Home » Momen Iduladha, Haedar Nashir Serukan Spiritualitas Takwa untuk Jawab Krisis Moral Bangsa

Momen Iduladha, Haedar Nashir Serukan Spiritualitas Takwa untuk Jawab Krisis Moral Bangsa

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam membangkitkan spiritualitas takwa saat momentum Iduladha 2026.

Haedar menilai, Iduladha tidak hanya bermakna salat Id dan penyembelihan hewan kurban semata.

Menurutnya, ibadah tersebut harus membentuk pribadi bertakwa dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengatakan, seluruh ibadah dalam Islam bertujuan membangun manusia yang tunduk kepada Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

“Substansi Iduladha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas manusia,” kata Haedar, Selasa (26/5/2026).

Haedar menegaskan, Allah tidak menilai daging maupun darah hewan kurban.

“Allah menilai ketakwaan orang yang melaksanakan ibadah tersebut,” jelas Haedar.

Keteladanan Nabi Ibrahim Dinilai Relevan dengan Kondisi Saat Ini

Haedar menyebut, keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail menunjukkan spiritualitas takwa yang revolusioner.

Ketiganya memperlihatkan kepasrahan penuh kepada kehendak Allah SWT.

Menurutnya, Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya demi menjalankan perintah Allah SWT.

Sementara Siti Hajar dan Nabi Ismail menunjukkan keteguhan iman serta kepatuhan tinggi.

“Ketiganya menjadi teladan tentang bagaimana ketakwaan melahirkan pengorbanan dan kebajikan,” ujarnya.

Haedar menjelaskan, spiritualitas takwa mampu membebaskan manusia dari kerakusan duniawi dan egoisme pribadi.

Dari sikap itu lahir perilaku ihsan atau kebajikan sosial.

“Nilai-nilai Iduladha dapat melahirkan pribadi yang jujur, sederhana, tulus, dan peduli terhadap sesama manusia,” paparnya.

Haedar Kritik Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan

Haedar juga menyoroti berbagai persoalan bangsa yang masih terjadi hingga sekarang.

Ia mengungkapkan korupsi, konflik sosial, dan kesenjangan sosial muncul akibat krisis moral manusia.

Manusia, lanjut Haedar, yang kehilangan nilai takwa mudah terjebak pada penyalahgunaan kekuasaan dan kerakusan ekonomi.

“Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak korupsi dan tidak semena-mena menggunakan kekuasaan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kerakusan manusia sering melahirkan tindakan yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat luas.

Haedar menilai bangsa Indonesia membutuhkan kebangkitan spiritualitas takwa untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bersama.

Media Sosial Harus Jadi Ruang Akhlak dan Persatuan

Dalam konteks kehidupan modern, Haedar mengingatkan pentingnya menjaga akhlak di ruang publik dan media sosial.

Ia meminta masyarakat menghindari ujaran kebencian, hoaks, fitnah, dan perilaku digital yang memecah persatuan bangsa.

“Ketakwaan harus tercermin dalam cara bermedia sosial dan menjaga ukhuwah,” katanya.

Haedar berharap, Iduladha menjadi momentum transformasi moral bagi umat Islam dan masyarakat Indonesia secara luas.

“Spiritualitas takwa harus hadir dalam tindakan nyata, kebijakan publik, dan kehidupan sehari-hari masyarakat,” tandasnya.

Haedar Minta Generasi Muda Hindari Budaya Instan

Haedar turut memberikan pesan khusus kepada generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa. Ia meminta generasi muda membangun karakter unggul melalui spiritualitas takwa.

Ia berharap, anak muda gemar membaca, mencintai ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan memiliki etos kerja tinggi.

Selain itu, Haedar meminta generasi muda menjauhi budaya malas, hedonisme, dan kebiasaan pamer kemewahan di media sosial.

“Spiritualitas takwa harus melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, dan bermanfaat bagi kehidupan,” pungkasnya. (Icha).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *