Home » Baru 40 Persen Warga Kenal LOSIDA, UNISA Tanam 40 Unit di Karangtengah

Baru 40 Persen Warga Kenal LOSIDA, UNISA Tanam 40 Unit di Karangtengah

UNISA Yogyakarta melepas mahasiswa baru yang akan menjalankan program LOSIDA dalam Social Movement MATAF 2026, Rabu (16/9/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Baru sekitar 40 persen warga Padukuhan Karangtengah, Nogotirto, Gamping, Sleman, yang mengetahui Lodong Sisa Dapur (LOSIDA). 

Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) kini turun langsung ke masyarakat dengan memasang 40 unit LOSIDA di wilayah tersebut.

Program ini menjadi bagian dari Social Movement MATAF 2026. 

UNISA mendorong warga mengolah sampah organik dari rumah sekaligus mengajak mahasiswa baru belajar terlibat dalam persoalan lingkungan di masyarakat.

Dukuh Karangtengah, Surahmin, mengatakan persoalan sampah organik masih menjadi tantangan di wilayahnya. 

Sebelum program ini berjalan, sebagian warga membuang sisa dapur di pekarangan rumah, sementara sebagian lainnya memanfaatkannya sebagai pakan ternak.

“Masih banyak warga itu yang LOSIDA itu apa, sehingga belum tahu persis sebenarnya LOSIDA itu seperti apa. Bisa dikatakan mungkin baru 40 persen yang tahu tentang LOSIDA,” kata Surahmin, Rabu (16/9/2026). 

40 LOSIDA untuk 17 RT dan 6 RW

Tahun ini, UNISA memasang 40 LOSIDA di Padukuhan Karangtengah yang mencakup 17 RT dan 6 RW. 

Surahmin berharap, fasilitas tersebut menjadi contoh bagi warga untuk mengembangkan pengolahan sampah organik secara mandiri.

“Insyaallah dengan ini akan menjadikan percontohan, sehingga nanti masyarakat di tempat kami, warganya bisa membikin sendiri LOSIDA itu atau ditanam di masing-masing rumah tangga,” ujarnya.

Menurut Surahmin, penanaman LOSIDA ke rumah warga kali ini merupakan tahap baru. 

Sebelumnya, UNISA lebih banyak memberikan sosialisasi dengan mengundang kader dan tokoh masyarakat ke kampus.

“Kalau di wilayah saya, untuk penanaman LOSIDA ke warga baru pertama ini. Tapi sosialisasi kepada ibu kader, kepada tokoh masyarakat, itu pernah diadakan dan warga atau ibu kader itu diundang di kampus UNISA,” katanya.

Ia berharap pendekatan langsung ke warga membuat pemahaman tentang LOSIDA semakin luas.

Minta UNISA Kembali Mengecek

Surahmin tidak ingin program tersebut berhenti setelah pemasangan. 

Ia meminta UNISA melakukan pendampingan dan mengecek perkembangan LOSIDA dalam dua atau tiga bulan mendatang.

“Kami mengharapkan kepada para pemimpin, Bu Rektor ataupun Bapak Ibu dosen untuk nanti bisa berkesinambungan. Artinya tidak hanya memasang pada saat ini, tapi nanti dalam jangka 2 atau 3 bulan untuk kita minta untuk tengok,” ungkapnya. 

Pendampingan itu, menurutnya, penting agar warga mampu mengembangkan LOSIDA secara mandiri dan menjadikannya bagian dari kebiasaan pengelolaan sampah rumah tangga.

“Harapannya kolaborasi dengan UNISA terus berjalan sehingga keberadaan perguruan tinggi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” paparnya. 

Program LOSIDA Berjalan Empat Tahun

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Agama Islam, dan Kemuhammadiyahan-‘Aisyiyahan UNISA, Prof. Dr. Mufdlilah menambahkan, program LOSIDA telah dikembangkan kampus selama sekitar empat tahun.

Pada tahap awal, UNISA mengundang masyarakat untuk mendapatkan sosialisasi. 

Kini, kampus memperluas pendekatan dengan datang langsung ke lingkungan warga.

“Pertama kita mengundang masyarakat, kemudian kita sekarang datang ke masyarakat untuk bagaimana memanfaatkan sampah sisa dapur itu menjadi sebuah hal yang bisa dikelola, bisa menjadi dampak yang lebih bermakna untuk kehidupan yang lebih baik untuk lingkungan,” kata Mufdlilah.

Tahun ini, UNISA menyiapkan sekitar 50 LOSIDA dalam kegiatan Social Movement MATAF 2026. 

Mahasiswa hadir secara perwakilan dalam kelompok atau kafilah, sementara seluruh mahasiswa baru sebelumnya telah mendapatkan sosialisasi.

Mufdlilah menjelaskan, keterlibatan mahasiswa bukan sekadar membantu kegiatan lingkungan. 

UNISA ingin mahasiswa belajar memahami persoalan masyarakat dan mengambil bagian dalam penyelesaiannya.

“Menjadi mahasiswa berarti belajar hadir di tengah masyarakat, melihat persoalan, memahami kebutuhan, dan ikut menghadirkan solusi,” ujarnya.

Ilmu Harus Bergerak Jadi Manfaat

Mufdlilah menegaskan, LOSIDA menjadi sarana sederhana untuk menanamkan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan. 

Ia ingin mahasiswa memahami bahwa sisa dapur masih bisa dikelola dan memberikan manfaat.

“LOSIDA bukan sekadar sebuah sarana untuk mengelola sisa dapur. Apa yang selama ini kita anggap sebagai sisa dan tidak berguna, sesungguhnya dapat kita kelola menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan kehidupan kita,” imbuhnya.

Mufdlilah menyebut, nilai yang dibangun melalui Social Movement MATAF 2026 tidak berhenti pada persoalan sampah. 

Mahasiswa diharapkan terbiasa melihat masalah di sekitarnya, kemudian mengubah kepedulian menjadi tindakan.

“Jangan menjadi mahasiswa yang hanya pandai berbicara tentang perubahan. Jadilah mahasiswa yang mau memulai perubahan, sekecil apa pun langkahnya,” tegas Mufdlilah.

Ia menjelaskan, semangat tersebut sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang mendorong keberagamaan melahirkan kemanfaatan dan amal nyata.

“Perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian kecil yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama,” ujarnya.

Melalui Social Movement MATAF 2026, UNISA berharap kolaborasi dengan masyarakat Karangtengah terus berkembang. 

Program LOSIDA diharapkan tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk belajar peduli, bergerak, dan memberi dampak nyata di tengah masyarakat. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *