahami persoalan yang ada, lalu cari solusi bersama,” ungkapnya.

Mahasiswa KKN Luar Negeri Ditempatkan di Sekolah hingga KBRI

Untuk penempatan luar negeri, mahasiswa UMY akan menjalankan pengabdian di berbagai institusi yang menjadi mitra kampus.

Di Mesir, mahasiswa ditempatkan di Sekolah Indonesia Kairo, masyarakat diaspora Indonesia, Pimpinan Cabang Muhammadiyah, hingga TK ABA di Kairo.

Sementara mahasiswa dari Program Studi Hubungan Internasional juga memperoleh pengalaman belajar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) maupun kantor konsulat sebagai bagian dari pembelajaran diplomasi.

Mahasiswa Jalani KKN Selama Dua Bulan

Kepala Subdirektorat Pengabdian Mahasiswa di Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRP) UMY, Al-Afik menambahkan, seluruh peserta KKN, baik di dalam maupun luar negeri, menjalani program selama dua bulan.

Rentang waktu tersebut guna memenuhi Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU) sebanyak 3 SKS.

“Satu bulan pertama digunakan untuk observasi secara hibrid, sedangkan satu bulan berikutnya dilaksanakan secara penuh di lokasi pengabdian,” pungkasnya. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *