PROSA.ID, Yogyakarta – Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) mengembangkan RespiraTB, perangkat wearable berbasis sensor yang dirancang untuk membantu memantau kondisi pernapasan secara non-invasif dan real-time.
Inovasi tersebut sekaligus mengantarkan tim mahasiswa UII meraih medali emas dalam The 12th UTU Awards 2026 yang digelar Universitas Teuku Umar (UTU), Aceh.
Pengumuman penghargaan berlangsung pada 23 September 2026.
Tim terdiri atas Afwan Aditya Saputra dari Program Studi Informatika, Isfana Fatimah Darman dari Program Studi Kedokteran, serta Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Program Studi Manajemen Rekayasa.
Mereka mengembangkan RespiraTB di bawah bimbingan dosen FTI UII, Ir. Ali Parkhan.
UII Dorong Mahasiswa Terus Berprestasi
Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII, Dr. Ir. Agus Mansur mengatakan, FTI UII terus memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi.
Menurut Agus, universitas yang baik tidak hanya memberikan pendidikan, tetapi juga menyediakan dukungan dan fasilitas agar mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan melalui berbagai kompetisi.
“FTI tidak henti memberikan dukungan mahasiswa untuk berprestasi. Universitas yang baik adalah universitas yang memberikan dukungan dan fasilitas kepada mahasiswa berprestasi,” ujar Agus, Jumat (2/10/2026).
Ia menyebut, prestasi mahasiswa FTI UII dalam berbagai kompetisi terus muncul dari tahun ke tahun.
Kompetisi di Universitas Teuku Umar, Aceh, menjadi salah satu ajang yang kembali menghasilkan capaian bagi mahasiswa UII.
Agus juga menyoroti keberadaan mahasiswa dari Program Studi Manajemen Rekayasa dalam tim RespiraTB.
Diketahui sebelumnya, Program Studi Manajemen Rekayasa merupakan program studi baru di UII.
Agus menilai, keterlibatan mahasiswa dari berbagai program studi menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghasilkan inovasi teknologi.
“Program kolaborasi karena teknologi sekumpulan knowledge. FTI UII mendorong program kolaborasi,” katanya.
Agus pun mendorong mahasiswa untuk terus menghasilkan karya.
Baginya, prestasi menjadi konsekuensi dari proses berkarya dan mengembangkan kemampuan.
“Selalu berkarya dan berkarya, prestasi bonus,” ujarnya.
UII Jadi Satu-satunya PTS Peraih Emas
Dosen Program Studi Teknik Industri FTI UII sekaligus pembimbing tim, Ir. Ali Parkhan menjelaskan, capaian tersebut melanjutkan keberhasilan tim UII pada kompetisi serupa tahun sebelumnya.
Pada ajang tahun ini, terdapat 75 tim yang lolos dari total sekitar 540 proposal.
Peserta berasal dari empat negara dan mewakili 25 perguruan tinggi.
Ali menerangkan, UII menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta yang meraih emas dalam kompetisi tersebut.
Sebanyak 24 perguruan tinggi lainnya merupakan perguruan tinggi negeri.
“Keberhasilan ini pengulangan sukses tahun lalu. Ada kompetisi yang sama, memperoleh emas,” terang Ali.
Ia menegaskan, capaian tim tidak terlepas dari dukungan fakultas dan program studi.
Dukungan tersebut membantu mahasiswa mengembangkan gagasan hingga menghasilkan solusi yang dapat diuji.
Ali mengungkapkan, setiap mahasiswa memiliki potensi. Tantangannya adalah bagaimana mahasiswa mampu menyadari, menggali, dan memanfaatkan potensi tersebut.
“Kami membersamai mereka menggali potensi sehingga bisa menemukan solusi cerdas, bisnis berdampak untuk penyakit TBC,” ujarnya.
RespiraTB Pantau Pernapasan Tanpa Metode Invasif
Ketua tim RespiraTB, Afwan Aditya Saputra menambahkan, inovasi tersebut berangkat dari persoalan pemantauan kondisi pernapasan pada pasien TBC.
Ia menjelaskan, metode pemantauan tertentu yang selama ini digunakan memiliki sifat invasif sehingga tidak selalu nyaman bagi pasien.
“Alat ini bukan deteksi awal, bukan mengalahkan dokter. Tapi hanya membantu melakukan pemantauan penderita di rumah,” kata Afwan.
Karena itu, tim mengembangkan perangkat yang dapat ditempelkan pada tubuh untuk membaca aktivitas pernapasan.
Perangkat tersebut diharapkan membantu pasien memantau kondisi secara lebih praktis di rumah.
Sementara anggota tim, Isfana Fatimah Darman menjelaskan, tingginya persoalan TBC menjadi salah satu alasan tim mengembangkan teknologi tersebut.
“Melihat saat ini infeksi sangat besar, Indonesia peringkat kedua TBC,” ujar Isfana.
Menurut Isfana, salah satu metode yang digunakan untuk melihat gerakan pernapasan saat ini bersifat invasif karena perangkat dimasukkan melalui hidung dan kerongkongan.
Kondisi tersebut membuat sebagian pasien tidak nyaman dan menolak menjalani pemeriksaan.
RespiraTB menawarkan pendekatan berbeda dengan menempatkan sensor pada bagian dada.
“Meski demikian, hasil pemantauan perangkat tetap bukan diagnosis medis dan pemeriksaan dokter tetap diperlukan,” ungkapnya.
Tiga Sensor Membaca Otot Pernapasan
Anggota tim lain, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar mengatakan, RespiraTB menggunakan tiga sensor yang ditempatkan pada titik tertentu untuk membaca aktivitas otot pernapasan.
Sensor accelerometer membaca perubahan gerakan mekanis pada dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan.
Data kemudian diproses menggunakan ESP32, sistem filtering, serta algoritma skoring sebelum dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile.
“Sinyal disaring untuk meredam gangguan gerak,” jelas Huda.
Sistem tersebut memantau respiratory rate (RR) dan work of breathing (WoB). Pada rancangan perangkat, laju napas 0-20 kali per menit masuk kategori normal.
Laju di atas 20 kali per menit masuk kategori perlu pemantauan, sedangkan kondisi di atas 25 kali per menit masuk kategori segera diperiksa.
Aplikasi juga menyimpan riwayat pengukuran dan menyediakan kuisioner.
Pengguna diarahkan menempatkan patch pada tiga titik pernapasan dengan benar sebelum melakukan pengukuran.
“Hasil pengukuran kemudian dapat dipantau melalui aplikasi,” lanjut Akbar.
Akurasi RR Capai 96,28 Persen
Dalam pengujian, RespiraTB menunjukkan akurasi pembacaan respiratory rate sebesar 96,28 persen dibandingkan penghitungan manual.
Deviasi maksimal yang ditemukan mencapai satu napas per menit.
Sensor accelerometer MPU6050 juga memperoleh akurasi rata-rata 92,08 persen ketika diuji terhadap metode Esophageal Pressure Catheter (Pes).
Tim menguji sistem melalui empat skenario, yakni sensor terhubung, kondisi normal, perlu pemantauan, dan segera diperiksa.
Seluruh skenario menghasilkan keberhasilan klasifikasi 100 persen sesuai kategori yang ditetapkan.
Pengiriman data dari ESP32 ke Firebase juga mencapai keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.
Aplikasi RespiraTB menampilkan Indeks Pernapasan dalam skala 0-100.
Sistem kemudian mengelompokkannya menjadi kategori Normal, Perlu Pemantauan, dan Segera Periksa.
Selain laju napas, aplikasi menampilkan aktivitas otot aksesori, pola napas, serta gejala subjektif.
Ketika skor meningkat secara konsisten, sistem memberikan notifikasi dan rekomendasi agar pengguna melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Targetkan Kolaborasi dengan Puskesmas
Afwan menegaskan RespiraTB tidak dirancang untuk menggantikan dokter atau menetapkan diagnosis TBC.
“Yang mereka butuhkan untuk pemantauan di rumah. Alat ini membantu eliminasi penyakit TBC,” ujarnya.
Afwan menjelaskan, timnya juga menyiapkan strategi pengembangan melalui kerja sama dengan puskesmas.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka akses penggunaan perangkat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi pernapasan.
Dari sisi model bisnis, tim menyiapkan pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).
Skema B2B diarahkan melalui kemitraan dengan Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta sejumlah mitra kesehatan.
Sementara B2C akan memanfaatkan kanal digital, edukasi komunitas, dan kolaborasi dengan organisasi kesehatan masyarakat.
Tim memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) RespiraTB mencapai Rp1,035 triliun per tahun.
Fokus awal diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan estimasi Serviceable Available Market (SAM) Rp436,2 miliar per tahun.
Pada tahun pertama, tim menargetkan penjualan 1.380 unit dengan harga Rp950.000 per unit.
Meski demikian, RespiraTB masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum dapat digunakan secara luas.
“Kami menargetkan validasi klinis dengan skala lebih besar, pengembangan prototipe fisik, serta proses perizinan dan sertifikasi alat,” imbuh Afwan.
Selain itu, tim ini juga merencanakan pengajuan izin edar kepada Kementerian Kesehatan RI sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui RespiraTB, mahasiswa UII menggabungkan teknologi wearable, IoT, sensor, dan algoritma untuk membangun sistem pemantauan pernapasan yang dapat digunakan secara non-invasif.
“Harapannya inovasi ini dapat membantu masyarakat lebih memahami kondisi pernapasannya dan mendorong pemeriksaan medis ketika muncul tanda yang membutuhkan perhatian,” pungkas Afwan. (Ken).
