PROSA.ID, Ubud – Yayasan Mudra Swari Saraswati resmi mengumumkan sepuluh penulis terpilih dalam program Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026.
Para penulis ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka terpilih melalui proses kurasi oleh tim kurator yang terdiri dari A. Nabil Wibisana, Cyntha Hariadi, dan Siska Yuanita.
Sepuluh penulis terpilih ini selanjutnya akan mengikuti rangkaian pembekalan dan pelatihan, sebelum karya-karya mereka diterbitkan dalam antologi tahunan dan diluncurkan di UWRF 2026 yang akan berlangsung pada 21-25 Oktober 2026.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2008, program Emerging Writers UWRF telah menjadi ruang penting dalam menemukan, mendampingi, dan memperkenalkan suara-suara baru sastra Indonesia ke tingkat nasional dan internasional.
Tahun ini, UWRF menerima cerita pendek dari para penulis Indonesia yang secara beragam merespons dinamika Indonesia kontemporer, mulai dari isu kelokalan, relasi sosial, sejarah, hingga realitas masyarakat digital.
Selama periode penerimaan karya yang berlangsung dari 5 Agustus hingga 29 November 2025, sebanyak 634 karya masuk ke UWRF dari seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, naskah cerpen dikirim oleh 367 penulis perempuan, 256 penulis laki-laki, dan 11 penulis yang memilih untuk tidak menyebutkan identitas gendernya.
Jumlah pendaftar terbanyak berasal dari Jawa Barat, sementara tahun ini juga mencatat peningkatan partisipasi penulis dari Bali, dengan total 40 pendaftar. Angka ini menegaskan bahwa program Emerging Writers tetap menjadi ruang rujukan penting bagi penulis Indonesia dari berbagai wilayah.
Proses seleksi dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pra-kurasi untuk menyaring karya menjadi 50 besar, dan kedua dilanjutkan dengan tahap kurasi akhir yang menetapkan 10 penulis terpilih.
Keberagaman tema menjadi salah satu catatan menarik dari proses seleksi tahun ini. Para kurator mencatat kemunculan isu-isu seperti perampasan lahan, lingkungan, gender, serta kehidupan digital sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia masa kini.
Salah satu kurator, Cyntha Hariadi mengatakan, cerpen-cerpen terpilih lahir dari situasi kemanusiaan yang penuh ketegangan dan ketidakpastian.
“Dalam konteks kurasi, menemukan naskah-naskah Emerging Writers sangatlah berharga karena memperkaya khazanah sastra Indonesia melalui keberagaman tema, bentuk, dan sudut pandang, sekaligus membuka ruang dialog antarberbagai pengalaman dan latar belakang penulis,” katanya dalam siaran pers, Minggu (18/1/12026).
Dalam proses kurasi, para kurator juga mencatat sejumlah aspek yang masih dapat terus dikembangkan dari karya-karya para penulis terpilih. Catatan-catatan ini akan menjadi bagian dari proses pembekalan dan pelatihan sebelum mereka diperkenalkan secara resmi dalam rangkaian UWRF 2026 pada 21-25 Oktober 2026.
Pendiri dan Direktur UWRF, Janet DeNeefe menambahkan, kebanggaannya terhadap para penulis terpilih yang dinilainya sebagai bagian penting dari regenerasi sastra Indonesia. Program Emerging Writers adalah investasi jangka panjang bagi sastra Indonesia.
“Melalui pendampingan, pembelajaran, dan ruang pertemuan yang kami bangun, kami ingin memastikan suara-suara baru terus tumbuh, menemukan pembacanya, dan berkontribusi secara berkelanjutan lintas generasi,” ujarnya.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap program ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati juga kembali membuka program Emerging Writers Patron. Program ini memungkinkan publik untuk berkontribusi dalam mendukung partisipasi para penulis terpilih melalui bantuan penerjemahan antologi, tiket perjalanan, akomodasi, dan dukungan lainnya selama festival berlangsung.
“Dukungan dari Emerging Writers Patron membuka ruang belajar dan jejaring yang lebih luas bagi para penulis terpilih. Kami berharap program ini dapat memperkuat perjalanan kreatif mereka dan memperkaya lanskap sastra Indonesia,” imbuh Janet.
Adapun sepuluh penulis yang terpilih dalam seleksi program ini adalah:
– Ajen Angelina (Ruteng)
– Arianto Adipurwanto (Lombok)
– Carisya Nuramadea (Bogor)
– Dhias Nauvaly (Yogyakarta)
– Galuh Ginanti (Denpasar)
– Hamran Sunu (Palopo)
– IRZI (Jakarta)
– Jein Oktaviany (Bandung)
– Nityasa Wijaya (Gianyar)
– R. Abdul Azis (Bandung)
(Kris).
