PROSA.ID, Yogyakarta – Seniman Danang Catur mengajak publik membaca ulang relasi manusia dengan teknologi melalui pameran bertajuk ‘Semua Bisa Jadi Macan’.
Lewat bahasa visual propaganda yang dipadukan dengan fenomena media sosial, pameran yang digelar di On The Pop Yogyakarta, menghadirkan kritik terhadap dominasi algoritma.
Karya Danang ini sekaligus menegaskan optimisme, manusia tetap memiliki ruang kebebasan di tengah derasnya arus digital.
Pameran tersebut mengangkat perubahan besar dalam kehidupan modern.
Jika pada abad ke-20 propaganda negara membentuk cara masyarakat memandang dunia, kini peran tersebut bergeser kepada algoritma
Algoritma, sistem yang bekerja tanpa wajah, tanpa pidato, namun mampu mengatur perhatian, preferensi, hingga perilaku manusia.
Algoritma Menjadi Penguasa Baru Perhatian
Melalui karya-karyanya, Danang menghidupkan kembali estetika poster propaganda klasik.
Pada karyanya, ia mengusung warna merah menyala, figur heroik, komposisi monumental, dan teknik sablon yang identik dengan seni rakyat.
Namun, bahasa visual itu tidak lagi berbicara tentang pertarungan ideologi.
Kali ini, ia berbicara tentang kehidupan masyarakat digital yang semakin dipengaruhi sistem rekomendasi dan media sosial.
Dalam pandangan yang melatarbelakangi pameran ini, algoritma tidak lagi memerintah secara langsung sebagaimana propaganda masa lalu.
“Algoritma bekerja lebih halus dengan mengarahkan perhatian, menentukan apa yang muncul di layar, sekaligus memengaruhi pilihan, emosi, dan perilaku pengguna,” kata Danang, Jumat (26/6/2026).
‘Semua Bisa Jadi Macan’ Menggambarkan Perebutan Visibilitas

Artsita pinandita, pegiat musik dan senirupa mengungkapkan, salah satu karya utama, ‘Semua Bisa Jadi Macan’, menampilkan sekelompok orang yang mengangkat telepon genggam menghadap seekor macan raksasa.
Karya tersebut menyampaikan optimisme, setiap orang kini memiliki kesempatan untuk berbicara, tampil, dan dikenal melalui ruang digital.
Namun di balik optimisme itu, Danang menghadirkan pertanyaan kritis.
Sebenarnya, siapa yang menentukan seseorang terlihat atau tenggelam di tengah banjir informasi.
“Macan menjadi simbol keberanian sekaligus metafora atas perhatian publik yang kini diperebutkan jutaan orang setiap hari,” ungkapnya.
Teknologi Bukan Musuh Manusia
Artsita menyebut, berbeda dengan kritik teknologi yang cenderung pesimistis, Danang memilih tetap menempatkan manusia sebagai subjek yang aktif.
Ia memandang, manusia bukan korban pasif algoritma, melainkan individu yang terus bernegosiasi dengan perubahan zaman.
Pandangan tersebut juga muncul dalam karya Netizen.
Karya itu memperlihatkan tangan-tangan mengangkat telepon genggam menyerupai massa revolusioner dalam poster propaganda klasik.
“Jika dahulu figur pemimpin menjadi pusat perhatian, kini perangkat digital justru tampil sebagai simbol utama kehidupan modern,” jelasnya.
Gagasan Danang itu, sejalan dengan pandangan pakar media Marshall McLuhan yang menyebut teknologi sebagai perpanjangan tubuh manusia.
Ledakan Informasi Menjadi Tema Utama
Karya Monkey Business dan Echo Chamber mengajak pengunjung memasuki dunia yang dipenuhi simbol-simbol digital.
Diantaranya, algoritma, notifikasi, jaringan media sosial, kripto, hingga serpihan informasi yang saling bertabrakan.
Melalui karya tersebut, Danang menggambarkan masyarakat yang hidup di tengah ledakan data tanpa henti.
Dalam Monkey Business, ia menunjukkan bagaimana manusia terus mengejar perhatian publik, sementara popularitas dan viralitas berubah menjadi ukuran keberhasilan.
Sementara Echo Chamber menampilkan ruang digital yang membuat pengguna terus menerima pandangan yang serupa dengan keyakinannya sendiri hingga seolah menjadi kebenaran mutlak.
Heroisme Lahir dari Kehidupan Sehari-hari
Alih-alih menawarkan narasi kiamat digital, Danang memilih menghadirkan optimisme.
Ia menunjukkan tindakan sederhana tetap memiliki makna heroik di tengah dunia yang dikendalikan algoritma.
Bekerja keras, menikmati secangkir kopi dengan tenang, mengurangi penggunaan plastik, tetap rileks di tengah banjir informasi, hingga berani mengunggah karya menjadi bentuk-bentuk keberanian yang lahir dari kehidupan sehari-hari.
“Heroisme, menurut semesta visual saya, tidak hanya dimiliki tokoh besar atau hadir dalam peristiwa monumental, tetapi juga tumbuh dari manusia biasa yang terus bertahan menghadapi perubahan,” ungkapnya.
Manusia Tetap Menjadi Pusat
Melalui perpaduan bahasa visual propaganda rakyat dan fenomena algoritma kontemporer, Danang Catur menghadirkan potret manusia yang hidup di antara dua zaman, yakni zaman ideologi dan zaman algoritma.
Jika propaganda abad ke-20 berupaya menciptakan warga negara yang ideal, algoritma abad ke-21 justru berusaha membentuk pengguna yang ideal.
Di antara dua kutub tersebut, Danang mengingatkan bahwa di balik data, notifikasi, statistik, dan mesin rekomendasi, manusia tetap memiliki kehendak, kebebasan, serta harapan untuk menentukan jalannya sendiri.
Melalui ‘Semua Bisa Jadi Macan’, ia mengajak publik melihat bahwa tindakan paling revolusioner pada era digital mungkin bukan melawan teknologi.
“Melainkan tetap menjadi manusia yang berpikir, berkarya, dan berani menentukan pilihannya sendiri,” pungkasnya. (Ken).
