Home » Kemendukbangga Gandeng Dunia Usaha Bangun Pengasuhan Anak Berkualitas

Kemendukbangga Gandeng Dunia Usaha Bangun Pengasuhan Anak Berkualitas

Menteri Kemendukbangga/Kepala BKKBN, Wihaji, bersama Pemkab Bantul dan jajaran mengunjungi Taman Asuh Adiku milik PT Yogyakarta Tembakau Indonesia (YTI), Jumat (26/6/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Pemerintah memperkuat standar layanan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai respons atas kasus dugaan kekerasan di sebuah daycare di Yogyakarta yang sempat menyita perhatian publik.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan setiap daycare harus mengutamakan keselamatan, kualitas pengasuhan, serta transparansi layanan.

Hal tersebut diupayakan melalui pengasuh bersertifikat, sistem pemantauan kesehatan, dan CCTV yang dapat diakses orang tua.

Komitmen itu disampaikan saat Wihaji mengunjungi Taman Asuh Adiku milik PT Yogyakarta Tembakau Indonesia (YTI), Jumat (26/6/2026).

Negara Hadir Dukung Orang Tua Tetap Produktif

Wihaji menjelaskan, pemerintah menghadirkan program Tamasya sebagai solusi bagi keluarga pekerja.

Khususnya perempuan yang ingin tetap berkarier tanpa mengorbankan pengasuhan anak.

Menurutnya, masih banyak perempuan yang memilih menunda memiliki anak atau meninggalkan pekerjaannya karena belum tersedia layanan pengasuhan yang aman dan berkualitas.

Pemerintah ingin memastikan kondisi tersebut tidak lagi menjadi hambatan.

“Negara harus hadir agar orang tua dapat bekerja dengan tenang, sementara anak tetap memperoleh pengasuhan yang baik,” ujar Wihaji kepada media.

Ia mengatakan, pengembangan Tamasya juga menjawab aspirasi para pekerja yang menginginkan fasilitas daycare di lingkungan perusahaan.

Untuk itu, Kemendukbangga/BKKBN menggandeng berbagai kementerian, lembaga, asosiasi pengusaha, hingga dunia usaha agar semakin banyak perusahaan menyediakan layanan pengasuhan anak.

“Hingga saat ini, sebanyak 3.366 Tamasya telah berada dalam pendampingan Kemendukbangga/BKKBN di berbagai daerah di Indonesia,” ungkapnya.

Daycare Harus Menjadi Tempat Pengasuhan Berkualitas

Menteri Wihaji meninjau langsung ruang Taman Asuh Adiku milik PT Yogyakarta Tembakau Indonesia (YTI), Jumat (26/6/2026).

Wihaji menjelaskan, pemerintah tidak ingin kasus dugaan kekerasan terhadap anak di daycare kembali terulang.

Karena itu, seluruh Tamasya wajib memenuhi standar pelayanan dan perlindungan anak.

Ia menilai, daycare bukan hanya tempat menitipkan anak, tetapi menjadi ruang yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

“Daycare bukan sekadar tempat penitipan anak. Ini adalah tempat pengasuhan yang memastikan anak tumbuh sehat, aman, dan berkembang secara optimal,” tegasnya.

Saat meninjau Taman Asuh Adiku, Wihaji memeriksa ruang bermain, fasilitas mandi, layanan bagi anak berkebutuhan khusus, hingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami meminta menu makanan disesuaikan dengan usia anak agar kebutuhan gizi benar-benar terpenuhi,” tandasnya.

Empat Standar Wajib Tamasya

Kemendukbangga menetapkan empat layanan utama yang harus dipenuhi setiap Tamasya, yaitu pemantauan kesehatan anak, pemantauan tumbuh kembang, komunikasi rutin antara pengasuh dan orang tua, serta sistem rujukan layanan kesehatan.

Selain itu, setiap pengelola diwajibkan membangun komunikasi yang intensif dengan orang tua agar perkembangan anak dapat dipantau secara bersama-sama.

“Orang tua harus mengetahui perkembangan tinggi badan, berat badan, pola tidur hingga kondisi kesehatan anak. Komunikasi itu menjadi bagian penting dari pengasuhan,” kata Wihaji.

Bantul Perketat Persyaratan Daycare

Pemerintah Kabupaten Bantul langsung menindaklanjuti penguatan standar tersebut dengan menyempurnakan persyaratan pendirian dan operasional daycare.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta mengungkapkan, pemerintah daerah akan mewajibkan seluruh daycare memasang kamera pengawas (CCTV) yang dapat diakses langsung oleh orang tua.

Langkah itu diharapkan meningkatkan rasa aman sekaligus memperkuat pengawasan terhadap layanan pengasuhan.

“Kami mewajibkan setiap daycare memasang CCTV yang dapat dikoneksikan dengan orang tua. Dengan begitu, orang tua bisa memantau anaknya dari tempat kerja sehingga bekerja menjadi lebih tenang,” ujarnya.

Selain itu, Pemkab Bantul juga mewajibkan seluruh pengasuh memiliki sertifikat kompetensi dan keahlian khusus dalam pengasuhan anak.

Saat ini terdapat 61 daycare di Kabupaten Bantul. Sebagian besar telah mengantongi izin operasional, sedangkan sisanya masih menyelesaikan proses administrasi perizinan.

PT YTI: Daycare Wujud Komitmen Perusahaan Ramah Keluarga

Direktur Utama PT Yogyakarta Tembakau Indonesia, Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono, melalui Direktur PT YTI, Cahyo Indarto, menambahkan, perusahaan menghadirkan Taman Asuh Adiku sebagai bentuk kepedulian terhadap para pekerja yang memiliki anak usia tumbuh kembang.

Cahyo menjelaskan, perusahaan ingin membantu meringankan beban para karyawan sekaligus memastikan anak-anak mereka memperoleh pengasuhan yang berkualitas selama orang tua bekerja.

“Taman Asuh Adiku merupakan langkah nyata dalam mewujudkan lingkungan kerja yang ramah keluarga dan ramah anak,” tandasnya.

Cahyo mengatakan, program ini tidak hanya menjadi fasilitas pendukung bagi para pekerja.

Namun juga menjadi bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal serta meningkatkan kesejahteraan keluarga pekerja.

“Keberadaan daycare juga memberikan manfaat bagi perusahaan,” paparnya.

Ketika kebutuhan keluarga mendapat perhatian, semangat kerja, loyalitas, dan produktivitas karyawan ikut meningkat sehingga tercipta hubungan yang saling menguatkan antara kesejahteraan pekerja dan kemajuan perusahaan.

Bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), Cahyo mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi antara keluarga, perusahaan, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

“Melalui sinergi itu, kita dapat menciptakan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” imbuhnya.

Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Pada kesempatan tersebut, Wihaji mengapresiasi PT YTI yang telah mengelola Taman Asuh Adiku selama lebih dari 11 tahun.

Ia berharap, semakin banyak perusahaan mengikuti langkah tersebut sehingga pekerja, khususnya perempuan, tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara membangun karier atau mengasuh anak.

Ia menilai, kolaborasi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci dalam membangun ekosistem pengasuhan anak yang aman, profesional, dan berkualitas.

“Kita ingin membangun sistem pengasuhan yang baik. Anak mendapat layanan terbaik, orang tua bekerja dengan tenang, dan perusahaan ikut berkontribusi menciptakan keluarga yang berkualitas,” pungkas Wihaji. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *