Home » Hadiri JAFF 20, Empat Orang Filmmaker Bongkar Cara Kerja Industri Film di Hong Kong

Hadiri JAFF 20, Empat Orang Filmmaker Bongkar Cara Kerja Industri Film di Hong Kong

Empat filmmaker dari Hong Kong saat menjadi narasumber dalam sesi diskusi Community Forum Jogja-NETPAC Asian Film Festival di LPP Convention Yogyakarta, Senin (1/12/2025). (prosa/ken)

PROSA.ID, Yogyakarta – Empat orang filammaker asal Hong Kong, yakni Man Lim Chung yang merupakan perancang produksi dan pemenang berbagai penghargaan, Mandrew Kwan selaku sutradara dan pengajar di Hong Kong Academy for Performing Arts, Quist Tsang sebagai fotografer stills dari berbagai film dan studio ternama, serta Ivan Cheung yang merupakan sutradara film pendek yang aktif di jaringan festival internasional, menjadi narasumber dalam sesi diskusi Community Forum Jogja-NETPAC Asian Film Festival di LPP Convention Yogyakarta, Senin (1/12/2025).

Sesi ini merupakan bagian dari Jogja Asia Film Festival (JAFF) 20 yang menarik peserta karena membuka peluang mendengar langsung praktik produksi, dinamika industri hingga kisah-kisah kerja kreatif yang jarang terungkap dari salah satu pusat perfilman terbesar di Asia.

Keempat narasumber membuka diskusi dengan berbagi pengalaman tentang cara kerja industri film Hong Kong yang dikenal cepat, efisien dan sangat kolaboratif. Mereka juga menjelaskan perubahan-perubahan signifikan yang terjadi dalam satu dekade terakhir.

Man Lim Chung mengatakan, pentingnya disiplin visual sejak tahap awal. Sebab di Hong Kong, perancang produksi tidak hanya bicara estetika, tetapi harus bisa membangun ruang cerita.

“Kami harus bisa menerjemahkan visi sutradara dalam waktu yang sering kali sangat ketat,” katanya.

Sementara Mandrew Kwan menyebut, filmmaker generasi baru di Hong Kong harus mempertahankan identitas sinemanya di tengah perubahan pasar yang begitu cepat.

“Tidak hanya membuat
film yang bagus, mereka harus mempertahankan akar budaya,” jelasnya.

Dari perspektif fotografi, Quist Tsang mengungkapkan bagaimana peran stills, sering dianggap detail kecil justru menjadi bagian strategis dari pemasaran film modern.

“Kadang satu foto bisa menentukan persepsi penonton sebelum film dirilis. Tantangannya adalah menangkap emosi yang mungkin tidak terlihat di kamera utama,” ujarnya.

Di sisi lain, Ivan Cheung menjelaskan posisi film pendek sebagai ruang eksperimentasi yang semakin krusial bagi regenerasi sinema Hong Kong.

“Bagi banyak pembuat film muda, film pendek adalah ruang untuk bereksperimen. Kami bisa mengambil risiko tanpa tekanan besar. Dari ruang kecil itu sering lahir peluang internasional,” tambahnya.

Tak hanya sekadar menghadirkan praktisi dari negara lain, forum diskusi ini menciptakan ruang pertemuan antara dua ekosistem film yang tengah berusaha memperkuat identitas dan jaringan.

Peserta yang datang dari berbagai komunitas, memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menelusuri potensi kolaborasi lintas negara yang sebelumnya sulit dijangkau.

Salah seorang koordinator program menyebut, Community Forum Jogja-NETPAC Asian Film Festival dirancang sebagai jembatan pengetahuan yang membuka peluang kerja sama lebih konkret.

“Kami ingin JAFF menjadi tempat belajar lintas budaya yang nyata, bukan sekadar perayaan film,” ujarnya.

Tingginya antusiasme peserta yang interaktif, forum ini mempertegas posisi JAFF sebagai ruang belajar dan pertukaran ide, menempatkannya bukan hanya sebagai festival pemutaran film, melainkan juga sebagai laboratorium regional bagi relasi kreatif Asia yang terus berkembang. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *