Home » Pertamina Pastikan Stok Pertalite di DIY Aman Meski Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250

Pertamina Pastikan Stok Pertalite di DIY Aman Meski Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250

Ilustrasi suasana di salah satu SPBU Sleman. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta –  PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan BBM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap aman setelah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan mengatakan, Pertamina telah menyiapkan cadangan BBM jauh di atas konsumsi normal harian.

“Pertamina juga menjamin stok Pertalite tersedia dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya, Rabu (10/2026).

Pertamina Siapkan Stok Pertalite 12 Kali Lipat

Pertamina mencatat stok Pertalite di DIY mencapai 12 kali lipat dari kebutuhan harian masyarakat.

Selain itu, Pertamina juga menyiapkan stok Solar hingga 20 kali lipat serta Pertamax dan Pertamina Dex masing-masing sekitar 18 kali lipat dari konsumsi harian.

Menurut Taufiq, ketersediaan stok tersebut mampu mengantisipasi potensi peningkatan konsumsi Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax.

“Stok aman banget di Fuel Terminal Rewulu maupun di seluruh SPBU,” jelasnya.

Pertamina juga terus memantau pola konsumsi masyarakat dan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan distribusi BBM tetap lancar.

Mayoritas Masyarakat Masih Memilih Pertalite

Data Pertamina menunjukkan mayoritas masyarakat Jawa Bagian Tengah masih menggunakan BBM subsidi dan penugasan yang tidak mengalami kenaikan harga.

Hingga Juni 2026, masyarakat menggunakan Pertalite sebesar 73,3 persen dari total konsumsi gasoline.

Sementara konsumsi Pertamax mencapai 25,9 persen. Adapun Pertamax Turbo dan Pertamax Green hanya menyumbang sekitar 0,9 persen.

Pada segmen gasoil, masyarakat mengonsumsi Biosolar hingga 96,6 persen.

Sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara gabungan hanya mencapai 3,4 persen.

Data tersebut menunjukkan lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang tidak mengalami penyesuaian harga.

Pertamina Nilai Dampak Kenaikan Harga Terbatas

Pertamina menilai kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green tidak akan berdampak signifikan terhadap mayoritas masyarakat karena pengguna BBM subsidi masih mendominasi.

Perusahaan terus menjaga kelancaran distribusi energi dan memastikan seluruh SPBU memperoleh pasokan sesuai kebutuhan.

“Pertamina menjalankan penyesuaian harga BBM non-subsidi sesuai ketentuan pemerintah dan tetap menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat,” ujar Taufiq.

Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green

Mulai 10 Juni 2026, Pertamina menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sementara itu, Pertamina mempertahankan harga Pertamax Turbo di level Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menambahkan, perusahaan mengambil keputusan tersebut setelah melakukan evaluasi harga minyak dunia dan berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator.

Menurut Roberth, Pertamina perlu menyesuaikan harga BBM non-subsidi untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi dan distribusi BBM berkualitas di seluruh Indonesia.

Pertalite dan Biosolar Tetap Tidak Naik

Di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi, Pertamina tetap mempertahankan harga BBM subsidi.

Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

Pertamina juga memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh Pertamax, Pertamax Green, Pertalite, maupun Biosolar dengan mudah di seluruh jaringan SPBU.

“Kami memastikan pasokan BBM tetap aman dan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal,” kata Roberth.

Pertamina Imbau Masyarakat Tidak Panik

Pertamina mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok BBM di DIY masih sangat mencukupi.

Perusahaan juga terus mengawasi distribusi BBM untuk mengantisipasi perubahan pola konsumsi pasca kenaikan harga Pertamax.

Dengan cadangan stok yang melimpah dan distribusi yang terkendali, Pertamina optimistis kebutuhan energi masyarakat DIY tetap terpenuhi selama periode penyesuaian harga BBM non-subsidi. (Icha).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *