Home » Pesta Boneka #10 ‘Holding Hands’, Ria Papermoon: Saatnya Bergandengan Tangan

Pesta Boneka #10 ‘Holding Hands’, Ria Papermoon: Saatnya Bergandengan Tangan

Seniman puppet dari Amerika Serikat, Tom Lee, bersama Ria Papermoon memperlihatkan boneka yang akan tampil dalam Pesta Boneka 2026. (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta — Pesta Boneka #10 kembali hadir di Kampung Media Yogyakarta pada 6–11 Oktober 2026. 

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, festival teater boneka yang digagas Papermoon Puppet Theatre ini mengusung tema ‘Holding Hands’ atau bergandengan tangan.

Tema tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus harapan di tengah dunia yang dinilai semakin dipenuhi batas, kesenjangan, dan berbagai ancaman. 

Ria Papermoon, salah satu penggagas Pesta Boneka mengatakan, bergandengan tangan menjadi bentuk tindakan bersama yang tidak berjalan satu arah.

“Kalau buat aku, hari ini kita sedang membutuhkan satu action yang saling. Bergandengan tangan itu satu bentuk action yang saling, yang tidak hanya satu arah tetapi dilakukan dari dua arah,” ujar Ria, Jum’at (2/10/2026). 

Menurutnya, tema Pesta Boneka #10 juga menjadi kelanjutan dari tema dua tahun sebelumnya, ‘Seeds of Hope’. 

Jika sebelumnya festival mengajak masyarakat menebar benih harapan, tahun ini pesan tersebut berlanjut pada ajakan untuk merawatnya bersama.

“Kayaknya this is the time for us to hold our hands together. Di tengah banyak borders yang makin tinggi, gap makin tinggi, borders makin banyak, ancaman-ancaman kok rasanya makin banyak. Ini hanya bisa dilakukan ketika kita bergandengan bersama,” katanya.

Membawa Semangat Gotong Royong Indonesia

Bagi Ria, gagasan bergandengan tangan tidak hanya merespons kondisi global. 

Tema tersebut juga berkaitan erat dengan budaya Indonesia yang mengenal semangat gotong royong.

“Kekuatan Indonesia itu kan memang gotong royongnya. Bekerja bersamanya itu DNA menurut aku. Jadi memang aku sedang dalam rangka embracing our culture,” jelasnya.

Ia menilai, mengerjakan sesuatu secara bersama dapat membuat beban terasa lebih ringan. 

Begitu pula ketika masyarakat menghadapi persoalan secara kolektif.

Pesta Boneka kemudian berusaha menerjemahkan gagasan itu melalui perjumpaan seniman dari berbagai negara. Pada edisi ke-10, festival melibatkan 33 grup dan 193 seniman dari 24 negara.

Perjumpaan lintas negara itu juga menghadirkan karya dan program yang membawa perspektif dari berbagai wilayah, termasuk pemutaran film boneka dari Palestina dan Iran.

Ria melihat seni dapat menjadi ruang untuk mengenal pihak lain secara lebih dekat. 

Sebab, masyarakat kerap mengenal suatu negara atau kelompok hanya melalui pemberitaan yang menampilkan konflik dan perselisihan.

“Kalau kita cuma lihat dari berita yang selama ini ada, mungkin festival semacam ini adalah salah satu cara untuk saling mengenal dan benar-benar mengetahui satu sama lain,” ungkapnya.

Seni Menjadi Ruang Aman untuk Bertemu

Pesta Boneka juga menempatkan seni sebagai ruang perjumpaan yang memungkinkan orang saling mendengarkan dan berbagi cerita.

Menurut Ria, fungsi seni semestinya tidak berhenti pada pertunjukan. 

Seni juga dapat membuka ruang aman bagi orang untuk bercerita dan mengenal pengalaman yang sebelumnya tidak mereka ketahui.

“Harusnya fungsi seni itu ada di situ. Dia bisa jadi ruang aman juga untuk orang bercerita,” paparnya.

Karakter teater boneka yang menggunakan beragam metode penceritaan membuat pertunjukan dapat menjangkau penonton lintas bahasa. 

Kata-kata, gerak, objek, visual, hingga teknik manipulasi boneka menjadi bagian dari bahasa pertunjukan.

Kondisi itu membuat Pesta Boneka tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga ruang interpretasi. 

Penonton dapat membawa pengalaman personal masing-masing ketika berhadapan dengan karya.

Dirancang Ramah Lintas Generasi

Semangat ‘Holding Hands’ juga terlihat dari upaya Pesta Boneka membangun ruang yang dapat dinikmati berbagai kelompok usia.

Ria menyebut, Pesta Boneka memang ingin menghadirkan festival yang ramah bagi penonton multigenerasi. 

Ia membayangkan sebuah pertunjukan dapat menjadi momen ketika anak datang bersama orang tua, bahkan cucu datang bersama kakek dan nenek.

“Peristiwa seni budaya yang bisa lintas usia itu jarang. Padahal relasi lintas usia itu penting,” imbuhnya.

Karena itu, penyelenggara memperhatikan berbagai kebutuhan penonton. 

Salah satunya dengan menempatkan area merokok jauh dari ruang aktivitas anak serta menyediakan water station.

“Kenapa memang Pesta Boneka penginnya ini ramah semua usia. Jadi benar-benar kami perhitungkan,” ujar Ria.

Upaya inklusivitas juga menyasar penonton difabel. 

Ria mengakui Papermoon dan Pesta Boneka masih memiliki keterbatasan dalam menyediakan seluruh fasilitas aksesibilitas.

Namun, ia menegaskan proses tersebut terus berjalan.

“Kami pelan-pelan. Kami mungkin belum semua pertunjukan harus ada sign language interpreter-nya. Tapi buat kami teater boneka ini hal yang bisa dinikmati dari banyak level,” ungkapnya.

Papermoon sendiri, lanjut Ria, telah cukup sering menerima teman-teman difabel dalam pertunjukan, workshop, maupun kolaborasi.

20 Tahun Papermoon, Pesta Boneka Makin Tertata

Pesta Boneka #10 sekaligus menjadi bagian dari perjalanan 20 tahun Papermoon Puppet Theatre.

Selama dua dekade, Papermoon telah memproduksi lebih dari 35 karya dalam bentuk pertunjukan, pameran, instalasi, dan kolaborasi secara independen.

Perjalanan tersebut membawa Papermoon tampil dan berbagi karya dengan penonton di lebih dari 12 negara dan empat benua.

Memasuki edisi ke-10, Ria melihat perkembangan Pesta Boneka semakin terasa dari jumlah orang yang terlibat hingga pengelolaan program.

“Banyak banget orangnya. Jadi kita juga, ‘Wah bertumbuh ya,’” katanya.

Perubahan itu salah satunya terlihat dari program Pesta BonekaOn Wheels. 

Jika sebelumnya program tersebut berkembang secara spontan melalui jaringan seniman, kini penyelenggara mulai membangunnya secara lebih terstruktur.

Tahun ini, Pesta Boneka On Wheels memiliki mitra di sejumlah kota, yakni Titik Dua Ubud di Bali, Teater Salihara di Jakarta, dan PSBK di Yogyakarta.

“Kalau sekarang benar-benar siapa yang mau extend, tinggal ‘Saya!’ Terus lewatnya mana? Bali. Oke, kita carikan partner. Sekarang lebih tertata,” ujar Ria.

Penyelenggara Pesta Boneka juga telah membuka open call sejak akhir 2025 sehingga para seniman memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan keikutsertaan.

Seniman Datang Bukan Sekadar Tampil

Ria menambahkan, salah satu kekuatan Pesta Boneka terletak pada relasi antarseniman yang terus tumbuh.

Sejumlah seniman bahkan berupaya mencari pendanaan sendiri agar dapat kembali hadir di festival. 

Ada pula seniman yang datang dengan menawarkan diri untuk terlibat dalam program lain ketika belum memiliki karya baru.

“Teman-teman merasa saking sayangnya sama penonton-penonton di Jogja. Jadi kayak, ‘Kita bisa bikin apa deh, Ria?’” tuturnya.

Situasi itu menurut Ria memperlihatkan bahwa hubungan festival dengan para seniman tidak semata-mata tentang pertunjukan dan bayaran. 

“Ada keinginan untuk bertemu, menyaksikan karya seniman lain, dan membangun jaringan,” ungkapnya. 

Pesta Boneka sendiri tumbuh sebagai artist-run festival, yakni festival yang dikelola oleh seniman. 

Ria mengatakan, model semacam itu tidak terlalu banyak ditemukan, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Dalam model tersebut, para seniman memahami kebutuhan artistik sekaligus kebutuhan ruang perjumpaan.

Dari Yogyakarta untuk Dunia

Pesta Boneka #10 tidak hanya menghadirkan pertunjukan. 

Festival ini juga menawarkan PuppetCamp Shank’s Mare Yogyakarta Version, program kolaboratif berbasis pertukaran artistik yang melibatkan 16 seniman dari 10 negara.

Program tersebut merupakan adaptasi kolaboratif karya teater boneka berbasis visual oleh Tom Lee dari Yara Arts Group, Amerika Serikat, bersama maestro teater boneka kuruma ningyo, Koryu Nishikawa V dari Jepang.

Pesta Boneka juga menghadirkan HUANINDONESIA, kolaborasi The Artground dari Singapura, Sensorium Theatre dari Australia, dan Papermoon Puppet Theatre dari Indonesia.

Program tersebut berkembang dari mentorship sejak 2019 dan mengeksplorasi metode penciptaan pertunjukan berbasis sensori untuk anak-anak neurodiversitas.

Selain pertunjukan, publik dapat mengikuti sejumlah program lain seperti When Puppeteers Cook, ALA Movies – Asian Latin America Africa Puppet Movies, Iranian and Palestinian Puppet Movies, workshop, diskusi, masterclass, hingga bazaar.

Ria mengungkapkan, seluruh rangkaian tersebut pada akhirnya kembali pada satu gagasan sederhana: bertemu.

Di tengah dunia yang semakin banyak membangun batas, Pesta Boneka #10 memilih menghadirkan ruang untuk saling mendekat.

“Ketika mengerjakan sesuatu yang bersama itu mungkin rasanya akan lebih ringan. Menerima sesuatu bersama itu mungkin lebih ringan,” pungkasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *