Home » Prioritaskan Kesejahteraan Satwa, Geopix Desak Otoritas Kendalikan Pembukaan Bandung Zoo

Prioritaskan Kesejahteraan Satwa, Geopix Desak Otoritas Kendalikan Pembukaan Bandung Zoo

Ilustrasi Bandung Zoo. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Geopix kembali menyampaikan keprihatinan serius ataspembukaan Bandung Zoo untuk kunjungan publik tanpa melalui proses evaluasi maupun auditpengelolaannya yang disampaikan ke publik.

Selain itu, adanya temuan dugaan kondisi satwa liar yang dilindungi termasuk orangutan, gajah,dan monyet hitam yang membutuhkan perhatian dan evaluasi mendesak oleh para pihak terutama mengenai kondisi pemeliharaannya.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati mengatakan, keselamatan dan kesejahteraan satwa harus menjadi prasyarat kunci sebelum kebun binatang dibuka kembali untuk publik dalam konflik berkepanjangan pengelolaan Bandung Zoo yang berlangsung.

“Kami mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan untuk tidak tergesa membuka kembali kebun binatang tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan benar-benar layak,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).

Annisa mengungkapkan, kelayakan tersebut tidak sekedar terpenuhinya kebutuhan pakan yang telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, tetapi para pihak juga harus memastikan aspek-aspek pengelolaan lainnya telah siap secara utuh seperti kesejahteraan tenaga kerja serta yang lebih penting kesejahteraan satwa-satwanya.

“Temuan lapangan terkait dugaan kondisi
stress Orangutan, Gajah dan Monyet Hitam, sangat mengkhawatirkan, memprihatinkan
dan tidak boleh diabaikan,” ujar Annisa.

Kekhawatiran Geopix diperkuat oleh pendapat Senior Biologist dan Wildlife Curator – Center for Orangutan Protection, Indira Nurul Qomariah. Ia menyatakan, primata termasuk orangutan dan monyet hitam, kebotakan di lengan dan kaki bawah dapat disebabkan oleh adanya penyakit kulit, malnutrisi, atau stres (akibat kebosanan atau kebiasaan kompulsif) yang memicu perilaku seperti overgrooming.

“Kebotakan dapat juga disebabkan oleh penyakit genetik seperti alopecia. Perlu dilakukan pemeriksaan medis dan observasi perilaku lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebotakan tersebut” jelas Indira.

Selain itu, Indira juga menyoroti kondisi Gajah yang diduga menunjukkan gejala stres yang serius. Gajah menunjukkan perilaku stereotip berupa swaying (gerakan berulang tanpa tujuan),
yang termasuk indikator stres.

“Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung kesejahteraan satwa, antara lain kurangnya pengayaan (enrichment) atau kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan gajah lainnya” imbuh Indira.

Menurut Geopix, pembukaan kebun binatang untuk publik di tengah indikasi terjadinya gangguan kesejahteraan satwa justru berpotensi memperburuk kondisi satwa dan mencerminkan kegagalan tata kelola konservasi ex-situ di Indonesia.

Otoritas publik memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk memastikan seluruh lembaga konservasi mematuhi standar kesejahteraan satwa, transparansi pengelolaan, serta pengawasan yang ketat.

Geopix mendesak agar dilakukan langkah-langkah berikut sebelum pembukaan kembali
dilakukan:
1. Evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan fasilitas kandang
2. Audit independen oleh otoritas dan tenaga ahli kompeten
3. Transparansi kepada publik terkait kondisi kesehatan dan perawatan satwa
4. Penundaan pembukaan hingga standar kesejahteraan satwa benar-benar terpenuhi
Geopix menegaskan kondisi satwa, khususnya satwa liar yang dilindungi di Bandung Zoo ini,
merupakan fenomena gunung es terkait kesejahteraan satwa di kebun binatang dan lembaga konservasi di seluruh Indonesia. (Kris).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *