PROSA.ID, Yogyakarta – Pertumbuhan penumpang kereta api di Yogyakarta mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan pengembangan Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Lempuyangan.
KAI akan memperkuat konektivitas, integrasi transportasi publik, fasilitas pelayanan, hingga penataan kawasan stasiun untuk mengantisipasi peningkatan mobilitas masyarakat.
Sepanjang Januari–September 2026, aktivitas penumpang kereta api jarak jauh dan lokal di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta mencapai 11.996.034, meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 10.807.131.
Vice President of Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan, Yogyakarta menjadi salah satu destinasi favorit pengguna kereta api jarak jauh.
Pertumbuhan jumlah penumpang tersebut menunjukkan potensi pengembangan layanan perkeretaapian di wilayah ini masih terbuka.
“Yogyakarta menjadi destinasi favorit ataupun nomor satu untuk kereta jarak jauh. Dan ini kita sudah melihat ada 11 juta penumpang lebih yang datang ke Yogyakarta untuk naik kereta api,” kata Anne di Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).
Secara nasional, KAI Group melayani 394.443.300 penumpang selama Januari–September 2026.
Jumlah tersebut tumbuh 7,06 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika total penumpang mencapai 368.429.917 orang.
KAI Kembangkan Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan
Anne mengungkapkan, KAI melihat peluang pertumbuhan penumpang di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Lempuyangan.
Karena itu, perusahaan menyiapkan pengembangan kedua stasiun tersebut secara bertahap.
Pengembangan diarahkan untuk memperkuat pelayanan kereta komuter sekaligus menangani kebutuhan perjalanan kereta antarkota.
Dalam jangka panjang, KAI juga mengarahkan penataan agar pelayanan kedua jenis perjalanan tersebut dapat lebih terpisah.
“Pengembangan-pengembangan baik di Lempuyangan dan juga Jogja yaitu untuk pelayanan commuter, kemudian penanganan intercity. Nanti ke depannya ini bisa terpisah,” ujar Anne.
Menurutnya, peningkatan jumlah penumpang perlu diikuti penataan infrastruktur dan fasilitas yang memudahkan masyarakat berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya.
KAI menetapkan empat fokus utama pengembangan stasiun, yakni konektivitas, integrasi antarmoda, peningkatan pelayanan stasiun, dan pengelolaan kawasan.
“Keempat fokus ini diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan penumpang yang semakin beragam, baik untuk perjalanan antarkota, aktivitas komuter, maupun perjalanan wisata,” jelasnya.
Empat Fokus Pengembangan Stasiun
Fokus pertama adalah meningkatkan konektivitas. KAI ingin memastikan akses menuju stasiun semakin mudah sehingga penumpang dapat menjangkau layanan kereta api dengan lebih nyaman.
Fokus kedua adalah integrasi antarmoda. Menurut Anne, pertumbuhan pengguna kereta api harus diimbangi keterhubungan dengan transportasi publik lainnya agar mobilitas masyarakat tidak semakin membebani jalan raya.
“Dengan bertumbuhnya volume penumpang kereta api, kita harus terintegrasi dengan transportasi publik untuk menghindari kemacetan,” ungkapnya.
Fokus ketiga, mencakup peningkatan pelayanan di dalam dan sekitar stasiun. Aspek yang diperhatikan antara lain fasilitas parkir, area naik dan turun penumpang, serta fasilitas pendukung perjalanan lainnya.
Sementara itu, fokus keempat adalah pengelolaan kawasan atau transit-oriented development (TOD).
“Konsep ini mengarahkan pengembangan kawasan di sekitar stasiun agar terhubung dengan pusat bisnis, hotel, wisata kuliner, dan kegiatan perkotaan lainnya,” ujarnya.
Stasiun Yogyakarta Layani Empat Jenis Layanan Kereta
Besarnya kebutuhan integrasi transportasi terlihat dari beragam layanan kereta yang beroperasi di wilayah Yogyakarta.
Berdasarkan paparan KAI, terdapat empat layanan utama yang saling melengkapi, yakni kereta api jarak jauh dan lokal, Commuter Line Area VI, KA Prameks, serta KA Bandara YIA.
Selama Januari–September 2026, layanan kereta api jarak jauh dan lokal di Daop 6 mencatat 11,99 juta aktivitas penumpang.
Sementara itu, Commuter Line Area VI melayani sekitar 7,16 juta pelanggan, meningkat 7,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
KA Prameks pada relasi Yogyakarta–Kutoarjo mencatat sekitar 870 ribu pelanggan, tumbuh 5,03 persen.
Adapun KA Bandara YIA mencatat sekitar 2,01 juta pelanggan dalam periode yang sama, turun 4,24 persen berdasarkan data pembanding dalam paparan KAI.
Angka layanan bandara tersebut menggabungkan pencatatan selama masa transisi operator.
“Keempat layanan itu menunjukkan pentingnya keterhubungan antarmoda dan kemudahan perpindahan penumpang di kawasan stasiun,” imbuh Anne.
Anne menyebut, Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun dengan jumlah pelanggan naik atau gate-in tertinggi dalam ekosistem empat layanan tersebut.
Sepanjang Januari–September 2026, jumlahnya mencapai 5.488.259 pelanggan.
Stasiun Lempuyangan menempati posisi berikutnya dengan 2.114.387 pelanggan, disusul Stasiun Solo Balapan sebanyak 1.958.718 pelanggan.
“Kami menilai pengembangan akses dan integrasi transportasi diperlukan agar peningkatan volume pelanggan dapat diimbangi pelayanan yang lebih tertata,” tandasnya.
Penataan Akses Stasiun Lempuyangan hingga Sisi Selatan Stasiun Yogyakarta
Dalam paparan kinerja Daop 6, KAI juga mencantumkan sejumlah agenda pengembangan akses dan kawasan stasiun.
Di Stasiun Lempuyangan, rencana pengembangan mencakup pembangunan jalur atau jalan khusus bagi pengguna jalan umum.
Langkah ini diarahkan untuk mendukung akses menuju stasiun sekaligus menata pergerakan masyarakat di kawasan tersebut.
Sementara itu, Stasiun Yogyakarta direncanakan memperoleh pengembangan integrasi antarmoda di sisi selatan.
Penataan tersebut bertujuan mempermudah perpindahan penumpang dan memperbaiki akses kawasan stasiun.
Di luar Yogyakarta, agenda pengembangan Daop 6 juga mencakup penataan Stasiun Solo Jebres dan pengembangan akses Stasiun Palur, termasuk rencana penataan dua pintu akses di Palur.
“Pengembangan kawasan membutuhkan kerja sama berbagai pihak karena KAI tidak dapat berjalan sendiri dalam mengatur konektivitas dan tata ruang di sekitar stasiun,” tegas Anne.
KAI Koordinasi dengan Kementerian, Pemda, dan Kesultanan
Pengembangan stasiun dan kawasan di Yogyakarta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
KAI perlu menyelaraskan rencana tersebut dengan kebijakan pemerintah, kebutuhan transportasi publik, serta penataan kawasan di sekitarnya.
Anne menambahkan, koordinasi dilakukan bersama kementerian, konsultan, pemerintah daerah, hingga Kesultanan Yogyakarta.
“Dalam pengembangan kawasan KAI tidak sendiri, kita harus bekerja sama dengan berbagai pihak,” lanjut Anne.
Koordinasi tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan pengembangan yang tidak hanya berorientasi pada bangunan stasiun, tetapi juga akses jalan, perpindahan moda, dan hubungan kawasan stasiun dengan pusat aktivitas masyarakat.
“Pembahasan teknis dan tahapan pelaksanaan pengembangan masih perlu mengikuti koordinasi antarpihak terkait,” tutur Anne.
Pelanggan WNA di Daop 6 Naik 6,59 Persen
Peningkatan mobilitas di Yogyakarta juga tercermin dari bertambahnya jumlah pelanggan warga negara asing (WNA) yang menggunakan kereta api.
KAI mencatat 136.069 pelanggan WNA di Daop 6 selama Januari–September 2026.
Jumlah ini meningkat 6,59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 127.660 pelanggan.
Pada tingkat regional, data yang dicantumkan dalam paparan KAI menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara ke Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 26,75 juta perjalanan selama Januari–Juli 2026, meningkat 9,15 persen secara tahunan.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara ke DIY selama Januari–Agustus 2026 tercatat sebanyak 30,64 juta perjalanan, tumbuh 11,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan perjalanan wisata tersebut menjadi salah satu konteks penting bagi pengembangan transportasi publik.
“Integrasi stasiun dengan pusat wisata, hotel, dan kawasan bisnis berpotensi mempermudah perjalanan pengunjung selama berada di Yogyakarta,” pungkasnya. (Ken).
