PROSA.ID, Yogyakarta – Pakar Sosiologi Politik dan Sosiologi Agama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir menilai, gelombang demonstrasi yang terus menguat mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Ia meminta Presiden bersama jajaran pembantunya mendengarkan aspirasi warga agar ketegangan sosial tidak semakin meluas.
Zuly melihat masyarakat semakin berani menyuarakan tuntutan karena merasa persoalan yang mereka hadapi belum mendapat perhatian memadai dari para pengambil kebijakan.
Menurutnya, pemerintah perlu merespons suara publik secara serius, bukan justru menyalahkan warga yang menyampaikan protes.
“Sudah saatnya presiden bersama para pembantunya mendengarkan apa yang disampaikan oleh warga negara,” kata Zuly saat ditemui di UMY, Rabu (28/10/2026).
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap demonstrasi semata-mata sebagai persoalan masyarakat.
Zuly justru meminta para pemimpin mengevaluasi kebijakan dan kinerja jajaran yang menjalankan pemerintahan.
Zuly Qodir: Jangan Salahkan Masyarakat yang Berunjuk Rasa
Zuly menyebut, pemerintah perlu melihat akar persoalan yang mendorong masyarakat turun ke jalan.
Ia menyoroti tanggung jawab para pembuat kebijakan dan pemimpin yang mengarahkan jalannya pemerintahan.
Ia mengungkapkan, pemerintah tidak bisa terus menyalahkan masyarakat ketika gelombang protes semakin meluas.
Para pemimpin harus mengevaluasi kebijakan yang memicu kekecewaan publik sekaligus memastikan jajaran di bawahnya menjalankan tugas dengan baik.
“Kalau dibiarkan terus, menurut saya, semakin hari semakin banyak orang demo dan kondisi semakin tidak baik,” ujarnya.
Zuly menegaskan, pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk merespons tuntutan warga.
“Jika para pengambil kebijakan terus mengabaikan aspirasi masyarakat, kekecewaan itu berpotensi berkembang menjadi gerakan protes yang lebih besar,” tegasnya.
Tekanan terhadap Warga Bisa Memicu Perlawanan
Zuly juga menyoroti risiko ketika pemerintah menghadapi kritik dengan tekanan.
Ia melihat, masyarakat yang awalnya memilih mengalah bisa kehilangan kesabaran ketika terus menghadapi persoalan tanpa memperoleh tanggapan yang memadai.
Ia menggambarkan proses tersebut sebagai perubahan sikap dari mengalah, menjadi jengkel, hingga akhirnya melawan.
“Selama ini, semakin ditekan, warga masyarakat itu nanti akan semakin banyak yang melawan,” jelas Zuly.
Ia menambahkan, kejenuhan dapat mendorong masyarakat untuk terus menyuarakan tuntutan.
Karena itu, pemerintah perlu membuka ruang komunikasi dan mendengarkan kritik sebelum kekecewaan berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
“Senjatanya orang-orang kalah, ya sudah jenuh, selain berdoa,” tuturnya.
Zuly Prediksi Suporter Bisa Ikut Turun ke Jalan
Menanggapi kemungkinan keterlibatan kelompok suporter dalam aksi demonstrasi, Zuly memperkirakan jumlah orang yang turun ke jalan dapat bertambah apabila pemerintah tetap mengabaikan aspirasi masyarakat.
Ia menambahkan, ketidakpuasan publik yang terus menumpuk bisa mendorong lebih banyak kelompok untuk menyampaikan tuntutan.
Ia menyampaikan, respons pemerintah terhadap kritik akan memengaruhi perkembangan situasi tersebut.
“Iya, nanti dugaan saya makin lama makin banyak karena para pengambil kebijakan dan pimpinannya ini lama-lama juga tidak mau mendengarkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Zuly juga mengaitkan meluasnya gerakan protes dengan kemungkinan terjadinya perubahan politik.
Dalam pandangannya, semakin banyak masyarakat yang menyuarakan ketidakpuasan, semakin besar pula tekanan terhadap para pemimpin untuk merespons tuntutan publik.
“Kalau nanti semakin lama semakin banyak, ya tentu saja kemungkinan perubahan akan semakin cepat terjadi, termasuk bosnya,” pungkas Zuly. (Ken).
