PROSA.ID, Bengkulu – Komisi A DPRD DIY menelusuri jejak perjuangan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, melalui kunjungan ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu.
Kunjungan dalam rangka Bulan Bung Karno 2026 ini bertujuan memperkuat pemahaman tentang nilai perjuangan, nasionalisme, dan semangat kebangsaan yang diwariskan Bung Karno selama menjalani pengasingan pada 1938–1942.
Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana, menegaskan bahwa pengasingan tidak pernah menghentikan perjuangan Bung Karno.
Meski pemerintah kolonial Belanda membatasi ruang geraknya, Bung Karno tetap menyebarkan gagasan kemerdekaan melalui pendidikan, kesenian, dan aktivitas sosial yang dekat dengan masyarakat.
“Pak Karno tetap memegang teguh prinsip perjuangannya. Walaupun menjalani pengasingan, beliau terus berkarya dan menyampaikan gagasan kebangsaan melalui berbagai aktivitas yang diterima masyarakat. Semangat seperti inilah yang harus menjadi teladan bagi generasi sekarang,” ujar Guska, Kamis (11/6/2026).
Pemerintah Kolonial Jadikan Rumah Warga Tionghoa sebagai Tempat Pengasingan
Pemandu Rumah Pengasingan Bung Karno, Safrida Hanum menjelaskan, seorang warga keturunan Tionghoa membangun rumah tersebut pada 1918.
Pemerintah kolonial Belanda kemudian menyewa bangunan itu untuk menempatkan Bung Karno selama masa pengasingannya di Bengkulu.
Selama empat tahun di Bengkulu, Bung Karno tinggal bersama istri keduanya, Inggit Garnasih, serta dua anak angkat mereka yang dibawa dari Bandung, salah satunya Ratna Juwami.
“Di rumah inilah Bung Karno menjalani pengasingan bersama Ibu Inggit dan anak-anak angkat mereka. Dari lingkungan rumah ini pula Bung Karno mulai mengenal Fatmawati yang saat itu masih menjadi murid beliau,” jelas Hanum.
Hingga kini, pengelola masih menjaga berbagai peninggalan asli Bung Karno di rumah tersebut.
Pengunjung masih dapat melihat meja kerja, kursi, tempat tidur, sepeda, hingga koleksi buku yang pernah digunakan Bung Karno selama masa pengasingan.
Bung Karno Bangun Kelompok Teater Monte Carlo di Bengkulu
Selama menjalani pengasingan, Bung Karno tidak hanya memikirkan perjuangan politik.
Ia juga menggerakkan aktivitas seni dan budaya sebagai sarana membangun kesadaran nasional masyarakat.
Hanum menjelaskan, Bung Karno membentuk kelompok sandiwara atau teater bernama Monte Carlo yang melibatkan masyarakat Bengkulu.
Kelompok tersebut juga melibatkan Inggit Garnasih dan Fatmawati yang saat itu masih berstatus murid Bung Karno.
Melalui kelompok teater itu, Bung Karno menulis naskah, menyutradarai pertunjukan, merancang panggung, hingga melatih para pemain.
Bung Karno Ciptakan Belasan Karya Sandiwara
Sejarawan sekaligus seniman Bengkulu, Agus, mengungkapkan bahwa Bung Karno memanfaatkan kesenian untuk mengusir kejenuhan sekaligus menyebarkan semangat nasionalisme kepada masyarakat.
“Selama empat tahun di Bengkulu, Bung Karno menghasilkan sekitar 12 karya sandiwara. Beliau menulis skenario, menjadi sutradara, mendesain panggung, dan melatih para pemain secara langsung,” kata Agus.
Beberapa karya yang berhasil dipentaskan antara lain Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Hantu Gunung Bungkuk, dan Dokter Setan.
Bung Karno juga menulis naskah tentang ramalan Indonesia merdeka, namun Jepang keburu memasuki Indonesia pada 1942 sehingga pementasan tidak pernah terlaksana.
Agus kemudian mendokumentasikan jejak kesenian Bung Karno dalam buku berjudul Bung Karno: Maestro Monte Carlo.
Ia menilai, kelompok sandiwara Monte Carlo menjadi salah satu media perjuangan Bung Karno yang efektif untuk menanamkan nilai kebangsaan kepada masyarakat Bengkulu.
Selain meninggalkan jejak di rumah pengasingan, Bung Karno juga merancang Masjid Jami Bengkulu yang berada di Jalan Suprapto, dekat Pasar Minggu.
“Hingga kini masyarakat masih menggunakan masjid tersebut sebagai pusat ibadah,” jelasnya.
Selama berada di Bengkulu, Bung Karno aktif mengajar dan berinteraksi dengan masyarakat.
Ia juga menjalin hubungan erat dengan keluarga Fatmawati yang kemudian menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Ratusan Wisatawan Kunjungi Rumah Pengasingan Setiap Pekan
Rumah Pengasingan Bung Karno kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Bengkulu.
Pengelola mencatat sekitar 50 pengunjung datang setiap hari kerja, sedangkan jumlah wisatawan meningkat hingga ratusan orang setiap akhir pekan.
Melalui kunjungan tersebut, DPRD DIY berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mempelajari langsung bagaimana Bung Karno tetap berkarya, menggerakkan masyarakat, dan menanamkan semangat kebangsaan meski hidup dalam keterbatasan selama masa pengasingan.
Kisah Bung Karno di Bengkulu membuktikan bahwa pengasingan tidak pernah mampu membungkam gagasan besar.
Justru dari kota inilah lahir berbagai karya, pemikiran, dan semangat perjuangan yang terus menginspirasi bangsa Indonesia hingga hari ini. (Ken).
