Home » Sultan HB X: Layanan Kesehatan Jiwa Tak Cukup dengan Gedung, Harus Ada Penerimaan Sosial

Sultan HB X: Layanan Kesehatan Jiwa Tak Cukup dengan Gedung, Harus Ada Penerimaan Sosial

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X meresmikan tiga gedung baru RSJ Grhasia DIY di Pakem, Sleman, Selasa (1/9/2026). (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta –  Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa peningkatan layanan kesehatan jiwa harus berjalan beriringan dengan perubahan cara pandang masyarakat.

Menurutnya, pembangunan fasilitas dan penggunaan teknologi modern belum cukup jika pasien masih menghadapi stigma setelah kembali ke lingkungan sosial.

Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan saat meresmikan tiga gedung baru RSJ Grhasia DIY di Pakem, Sleman, Selasa (1/9/2026).

Tiga fasilitas baru itu meliputi Gedung Psikiatri Terpadu Madukara, Gedung Rehabilitasi Medik Mandalawangi, dan Gedung Farmasi Arogya Ghati.

Sri Sultan menilai ketiga gedung tersebut bukan sekadar tambahan infrastruktur.

Fasilitas itu harus membentuk satu rangkaian pelayanan yang menghubungkan penanganan pasien, proses pemulihan, hingga keberlanjutan terapi.

“Kemajuan pelayanan kesehatan tidak pernah dapat diukur hanya dari bertambahnya bangunan dan peralatan. Infrastruktur bermakna jika menghadirkan pelayanan yang lebih baik bagi manusia,” ujar Sri Sultan.

Pemulihan Pasien Tak Berhenti di Rumah Sakit

Sri Sultan mengatakan, pelayanan kesehatan jiwa membutuhkan perhatian lebih karena pasien sering datang ketika berada dalam kondisi paling rentan dalam kehidupannya.

Karena itu, ia mendorong layanan kesehatan jiwa agar tidak berhenti pada pengendalian gejala penyakit.

Pelayanan harus membantu pasien kembali menjalankan kehidupan secara utuh dan bermartabat.

Pemulihan, kata Sri Sultan, tercermin ketika pasien mampu kembali membangun relasi, menjalankan fungsi sosial, berkarya, serta menatap masa depan dengan percaya diri.

“Pemulihan menemukan maknanya ketika seseorang mampu kembali membangun relasi, menjalankan fungsi sosial, berkarya, dan menatap masa depan dengan martabat serta kepercayaan diri,” katanya.

Sultan menyebut, keberhasilan layanan kesehatan jiwa juga sangat bergantung pada lingkungan sosial pasien.

Stigma dapat menjadi hambatan ketika pasien yang telah menjalani pengobatan dan pemulihan kembali ke keluarga maupun masyarakat.

Sri Sultan bahkan mengingatkan agar peningkatan akses layanan di rumah sakit tidak berjalan tanpa perubahan di tengah masyarakat.

“Jangan sampai pintu rumah sakit telah semakin terbuka, tetapi pintu penerimaan sosial justru masih tertutup,” tegasnya.

Pasien Bukan Sekadar Diagnosis

Sri Sultan berharap, kehadiran tiga gedung baru tersebut mendorong RSJ Grhasia meningkatkan standar pelayanan sekaligus memperkuat pendekatan yang berorientasi pada manusia.

Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi dan tata kelola harus tetap berjalan bersama sentuhan kemanusiaan.

“Pasien bukan sekadar diagnosis ataupun nomor rekam medis. Setiap pasien adalah manusia, dengan keluarga, perjalanan hidup, kecemasan, sekaligus harapan untuk pulih,” tutur Sri Sultan.

Tiga Gedung Baru RSJ Grhasia

Direktur RSJ Grhasia DIY dr. Akhmad Akhadi S., MPH menjelaskan, pembangunan tiga gedung tersebut menjadi bagian dari komitmen rumah sakit menghadirkan layanan medis yang cepat, tepat, dan terintegrasi.

Fasilitas baru itu juga ditargetkan memangkas waktu tunggu sekaligus meningkatkan kenyamanan pasien selama menjalani pengobatan.

“Pembangunan tiga gedung baru ini merupakan komitmen nyata kami dalam menghadirkan layanan medis yang cepat, tepat, dan terintegrasi. Kami berharap gedung ini dapat memangkas waktu tunggu pasien dan memberikan kenyamanan ekstra selama proses pengobatan,” jelas Akhmad.

Gedung Madukara berfungsi sebagai pusat pelayanan rawat jalan psikiatri terpadu. Gedung dua lantai tersebut menyediakan layanan subspesialis psikiatri geriatri serta anak dan remaja.

Fasilitas itu juga mencakup layanan psikologi terpadu, laboratorium, radiologi, pendaftaran, dan pembayaran mandiri.

Sementara itu, Gedung Mandalawangi menjadi pusat pelayanan rehabilitasi medik. Gedung dua lantai tersebut memiliki fasilitas fisioterapi, peralatan robotik, serta gymnasium modern untuk menunjang pemulihan pasien.

Adapun Gedung Arogya Ghati menjadi pusat layanan farmasi terpadu RSJ Grhasia DIY.

Ketiga gedung tersebut menghabiskan anggaran Rp34,059 miliar yang bersumber dari Dana Keistimewaan Tahun Anggaran 2025.

Akhmad menambahkan, pembangunan tiga gedung tersebut merupakan bagian dari Master Plan RSJ Grhasia tahap pertama.

Pengembangan fasilitas sebelumnya telah dimulai melalui pembangunan Gedung IGD pada 2021.

“Dengan tambahan fasilitas tersebut, RSJ Grhasia tidak hanya memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan jiwa, tetapi juga mendorong pemulihan pasien agar benar-benar berlanjut hingga mereka kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat,” pungkasnya. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *