Home » Suhu Ekstrem Ancam Panen, Pakar UMY: Padi dan Jagung Paling Rentan

Suhu Ekstrem Ancam Panen, Pakar UMY: Padi dan Jagung Paling Rentan

Ilustrasi petani gagal panen akibat cuaca ekstrem. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Kenaikan suhu di atas normal pada periode pancaroba April 2026 mulai mengancam sektor pertanian nasional.

Komoditas strategis seperti padi dan jagung disebut paling rentan mengalami penurunan produktivitas akibat stres panas yang mengganggu proses pertumbuhan tanaman.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Oki Wijaya, mengungkapkan suhu tinggi berdampak langsung pada proses biologis tanaman, terutama saat fase reproduktif.

“Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu. Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, mempercepat stres tanaman, serta mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Oki menjelaskan, setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global dapat menurunkan hasil padi hingga 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen.

Menurutnya, kondisi panas yang terjadi saat ini bukan fenomena sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan глобal yang terus meningkat.

“Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, tetapi bagian dari tren pemanasan yang lebih luas,” tegasnya.

Fase Kritis Tanaman Jadi Titik Rawan

Padi dan jagung menjadi komoditas paling terdampak karena saat ini banyak tanaman berada pada fase paling sensitif.

Pada padi, suhu tinggi saat pembungaan dan pengisian gabah dapat menyebabkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak terbentuk sempurna. Sementara jagung sangat sensitif pada fase tasseling, silking, hingga awal pengisian biji.

Selain itu, tanaman hortikultura seperti cabai dan tomat juga menghadapi risiko serius. Suhu tinggi dapat menurunkan keberhasilan pembentukan buah serta kualitas hasil panen.

“Komoditas perkebunan seperti kopi, terutama di dataran tinggi, juga mulai terancam akibat perubahan suhu yang tidak stabil,” ungkapnya.

Dampak Sudah Mulai Terlihat di Lapangan

Oki menyebut gejala dampak suhu ekstrem sudah mulai muncul di lapangan, meski belum selalu tercatat sebagai gagal panen.

Beberapa indikasi awal antara lain:

* Tanaman cepat layu pada siang hari
* Gangguan pembungaan
* Penurunan kualitas hasil

“Penurunan kualitas bisa terjadi sebelum tercatat sebagai penurunan produksi wilayah. Perlu verifikasi lapangan untuk memastikan skala dampaknya,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa suhu tinggi akan semakin berbahaya jika disertai kekurangan air, terutama pada masa pancaroba dengan curah hujan yang menurun.

“Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Dampaknya jauh lebih berat bagi tanaman,” imbuhnya.

Solusi: Atur Pola Tanam hingga Gunakan Varietas Tahan Panas

Sebagai langkah mitigasi, petani disarankan untuk:
• Menyesuaikan waktu tanam
• Meningkatkan efisiensi penggunaan air
• Memprioritaskan perlindungan fase berbunga
• Menggunakan varietas tahan panas

“Selain itu, pemerintah didorong untuk memperkuat sistem informasi cuaca, menyediakan benih adaptif, serta meningkatkan infrastruktur irigasi guna menjaga ketahanan pangan nasional,” ungkapnya. (Icha).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *