Home » Haedar Nashir: Pancasila Jangan Hanya Jadi Retorika, Harus Hadir dalam Kebijakan dan Kehidupan Nyata

Haedar Nashir: Pancasila Jangan Hanya Jadi Retorika, Harus Hadir dalam Kebijakan dan Kehidupan Nyata

Ilustrasi Hari Lahir Pancasila. (AI).

PROSA.ID, Yogyakarta – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak seluruh elemen bangsa mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila secara nyata.

Menurut Haedar, peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni tidak boleh berhenti pada seremoni dan pidato.

Ia menilai tantangan utama bangsa saat ini bukan kurangnya peringatan Pancasila.

Masalah utamanya adalah lemahnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila harus menjadi praktik hidup dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara,” kata Haedar, Senin (1/6/2026).

Ia menegaskan, bangsa membutuhkan gerakan kebangsaan yang kuat untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila.

Politik Harus Mengutamakan Musyawarah

Haedar menyoroti praktik politik yang sering berorientasi pada perebutan kekuasaan. Menurutnya, politik harus mencerminkan sila keempat Pancasila.

Politik harus mengedepankan musyawarah, kebijaksanaan dan juga harus berpihak pada kepentingan bangsa.

“Politik tidak boleh sekadar menjadi arena kemenangan kelompok tertentu,” tegasnya.

Nilai Pancasila Harus Melembaga

Haedar meminta lembaga pembinaan ideologi memastikan nilai Pancasila melembaga dalam berbagai sektor.

Ia menyebut sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pemerintahan harus mencerminkan nilai Pancasila.

Namun, ia mengingatkan penguatan Pancasila tidak boleh bersifat indoktrinatif.

Nilai dasar Pancasila harus melahirkan etika dan orientasi kebijakan yang luhur.

Pancasila Adalah Ideologi Moderat

Haedar menegaskan, Pancasila merupakan ideologi yang moderat.

Pancasila tidak berpihak pada ideologi ekstrem. Ia menilai, Pancasila tidak bersifat sekuler, liberal, maupun kapitalistik.

Pancasila juga tidak sejalan dengan marxisme dan paham ekstrem lainnya.

“Pancasila selaras dengan nilai agama dan tidak bersikap antiagama,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat menjaga cara pandang yang moderat terhadap kehidupan berbangsa.

Soroti Korupsi hingga Oligarki

Dalam refleksi Hari Lahir Pancasila, Haedar mengajak masyarakat mengevaluasi praktik penyelenggaraan negara.

Ia mempertanyakan kesesuaian kebijakan pemerintah dengan nilai-nilai Pancasila.

Haedar menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa.

Persoalan itu meliputi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kesenjangan sosial.

Selain itu, ia juga menyoroti eksploitasi sumber daya alam, premanisme, dan praktik oligarki.

“Masalah ini masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Pancasila harus dibumikan dalam realitas kehidupan bangsa,” ungkapnya.

Generasi Muda Butuh Keteladanan

Haedar menambahkan, generasi muda membutuhkan contoh nyata dari para pemimpin.

Ia menyebut generasi milenial, Generasi Z, dan Generasi Alfa lebih menuntut bukti daripada slogan.

Karena itu, pejabat dan elite politik harus menunjukkan keteladanan.

Mereka harus mempraktikkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Generasi muda membutuhkan role model yang bisa digugu dan ditiru,” ujarnya.

Jangan Sampai Pancasila Hilang dari Indonesia

Haedar menegaskan Pancasila akan hadir jika masyarakat menerapkannya secara konsisten.

Nilai Pancasila harus tercermin dalam pola pikir, perilaku, dan kebijakan publik.

Sebaliknya, Pancasila akan kehilangan makna jika hanya menjadi slogan.

Ia mengingatkan bahaya retorika tanpa tindakan nyata.

“Jangan sampai Pancasila hadir dalam kata-kata, tetapi absen dalam kenyataan,” tegasnya.

“Jika nilai-nilai Pancasila tidak terwujud, maka sejatinya Pancasila hilang dari bumi Indonesia,” pungkas Haedar. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *