PROSA.ID,Yogyakarta – Batik Putra Boko resmi dibuka di kawasan Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Gerai terbaru dari unit usaha Batik Yudhistira yang mengusung konsep one stop service ini hadir dengan misi memperkuat potensi wisata sekaligus membuka ruang tumbuh bagi pelaku ekonomi lokal.
Owner Batik Putra Boko, Anis Suci Fajarwati mengatakan, dipilihnya lokasi di Bokoharjo berangkat dari kedekatan emosional keluarganya dengan daerah tersebut. Almarhum ayahnya merupakan putra asli dari kawasan itu.
“Semangatnya kami ingin mengangkat potensi wisata Bokoharjo, karena almarhum ayah saya berasal dari sini. Saya ingin Batik Putra Boko menjadi pionir toko oleh-oleh di Jogohan Bokoharjo, mengangkat nilai daerah, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar,” katanya kepada awak media, Senin (1/12/2025).
Anis mengungkapkan, lokasi gerai yang berada di jalur wisata Prambanan–Piyungan dan dekat kawasan situs Ratu Boko memberi potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Apalagi, di sekitar wilayah tersebut direncanakan adanya pintu keluar tol terbaru.
“Lokasinya strategis. Rencana exit tol ada di sebelah sini, jalan akan dibuka, toko jadi makin terlihat. Harapannya masyarakat sekitar ikut merasakan dampak ekonomi positif, warung-warung juga makin ramai,” ujarnya.
Anis menjelaskan, gerai terbaru ini menawarkan beragam produk. Mulai dari batik, bakpia, tas, sepatu, aksesori, hingga kaos yang di desain khusus. Produk-produk yang ada di gerainya itu, sebagian besar melibatkan UMKM setempat dalam proses produksi.
“Yang kami jual mengutamakan warga sekitar. Penjahit, pegawai, SDM, semuanya kami prioritaskan dari wilayah terdekat. UMKM yang terlibat lebih dari 300, sebagian besar dari Jawa Tengah,” jelasnya.
Diceritakan Anis, ia merintis bisnis batik saat masih duduk di bangku kuliah pada tahun 2010 lalu. Sejak awal, ia konsisten menggandeng UMKM rumahan. Dampak dari kolaborasi ini, banyak bisnis UMKM yang semakin berkembang.
“Alhamdulillah sudah 10 tahun bekerja sama dengan UMKM. Banyak yang bisnisnya berkembang, bisa menyekolahkan anak, bahkan beli kendaraan. Kami tumbuh bersama,” sambungnya.
Batik Putra Boko menyasar segmen menengah ke bawah, khususnya wisatawan yang mencari oleh-oleh dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, gerai yang memiliki luas sekitar satu hektar dengan tiga lantai itu juga menggandeng para pelaku wisata.
“Kami bekerja sama dengan wisatawan, agen travel, tour leader, hingga tour guide. Banyak orang mencari oleh-oleh yang harganya wajar untuk keluarga atau rombongan sekolah. Itu yang kami sediakan,” ungkap Anis.
Salah satu produk unggulan dari Batik Putra Boko adalah motif batik Candi Boko yang dibuat secara eksklusif dalam lima pilihan warna, yakni hitam, broken white, navy, dan maroon.
“Motif Candi Boko ini khas kami. Prosesnya masih batik cap karena batik tulis membutuhkan waktu lebih panjang. Ini yang membedakan denga gerai lain,” lanjut Anis.
Untuk menarik minat generasi muda, Anis sengaja membangun ruang gerai yang nyaman dan estetik. Konsep ini disesuaikan dengan tren wisata digital saat ini.
“Anak Gen Z suka tempat yang estetik. Mereka kritis dan suka spot yang bagus untuk selfie. Ketika mereka unggah ke story, itu otomatis membantu pemasaran kami,” imbuhnya.
Sementara Manajer Sales dan Marketing Batik Putra Boko, Sungkowo Istiningwardoyo yang akrab dipanggil Bowo menambahkan, motif-motif baru akan dikembangkan dari tiga motif populer, yakni batik Kawung, Truntum, dan Parang.
“Kami kolaborasikan motif Putra Boko dengan motif populer. Produksi batiknya masih melalui mitra UMKM, tapi untuk produk fashion, kami sudah produksi mandiri,” ujarnya.
Bowo menyebut, pihaknya aktif memperkuat jejaring dengan pelaku pariwisata. Salah satunya adalah dukungan menjadi sponsorship.
“Sinergi kami dengan travel agent, komunitas wisata, tour guide terus kami bangun. Kami memberikan komitmen kerja sama dan dukungan dalam berbagai bentuk, termasuk sponsorship,” imbuh Bowo. (Ken).
