PROSA.ID, Yogyakarta – DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan Forum Parlemen Nyawiji, Rabu (16/9/2026).
Forum ini mempertemukan DPRD, kementerian, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk memperkuat perumusan kebijakan daerah berbasis sains dan kajian ilmiah.
Ketua DPRD DIY, Nuryadi mengatakan, Forum Parlemen Nyawiji menjadi wujud komitmen DPRD untuk membangun kolaborasi nyata dan berkelanjutan.
Ia menilai, kebijakan daerah membutuhkan dukungan kajian yang matang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kolaborasi nyata dan bukan sekadar wacana, agar kebijakan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Nuryadi.
Menurutnya, DPRD DIY akan memperkuat sinergi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), perguruan tinggi, serta seluruh mitra forum.
“Peresmian ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara DPRD DIY dengan Kemendiktisaintek RI, perguruan tinggi dan seluruh mitra forum sebagai fondasi kerja sama jangka panjang yang akan terus kita kembangkan ke depan,” ujarnya.
Nuryadi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang bergabung dalam Forum Parlemen Nyawiji.
DPRD DIY, kata dia, siap memfasilitasi keberlanjutan forum agar kolaborasi tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi tata kelola kebijakan publik di DIY.
“Hari ini kita tidak sekadar meresmikan forum, kita meneguhkan komitmen untuk mendengar dan menegaskan. Selamat berkolaborasi, selamat bersinergi dan mari kita satukan langkah, Nyawiji demi kejayaan Daerah Istimewa Yogyakarta,” imbuhnya.
LLDIKTI V Siapkan 104 Perguruan Tinggi
Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY, Prof. Setyabudi Indartono menyambut terbentuknya Forum Parlemen Nyawiji.
Ia menyebut, forum tersebut strategis karena dapat mempertemukan kebutuhan kebijakan daerah dengan kepakaran perguruan tinggi.
“Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran Parlemen Nyawiji. Kita harapkan forum ini bisa menjadi wadah yang konkret untuk mempertemukan kebutuhan perumusan kebijakan daerah dengan kepakaran ilmiah perguruan tinggi,” tutur Setyabudi.
Setyabudi menjelaskan, ekosistem perguruan tinggi di bawah LLDIKTI Wilayah V saat ini mencakup 99perguruan tinggi swasta (PTS) dan lima perguruan tinggi negeri (PTN) di Yogyakarta.
“Kekuatan akademik tersebut juga didukung ribuan pakar, doktor, dan profesor yang tergabung dalam 22konsorsium tematik pembangunan daerah,” ungkapnya.
22 Konsorsium Kaji Persoalan Tiap Daerah
Sebanyak 22 konsorsium tersebut dapat menjadi basis kajian untuk berbagai persoalan strategis di lima kabupaten/kota di DIY.
Di Kulon Progo, salah satu isu yang dikaji yakni aerotropolis.
Sementara di Kota Yogyakarta, konsorsium menaruh perhatian pada persoalan sampah dan kesehatan jiwa.
Sleman mendapat fokus kajian pada ketahanan pangan dan tata ruang.
Gunungkidul mencakup isu pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, sedangkan Bantul mengkaji sektor pariwisata dan kesehatan.
Setyabudi mengungkapkan, kapasitas perguruan tinggi di DIY terus menguat seiring bertambahnya program studi unggul, meningkatnya status akreditasi institusi, serta bertambahnya jumlah guru besar dan tenaga pengajar.
“Kondisi tersebut membuka ruang lebih luas bagi perguruan tinggi untuk mendukung kerja Forum Parlemen Nyawiji,” imbuhnya.
Para pakar, kata Setyabudi, dapat terlibat dalam penyusunan naskah akademik, riset berbasis bukti (evidence-based policy), hingga rekomendasi kebijakan.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu mempertemukan gagasan akademik dengan kebutuhan masyarakat sehingga kebijakan yang disusun DPRD DIY memiliki landasan ilmiah sekaligus relevan dengan persoalan di lapangan,” pungkasnya. (Ken).
