PROSA.ID, UK — Muhammadiyah mendapat sambutan positif dari Dewan Muslim Inggris atau Muslim Council of Britain (MCB) setelah organisasi Islam Indonesia tersebut bergabung sebagai bagian dari keanggotaan lembaga payung Muslim terbesar di Inggris itu.
Keanggotaan tersebut membuka peluang baru bagi Muhammadiyah untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kolaborasi antarorganisasi Muslim di Britania Raya.
Deputy Secretary General The Muslim Council of Britain (MCB), Maswood Ahmed, menyebut kehadiran Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) UK dan Irlandia sebagai langkah penting dalam membangun hubungan antarkomunitas Muslim.
“PCIM UK dan Irlandia yang merupakan bagian dari organisasi Muhammadiyah merupakan organisasi Indonesia pertama yang bergabung dengan MCB. Kami sangat menantikan untuk bekerja sama,” ujar Maswood dalam rilis media yang diterima Kamis (13/8/2026).
MCB: Banyak Hal Bisa Dipelajari Bersama
MCB menaungi lebih dari 500 masjid, lembaga pendidikan, badan amal, dan organisasi profesi Muslim di seluruh Britania Raya.
Menurut Maswood, kehadiran Muhammadiyah memberikan peluang bagi kedua organisasi untuk saling bertukar pengalaman dan memperkuat kerja sama.
Ia melihat banyak ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan, sekaligus berbagai pengalaman yang bisa dipelajari bersama.
“Kami rasa kita punya banyak hal yang bisa dipelajari dari satu sama lain dan insyaallah akan ada banyak hal yang bisa kita rayakan bersama,” katanya.
Maswood juga menekankan bahwa persatuan umat membutuhkan tindakan nyata.
Ia mengutip pesan persatuan dalam QS Ali Imran ayat 103 sebagai landasan penting untuk membangun kebersamaan.
Persatuan Umat Tak Cukup Jadi Wacana
Maswood menilai, persatuan umat Muslim tidak boleh berhenti sebagai slogan atau wacana.
Ia mengungkapkan, berbagai tantangan yang dihadapi umat Muslim membutuhkan kerja bersama, keterbukaan, dan kemauan untuk saling membantu.
“Kita perlu mempraktikkan ini di kehidupan nyata. Seringkali kita berdialog tentang persatuan, namun praktiknya nihil. Kita perlu bekerja keras untuk mencoba dan menyatukan umat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semangat tersebut menjadi salah satu alasan MCB hadir sebagai organisasi payung yang mempertemukan berbagai elemen Muslim di Inggris.
“Itulah yang kami coba lakukan sebagai organisasi payung,” jelasnya.
Muhammadiyah Dinilai Sejalan dengan Semangat Moderasi
Maswood juga melihat adanya titik temu antara MCB dan Muhammadiyah dalam mendorong sikap moderat, terbuka, dan menghargai perbedaan.
Ia menjelaskan, membangun persatuan umat membutuhkan kemampuan untuk merangkul perbedaan tanpa kehilangan semangat kebersamaan.
Kolaborasi kedua organisasi diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan internal umat Muslim, tetapi juga melahirkan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Insyaallah kita mampu membawa persatuan. Kita akan mampu membantu sesama tanpa memandang latar belakang keagamaan, sebab kita adalah bagian dari umat manusia,” tuturnya.
Muhammadiyah Jadi Organisasi Islam Indonesia Pertama di MCB
Keanggotaan PCIM UK dan Irlandia juga memiliki arti strategis bagi Muhammadiyah.
Organisasi tersebut tercatat sebagai organisasi Islam Indonesia pertama yang bergabung dengan MCB.
Kehadiran Muhammadiyah di dalam jejaring MCB membuka ruang lebih luas untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai organisasi Muslim di Inggris.
Langkah tersebut sekaligus memperluas kiprah Muhammadiyah di tingkat internasional melalui jaringan organisasi, pendidikan, sosial, kemanusiaan, dan dakwah.
Perkuat Jembatan Antarumat
Kolaborasi Muhammadiyah dan MCB diharapkan mampu menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman gerakan Islam dari Indonesia dan Inggris.
Semangat tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkuat umat Muslim, tetapi juga mendorong kontribusi bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Dengan mengedepankan moderasi, keterbukaan, dan kolaborasi, Muhammadiyah dan MCB memiliki peluang untuk membangun berbagai program bersama yang berdampak lebih luas.
Keanggotaan ini pun menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring Muhammadiyah di dunia internasional sekaligus menghadirkan wajah Islam yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan.(Ken).
