Home » Pakar UMY: Konflik Houthi-Saudi Tak Bisa Diselesaikan dengan Perang

Pakar UMY: Konflik Houthi-Saudi Tak Bisa Diselesaikan dengan Perang

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Idham Badruzaman. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Konflik kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi tidak akan menemukan penyelesaian melalui kekuatan militer. 

Diplomasi dan perundingan perlu kembali menjadi jalan utama untuk menghentikan eskalasi konflik di Yaman dan kawasan Timur Tengah.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Idham Badruzaman menegaskan, kedua pihak perlu membuka ruang dialog untuk mengakhiri kekerasan.

“Tidak ada solusi militer. Resolusi hanya dapat dicapai melalui diplomasi,” ujar Idham dikutip Selasa, (20/10/2026).

Seperti diketahui, pada Selasa (13/10/2026), koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang fasilitas penyimpanan minyak di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi. 

Sementara itu, kelompok Houthi terus melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah objek vital di Arab Saudi.

Menurut Idham, peningkatan serangan hanya berisiko memperpanjang konflik dan menambah penderitaan masyarakat sipil.

Indonesia dan ASEAN Bisa Dorong Perdamaian

Idham menilai, Indonesia memiliki modal diplomatik untuk mendorong penyelesaian konflik. 

Hubungan baik Indonesia dengan berbagai pihak di Timur Tengah dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat komunikasi dan membuka kembali jalur perundingan.

“Indonesia juga dapat memanfaatkan forum multilateral untuk menyuarakan penghentian kekerasan,” katanya. 

Idham mendorong pemerintah mengambil peran lebih aktif dengan mengajak ASEAN berkontribusi dalam upaya perdamaian.

“Indonesia memiliki hubungan baik dengan semua pihak. Peran tersebut seharusnya dapat dimaksimalkan, termasuk dengan lebih lantang memimpin ASEAN untuk berkontribusi dalam upaya perdamaian,” jelasnya.

Idham menyebut, konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung. 

Eskalasi berkepanjangan juga berpotensi memengaruhi stabilitas Asia Tenggara melalui kenaikan harga energi, gangguan perdagangan, dan ketidakpastian geopolitik.

Karena itu, negara-negara ASEAN perlu menjaga stabilitas kawasan melalui dialog dan kerja sama. 

“Perdamaian di Asia Tenggara bukan sesuatu yang dapat dipertahankan tanpa upaya bersama,” ungkapnya. 

Serangan terhadap Warga Sipil Tak Bisa Dibenarkan

Selain mendorong diplomasi, Idham menekankan pentingnya melindungi warga sipil sesuai prinsip hukum internasional. 

Ia menegaskan bahwa tindakan satu pihak yang menyerang warga sipil tidak dapat menjadi alasan bagi pihak lain untuk melakukan tindakan serupa.

Idham menyinggung serangan terhadap bus yang membawa anak-anak di Saada, Yaman, pada 2018. 

Peristiwa tersebut menjadi salah satu insiden yang disorot dalam tudingan Houthi terhadap koalisi pimpinan Arab Saudi.

Namun, ia mengingatkan bahwa dugaan pelanggaran oleh satu pihak tidak membenarkan serangan balasan yang menyasar warga sipil.

“Serangan terhadap warga sipil oleh satu pihak tidak dapat membenarkan pihak lain untuk melakukan serangan balasan terhadap warga sipil,” tegasnya.

Dalam eskalasi terbaru, serpihan dua rudal jelajah yang berhasil dicegat pertahanan udara Arab Saudi melukai empat orang di Riyadh pada Selasa (13/10/2026). 

Korban terdiri atas dua perempuan, seorang laki-laki, dan seorang anak. Insiden tersebut juga menyebabkan kerusakan ringan pada 15 rumah.

Bagi Idham, perlindungan warga sipil harus tetap menjadi prinsip utama, apa pun pihak yang terlibat dalam konflik.

Penegakan Hukum Internasional Menghadapi Tekanan

Idham juga menilai penegakan hukum internasional menghadapi tekanan serius. 

Ia menambahkan, lembaga internasional belum sepenuhnya mampu memastikan pertanggungjawaban yang setara bagi semua pihak, terutama ketika berhadapan dengan kepentingan negara-negara kuat.

Ia mencontohkan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC), termasuk terhadap sejumlah hakim dan jaksa lembaga tersebut.

Idham turut menyoroti berbagai tindakan negara kuat yang dinilainya memperlemah penghormatan terhadap hukum internasional.

“Operasi militer Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela serta ledakan perangkat penyeranta atau pager di Lebanon yang dikaitkan dengan Israel dan menimbulkan korban sipil, termasuk anak-anak,” tandasnya. 

Idham mengungkapkan, berbagai peristiwa tersebut memperlihatkan tantangan dalam menegakkan hukum internasional secara konsisten.

Ia berharap kemampuan Houthi menembus pertahanan Arab Saudi tidak membuat kedua pihak semakin meningkatkan serangan. 

Sebaliknya, perkembangan tersebut seharusnya mendorong mereka kembali ke meja perundingan.

“Harapannya, kondisi ini membawa kedua pihak ke meja perundingan, bukan justru meningkatkan serangan militer masing-masing,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *