PROSA.ID, Yogyakarta — Di tengah banjir konten media sosial yang membuat perhatian publik terus berpindah, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mengajak masyarakat berhenti sejenak dan kembali melihat kehidupan di sekitar mereka.
Ajakan itu hadir melalui Rana Budaya #4 bertajuk ‘FYP (For Your People)’ yang berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.
Tahun ini, Rana Budaya mencatat antusiasme peserta yang semakin luas. Sebanyak 214 peserta mengikuti seleksi dengan total 914 karya foto.
Peserta tidak hanya berasal dari Yogyakarta.
Fotografer dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Sumatra, NTB hingga Aceh turut mengirimkan karya.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati mengatakan, capaian tersebut menunjukkan Rana Budaya telah berkembang menjadi ruang pertemuan fotografer dari berbagai daerah di Indonesia.
“Untuk tahun ini yang pameran Rana Budaya diikuti oleh 214 peserta dengan total karya foto ada 914,” kata Purwiati. dalam konferensi pers di TBY, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi kebanggaan karena Rana Budaya telah memasuki penyelenggaraan keempat dan mampu menjangkau peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
Dari ‘For You Page’ Menjadi ‘For Your People’

Kurator fotografi Rana Budaya #4, Rangga Purbaya menjelaskan, tema FYP sengaja mengambil inspirasi dari istilah For You Page yang populer di media sosial.
Namun, Rana Budaya membalik maknanya menjadi For Your People.
Jika algoritma media sosial biasanya mengarahkan perhatian kepada preferensi personal, tema tahun ini justru mengajak fotografer memperhatikan orang-orang dan kehidupan yang berada di sekitar mereka.
“Tujuannya mengajak fotografer yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, umum untuk lebih memperhatikan sekelilingnya, orang-orang atau kebiasaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Rangga.
Ia mengungkapkan, konsep tersebut sekaligus mengubah sudut pandang fotografi dari ‘saya’ menjadi ‘kami’.
“Fotografer tidak hanya merekam dirinya atau apa yang menjadi pusat perhatiannya, tetapi juga melihat apa yang terjadi di lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Bukan Lagi Foto Tunggal, Kini Foto Berseri
Rana Budaya #4 juga membawa perubahan penting dalam format kompetisi.
Jika penyelenggaraan sebelumnya meminta peserta mengirimkan satu karya foto, tahun ini kurator membuka ruang untuk foto seri.
Peserta dapat mengirimkan minimal tiga dan maksimal tujuh foto dalam satu seri.
Rangga menilai, perubahan tersebut membuat fotografer memiliki ruang lebih luas untuk membangun cerita.
“Foto series ini maksimal tujuh foto dan minimal tiga. Rata-rata peserta mengirimkan lima foto ke atas,” ungkapnya.
Format tersebut memungkinkan penonton melihat cerita secara lebih utuh.
Setiap foto dapat menghadirkan detail, suasana, konteks, dan kesinambungan cerita yang tidak selalu bisa muncul melalui satu gambar.
Fotografi Tak Sekadar Membuat Gambar
Kurator fotografi lainnya, Kurnia Yaumil Fajar, melihat perubahan format tersebut sebagai upaya memperluas cara fotografer bercerita.
Ia menyebut, foto seri memungkinkan sebuah peristiwa hadir dengan cerita yang lebih panjang dan utuh.
Kurnia juga mengapresiasi Rana Budaya yang telah memasuki tahun keempat.
Ia menjelaskan, program tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap perkembangan fotografi di Yogyakarta.
“Jogja di sini jadi titik pertemuan untuk banyak sekali gambar,” ujar Kurnia.
Ia melihat posisi Yogyakarta sebagai kota wisata dan kota budaya membuat kamera hadir hampir di setiap sudut kehidupan.
“Rana Budaya memberikan ruang agar berbagai rekaman kehidupan tersebut dapat bertemu dan dibaca kembali oleh publik,” tandasnya.
914 Foto Rekam Kehidupan Sehari-hari
Karya Rana Budaya #4 yang masuk tidak hanya merekam peristiwa besar.
Fotografer justru diarahkan untuk menemukan cerita dari kehidupan yang dekat dengan masyarakat.
Mulai dari keluarga, komunitas, pekerjaan, tradisi, ritual, gotong royong, lingkungan, pangan hingga aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari cerita yang dapat muncul melalui kamera.
Kamera dalam konteks ini tidak hanya menjadi alat untuk menghasilkan gambar.
Kamera menjadi instrumen untuk mengamati, mendengarkan, dan membangun empati terhadap kehidupan manusia.
Fotografi akhirnya tidak hanya berbicara tentang objek yang berada di depan kamera.
Pilihan fotografer dalam menentukan siapa yang dipotret, apa yang diperhatikan, serta momen yang disimpan juga membentuk arsip sosial tentang sebuah masa.
Rana Budaya Berdampingan dengan Arsip TBY
Rana Budaya #4 tahun ini hadir bersamaan dengan pameran arsip Taman Budaya Yogyakarta bertajuk ‘Catatan yang Terjajar’.
Purwiati menyampaikan, pameran arsip tersebut mengajak publik menengok perjalanan panjang TBY dalam mendokumentasikan dan memublikasikan berbagai kegiatan kebudayaan.
Dokumentasi tersebut tidak hanya tersimpan dalam bentuk foto.
TBY juga memiliki jejak publikasi berupa kliping, spanduk, hingga berbagai materi dokumentasi kegiatan.
Purwiati bahkan mengungkapkan perubahan besar dalam struktur TBY selama perjalanan waktu.
Saat ia mulai masuk pada 1993, TBY memiliki sekitar 115 pegawai. Kini, jumlah tersebut tinggal sekitar 25 orang.
“Bagaimana perjalanan publikasi yang dilaksanakan Taman Budaya sampai dengan saat ini kita kemudian mengenal media sosial dan sebagainya,” ujarnya.
Pameran arsip tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana proses dokumentasi dan publikasi kebudayaan berlangsung sebelum era media sosial.
Arsip Lama Jadi Sumber Pengetahuan
Bagi TBY, arsip bukan sekadar benda lama yang dipajang.
Dokumen dan catatan tersebut dapat menjadi sumber referensi untuk membaca perkembangan kebudayaan Yogyakarta.
Purwiati menyebut, arsip TBY juga berkaitan dengan berbagai dokumen kebudayaan, termasuk naskah drama dan naskah teater.
Pameran ‘Catatan yang Terjajar’, karena itu menjadi kesempatan bagi publik untuk melihat bagaimana TBY merekam perjalanan kebudayaan dari masa ke masa.
Kurnia menilai kehadiran pameran arsip bersama Rana Budaya menciptakan dialog menarik.
Jika pameran arsip merekam perjalanan TBY pada masa lalu, Rana Budaya menghadirkan rekaman kehidupan masyarakat melalui perspektif fotografer masa kini.
“Jadi ada dua rekaman yang berlangsung, di dalam Taman Budaya dan juga apa yang berlangsung di luar Taman Budaya,” ujar Kurnia.
Dari Kompetisi Menuju Ekosistem Fotografi
Memasuki edisi keempat, Rana Budaya tidak hanya menempatkan kompetisi sebagai tujuan akhir.
TBY mengembangkan kegiatan ini sebagai platform untuk mempertemukan fotografer, pelajar, mahasiswa, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, kurator, juri, dan masyarakat.
Selain lomba dan pameran, Rana Budaya #4 menghadirkan tiga lokakarya fotografi, satu artist talk, satu diskusi fotografi, serta dua Lomba Foto Sehari (Fun Photography).
Rangkaian tersebut membentuk ekosistem yang menghubungkan proses pencarian talenta, pengembangan kemampuan, pemanfaatan karya, hingga apresiasi.
Dengan pola itu, Rana Budaya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menjadi pemenang.
Program tersebut juga membuka ruang bagi fotografer untuk terus berkembang dan mempertemukan karya mereka dengan publik.
Dua Pameran, Dua Cara Melihat Yogyakarta
Kurnia menambahkan, keberadaan dua pameran secara bersamaan menjadi salah satu hal menarik pada Rana Budaya tahun ini.
Pameran arsip membawa pengunjung melihat rekaman masa lalu.
Sementara Rana Budaya menghadirkan cara fotografer masa kini membaca kehidupan di sekeliling mereka.
Keduanya sama-sama berbicara tentang dokumentasi, fotografi, manusia, dan kota.
Perbedaannya terletak pada zaman dan cara merekam.
Dokumentasi manual TBY memperlihatkan bagaimana kebudayaan dipublikasikan sebelum media sosial berkembang.
Sementara FYP mengajak fotografer menggunakan kamera untuk memperhatikan kehidupan di sekitarnya pada era ketika perhatian publik banyak ditentukan algoritma.
Pameran Dibuka 14 Agustus
Rana Budaya #4 dan pameran arsip ‘Catatan yang Terjajar’ akan dibuka pada 14 Agustus 2026 pukul 15.30 WIB di Taman Budaya Yogyakarta.
Pameran berlangsung hingga 23 Agustus 2026 dan terbuka bagi fotografer, komunitas, pelajar, mahasiswa, pelaku seni dan ekonomi kreatif, serta masyarakat umum.
Rana Budaya #4 diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta dengan dukungan Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2026.
Melalui FYP, TBY menawarkan satu pesan sederhana di tengah derasnya arus digital: berhenti sejenak, lihat lebih dekat, dan temukan kembali orang-orang yang hidup bersama kita.
Sebab, fotografi tidak hanya tentang apa yang sedang ramai dilihat.
Fotografi juga tentang siapa yang kita anggap penting untuk dilihat dan diingat. (Ken).
