Home » Fstvlst Rilis Album Ketiga ‘Paradoks Diametral’, Hadirkan 12 Lagu dengan Nuansa Eksperimental

Fstvlst Rilis Album Ketiga ‘Paradoks Diametral’, Hadirkan 12 Lagu dengan Nuansa Eksperimental

Album ketiga Fstvls 'Paradoks Diametral'. (X@FSTVLS).

PROSA.ID, Yogyakarta – Band asal Yogyakarta, Fstvlst resmi merilis album ketiga bertajuk Paradoks Diametral pada 1 Mei 2026.

Album ini menghadirkan 12 lagu dengan karakter musik yang tetap liar, eksperimental, dan khas, sesuai identitas genre yang mereka sebut sebagai “Almost Rock Barely Art”.

Dalam album terbaru ini, Fstvlst kembali menunjukkan keberanian mereka mengeksplorasi warna musik yang berbeda dibanding rilisan sebelumnya. Meski demikian, identitas musikal khas band tersebut masih terasa kuat di setiap track.

Album Paradoks Diametral diproduseri gitaris Fstvlst, Roby Talok bersama vokalis Barasuara, Iga Massardi.

Sebanyak 12 lagu masuk dalam album ini, yakni “Tri Esa (ibid., Op. Cit., Loc. Cit.)”, “Jefferson”, “Objek Vital Nasional”, “Enam Masa”, “Doa Lamat-lamat”, “Rat Purwa”, “Terima-Terrima”, “Pratuntas”, “Sumpah Galaxy”, “Apa Kabar Opus”, “Poli Fono Foto Fantasi”, dan “Rock Jelek”.

Dua lagu di album tersebut sebenarnya telah lebih dulu dirilis dalam versi berbeda. Lagu “Rat Purwa” pernah diperkenalkan pada 2023 bersama IKLIM dengan judul “Rat Tua”.

Sementara lagu “Enam Masa” juga sempat dirilis pada tahun yang sama bersama Fany Soegi.

Tak hanya musiknya yang mencuri perhatian, konsep visual album ini juga menjadi sorotan penggemar.

Dominasi warna neon, pink, dan biru dalam artwork menghadirkan nuansa futuristik sekaligus misterius.

Artwork album Paradoks Diametral bahkan memunculkan banyak spekulasi dari para pendengar terkait filosofi yang ingin disampaikan Fstvlst.

Hingga kini, band tersebut belum memberikan penjelasan detail mengenai makna visual yang digunakan.

Dalam mempromosikan album barunya, Fstvlst juga tampil dengan cara tidak biasa. Mereka menggelar hearing session di beberapa kota menggunakan format audio digital. Menariknya, peserta yang hadir dipersilakan mencoret-coret mobil milik band yang dulu bernama Jenny tersebut.

Tidak hanya itu, beberapa hari sebelum album dirilis secara luas di platform digital, Fstvlst lebih dulu meluncurkan rilisan fisik berupa kaset pita edisi terbatas.

Bahkan dalam hearing session, lagu-lagu dari album tersebut juga diperdengarkan menggunakan kaset sehari sebelum resmi dirilis ke publik.

Sejak berkiprah di industri musik pada awal 2000-an, Fstvlst dikenal sebagai band dengan pendekatan musikal yang unik dan lirik yang mudah melekat di telinga pendengar.

Mayoritas personelnya merupakan jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Melalui Paradoks Diametral, Fstvlst kembali mempertegas identitas mereka sebagai salah satu band independen Indonesia yang konsisten bereksperimen tanpa kehilangan karakter khasnya.  (elz).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *