Home » Seniman Perempuan Bongkar Bahaya AI Slop di BWP #34

Seniman Perempuan Bongkar Bahaya AI Slop di BWP #34

Pameran Broken White #34 bertajuk De Composed Bodies di Langgeng Art Space, Jum'at (23/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Internet pernah menjadi ruang bagi perempuan untuk membangun identitas, menciptakan cerita, dan merebut kendali atas representasi diri. 

Namun, kemunculan konten berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diproduksi secara massal mulai mengubah ruang tersebut.

Persoalan itu menjadi salah satu gagasan utama dalam pameran seni yang mengangkat tema post internet. 

Melalui karya ilustrasi, desain, dan instalasi audiovisual, para seniman perempuan mengajak pengunjung mempertanyakan siapa yang menciptakan konten digital, bagaimana konten tersebut memengaruhi imajinasi, dan siapa yang bertanggung jawab atas dampaknya.

Pameran Broken White Project #34 yang bertajuk De Composed Bodies, berlangsung di Langgeng Art Space pada 23 Oktober – 27 November 2026.

Penulis pameran, Liza Markus melihat fenomena AI slop sebagai tantangan terhadap tradisi kreatif yang tumbuh di internet. 

Istilah tersebut merujuk pada konten berbasis AI yang diproduksi secara masif, sering kali dengan formula berulang untuk menarik perhatian dan membuat pengguna terus menonton.

Alih-alih mendefinisikan post internet sebagai sebuah istilah, Liza mengarahkan pembahasan pada perubahan pengalaman manusia ketika menggunakan internet.

“Kenapa dia menjadi post? Karena kebiasaan itu, kebiasaan untuk membuat versi lebih cocok dari media yang ada, sekarang itu dikooptasi oleh AI slop,” ujar Liza di sela pameran, Jum’at (23/10/2026). 

Fan Fiction Menjadi Ruang Perlawanan Perempuan

Liza menjelaskan, komunitas penggemar atau fandom telah lama menjadi ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kreativitas. 

Mereka mengambil karakter dari film, serial, atau karya populer, kemudian menciptakan cerita baru melalui praktik fan fiction. Tradisi tersebut bahkan telah berkembang sejak sebelum internet modern. 

Liza mencontohkan, penggemar perempuan serial Star Trek pada 1960-an yang membuat dan bertukar zine berisi cerita alternatif. 

“Mereka mengembangkan narasi sendiri ketika media arus utama belum banyak memberi ruang bagi perspektif perempuan,” jelasnya. 

Memasuki era Web 1.0, komunitas penggemar juga mendorong perempuan mempelajari keterampilan teknologi. 

Komunitas tersebut merawat arsip, mengelola situs, memelihara server, hingga mempelajari pemrograman demi mempertahankan komunitas dan budaya yang mereka bangun.

Bagi Liza, praktik tersebut menunjukkan bahwa internet bukan sekadar tempat mengonsumsi informasi. Internet juga membuka kesempatan bagi perempuan untuk menjadi pencipta.

Namun, perkembangan konten AI menghadirkan persoalan baru. Mesin dapat menghasilkan cerita dan gambar yang menyerupai karya populer tanpa memperlihatkan secara jelas siapa pembuatnya.

“Internet dengan AI slop adalah internet tanpa pengarang. Karena pengarangnya media itu udah kita nggak tahu siapa,” katanya.

Liza menilai, pola tersebut berbeda dari tradisi fan fiction yang memungkinkan komunitas membangun hubungan, saling menanggapi, dan mengembangkan karya berdasarkan pengalaman serta subjektivitas mereka sendiri.

Ia juga menyoroti perbedaan cara konten digital memengaruhi perempuan dan laki-laki. 

Menurutnya, konten yang menyasar perempuan kerap memanfaatkan cerita emosional dan fantasi untuk membuat pengguna terus terlibat, sedangkan propaganda digital yang menyasar laki-laki dapat menggunakan pendekatan berbeda.

“Pameran ini berupaya memperlihatkan bagaimana perempuan membangun daya tawar melalui internet sekaligus menghadapi risiko ketika ruang kreatif tersebut dipenuhi konten yang diproduksi tanpa identitas pengarang yang jelas,” ungkapnya. 

Putri Larasati Ubah Malaikat Menjadi Karakter Anime

Seniman Putri Larasati atau P. L. menerjemahkan gagasan tersebut melalui karakter Serachan dalam karya Kacapatri. 

Ia berangkat dari praktik ilustrasi yang dekat dengan anime, manga, dan budaya fandom.

Putri menjelaskan, penggemar kerap mengambil karakter yang sudah dikenal, kemudian mengolahnya menjadi karakter baru. 

Proses itu memungkinkan mereka menambahkan perspektif personal ke dalam cerita yang sebelumnya telah memiliki pengarang.

Pada pameran ini, Putri mengembangkan gagasan serupa dengan mengambil inspirasi dari figur serafim dalam tradisi biblikal. 

Ia kemudian mengolahnya menggunakan pendekatan karakter anime yang lebih imut dan mudah didekati.

Ketertarikannya terhadap tema tersebut juga berkaitan dengan pengalaman mengenal tradisi Kristen dalam keluarganya. 

Putri, yang beragama Islam, mulai mempelajari Alkitab dan tertarik pada cara figur-figur biblikal direpresentasikan dalam berbagai kebudayaan.

Ia kemudian mempertanyakan bagaimana karakter malaikat dapat ditafsirkan ulang melalui bahasa visual budaya populer.

“Kalau bentukannya biblically correct angel kan serem ya. Jadi sebenarnya biasanya kayak gitu dibikin versi gijinka-nya,” ujar Putri.

Gijinka merupakan praktik mengubah sesuatu yang bukan manusia menjadi karakter manusia. 

Dalam karya Putri, pendekatan tersebut melahirkan Serachan, karakter perempuan dengan penampilan imut yang mengingatkan pada e-girl atau virtual YouTuber (VTuber).

Melalui karakter itu, Putri memperlihatkan bagaimana seniman dan komunitas penggemar dapat mengolah ulang simbol yang telah dikenal menjadi representasi baru. 

Meme, anime, dan cerita populer menjadi bahan untuk membangun interpretasi yang lebih personal.

“Bagi saya, proses tersebut memperlihatkan sisi kreatif internet: pengguna tidak hanya menerima representasi yang sudah tersedia, tetapi juga dapat mengubahnya sesuai imajinasi mereka,” paparnya. 

Riskya Duavania Ajak Pengunjung Menginterogasi Polisi AI

Jika Putri mengeksplorasi karakter dan budaya fandom, Riskya Duavania mengajak pengunjung berhadapan langsung dengan persoalan otoritas dan kepercayaan terhadap AI.

Karya Riskya menghadirkan cermin besar, dua kursi, serta dua benda berbentuk pistol yang berfungsi sebagai perangkat audio. 

Pengunjung dapat duduk dan mendengarkan percakapan antara seniman dan sosok polisi fiktif berbasis AI yang muncul melalui layar.

Sebagai pembuat film dokumenter, Riskya biasanya berangkat dari pertanyaan dan proses wawancara. 

“Pendekatan ini saya pertahankan dalam karya ini, meski lawan bicaranya merupakan figur fiktif,” tandasnya. 

Ia mengembangkan percakapan seputar identitas polisi, visi dan misi, penanganan kasus, hingga kemungkinan AI mengambil peran dalam sistem penegakan hukum.

Melalui dialog itu, Riskya ingin mengajak pengunjung mempertanyakan penggunaan AI yang semakin luas, terutama ketika teknologi tersebut berpotensi memengaruhi keputusan di dunia nyata.

“Penginnya ya itu sih, hanya memantik kesadaran mereka,” tegasnya.

Riskya juga menyoroti cara konten AI memanfaatkan cerita emosional, kejutan, dan alur yang sengaja dibuat menggantung untuk mempertahankan perhatian pengguna. 

Konten semacam itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari cerita pendek di media sosial hingga video dengan karakter yang tidak masuk akal.

Ia menilai, pengguna berisiko menormalisasi konten tersebut karena terus-menerus terpapar tanpa sempat mempertanyakan asal-usul dan tujuan pembuatannya.

Ia bahkan mengkhawatirkan penonton yang belum terbiasa membedakan konten buatan manusia dan mesin. 

“Tanpa sikap kritis, pengguna bisa menerima gambar atau cerita hasil AI sebagai sesuatu yang autentik,” imbuhnya. 

Riskya juga menghubungkan persoalan AI dengan kebiasaan sehari-hari dalam memberikan persetujuan digital, termasuk ketika pengguna menerima ketentuan layanan atau menyerahkan data kepada platform.

Benda berbentuk pistol dalam karyanya berfungsi sebagai perangkat pendengar sekaligus simbol untuk mempertanyakan relasi kepercayaan dan kekuasaan. 

Pengunjung juga dapat memilih untuk tidak menggunakan perangkat tersebut dan membaca transkrip percakapan.

Riskya tidak bermaksud memberikan jawaban final tentang penggunaan AI. 

“Saya ingin pengunjung mulai mempertanyakan konten yang mereka konsumsi, pihak yang memproduksinya, serta konsekuensi ketika teknologi tersebut memperoleh kewenangan yang lebih besar,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *