Home » UMY Siapkan 40 Skema Beasiswa dan Kembangkan 33 Startup untuk Buka Peluang Kerja

UMY Siapkan 40 Skema Beasiswa dan Kembangkan 33 Startup untuk Buka Peluang Kerja

Jajaran pimpinan UMY memaparkan capaian selama 2025 dalam Sustainable Development Goals (SDGs) Report 2025 di lantai dasar Gedung AR Fachruddin A, Kampus Terpadu UMY, Rabu (28/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja melalui program beasiswa dan kewirausahaan mahasiswa. 

Sepanjang 2025, UMY menyediakan 40 skema beasiswa dan mengembangkan 33 usaha rintisan atau startup melalui program inkubasi bisnis.

UMY memaparkan capaian tersebut dalam peluncuran Sustainable Development Goals (SDGs) Report 2025 di lantai dasar Gedung AR Fachruddin A, Kampus Terpadu UMY, Rabu (28/10/2026).

Dua bidang menjadi perhatian universitas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. 

Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kemahasiswaan, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Prof. Muhammad Faris Al-Fadhat menjelaskan, strategi perluasan akses pendidikan dan penguatan kontribusi sosial mahasiswa.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kewirausahaan, dan Alumni UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, memaparkan upaya kampus mengembangkan usaha rintisan serta menyiapkan lulusan agar mampu menciptakan lapangan kerja.

UMY Sediakan 40 Skema Beasiswa untuk Perluas Akses Kuliah

Sebanyak 40 skema beasiswa UMY pada 2025 berasal dari sumber internal maupun eksternal. 

Faris mengatakan, program tersebut membantu mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi agar tetap memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi.

“Pada tahun 2025 kemarin, UMY telah menyiapkan 40 skema beasiswa baik dari internal maupun eksternal. Kemudian jika kami kaji, beasiswa yang telah kami sediakan ini rupanya meng-cover begitu banyak anak-anak muda kita,” ujar Faris.

Faris mengungkapkan, 19,4 persen mahasiswa UMY memiliki keterbatasan ekonomi. 

Kondisi tersebut mendorong universitas untuk terus memperkuat dukungan finansial bagi mahasiswa.

Selain tantangan ekonomi, UMY juga mencatat bahwa sekitar 30 persen mahasiswanya merupakan generasi pertama dalam keluarga yang menempuh pendidikan tinggi.

“Yang menarik adalah 30 persen ini mereka adalah generasi pertama di keluarga,” katanya.

Menurut Faris, kesempatan kuliah dapat membuka jalan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga. 

Pendidikan tinggi juga memberi mereka peluang memperluas pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan memperbaiki kondisi ekonomi pada masa mendatang.

Untuk menjangkau lebih banyak calon mahasiswa, UMY berencana memperluas kerja sama beasiswa dengan berbagai mitra. 

Faris berharap, kolaborasi tersebut dapat membantu anak muda yang menghadapi keterbatasan biaya agar tetap bisa mengakses pendidikan tinggi.

“Beasiswa akan kami siapkan lebih banyak lagi dengan mitra-mitra kami agar mahasiswa ke depan, anak-anak muda yang tidak bisa kuliah ini bisa akses pendidikan,” ungkapnya.

UMY Catat 659 Prestasi Mahasiswa pada 2025

Di luar dukungan finansial, UMY mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik, prestasi nonakademik, dan karakter. 

Faris menyebut, mahasiswa UMY mencatat total 659 prestasi sepanjang 2025.

“Pada tahun lalu kita lihat ada 659 total prestasi, baik akademik maupun nonakademik,” jelasnya.

Faris menegaskan, mahasiswa perlu mengembangkan prestasi tersebut menjadi kontribusi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. 

Karena itu, UMY mendorong mereka menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menjawab persoalan di lingkungan sekitar.

“Tapi lebih dari itu, UMY ingin dengan prestasi itu kemudian bertransformasi menjadi dampak nyata,” tandasnya.

Untuk memperkuat peran tersebut, UMY mendorong 10 kelompok pengabdian berdampak menjalankan berbagai kegiatan sosial. 

Program ini melengkapi kuliah kerja nyata (KKN), pengabdian di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta aktivitas kemahasiswaan lainnya.

Faris juga mencontohkan keterlibatan mahasiswa dalam pengelolaan program takjil Ramadan. 

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa belajar mengelola kegiatan sosial, berinteraksi dengan masyarakat, dan membangun tanggung jawab bersama.

Faris menilai, pengalaman terjun langsung ke masyarakat penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial di tengah perkembangan teknologi digital. 

Kampus perlu memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menggunakan kemampuan mereka untuk membantu orang lain.

“Keberlanjutan bagi UMY tidak hanya sekadar mempersiapkan masa depan mahasiswa, tetapi juga bagaimana mahasiswa itu punya kontribusi kepada masyarakat,” tegas Faris.

Kembangkan 33 Startup Mahasiswa untuk Ciptakan Lapangan Kerja

Sementara itu, UMY mengembangkan 33 startup mahasiswa melalui program inkubasi bisnis sepanjang 2025. 

Program ini mempertemukan mahasiswa dengan dosen dan alumni yang memiliki pengalaman menjalankan usaha.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kewirausahaan, dan Alumni UMY, Zuly Qodir, menilai perguruan tinggi perlu memperluas peran dalam penciptaan lapangan kerja. 

Ia menyampaikan, kampus tidak cukup hanya membekali lulusan agar mampu mencari pekerjaan, tetapi juga perlu mendorong mereka membangun usaha sendiri.

Zuly menyinggung target nasional penciptaan 19 juta lapangan kerja hingga 2029. 

Ia menilai pemerintah membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk memperluas kesempatan kerja.

“Pemerintah mengatakan dan mempersiapkan 19 juta lapangan pekerjaan ya, tapi masih jauh. Masih banyak yang belum ada. Sehingga bagaimana perguruan tinggi memberikan kontribusi untuk membuat lapangan pekerjaan, tidak hanya nunggu dari pemerintah,” ujar Zuly.

Melalui program inkubasi bisnis, UMY mendampingi mahasiswa untuk mengembangkan ide dan usaha. 

Dosen membantu mahasiswa selama proses pengembangan, sedangkan alumni berbagi pengalaman dan pengetahuan praktis dari dunia usaha.

“Kita kebetulan punya inkubasi bisnis di kalangan mahasiswa yang didampingi para dosen, juga para alumni yang telah sukses di dalam dunia usaha. Ada 33 startup pada tahun 2025 yang lalu,” ucapnya.

Zuly berharap, 33 usaha rintisan tersebut terus berkembang dan mampu merekrut tenaga kerja baru. 

Dengan demikian, mahasiswa dapat menciptakan peluang kerja bagi dirinya sendiri sekaligus membuka kesempatan bagi lulusan lain.

“Sehingga nanti startup yang sudah ada itu bisa merekrut teman-teman yang baru lulus dari perguruan tinggi ini ataupun dari perguruan tinggi yang lain,” imbuhnya.

Masa Tunggu Kerja Lulusan UMY Rata-Rata 3,9 Bulan

Selain mengembangkan kewirausahaan, UMY terus menyiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja. 

Zuly menerangkan, rata-rata masa tunggu kerja lulusan UMY mencapai 3,9 bulan berdasarkan data yang ia paparkan.

Ia juga menyampaikan bahwa 77 persen lulusan dalam data tersebut telah memperoleh pekerjaan, termasuk melalui kegiatan wirausaha.

“Lulusan UMY itu mencapai 77 persen yang sudah bisa mendapatkan lapangan pekerjaan, terutama mereka yang menjadi wirausaha,” jelasnya.

Menurut Zuly, data tersebut menjadi bahan evaluasi bagi universitas untuk memperkuat kompetensi mahasiswa. 

UMY perlu terus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan mengelola usaha.

Zuly menambahkan, sebagian lulusan memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terutama program magister. 

“Pilihan tersebut menunjukkan bahwa lulusan memiliki jalur pengembangan yang beragam setelah menyelesaikan pendidikan sarjana,” tandasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Zuly memaparkan tingkat keberhasilan studi mahasiswa UMY sebesar 89,40 persen. 

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa yang tidak menyelesaikan studi memiliki beragam latar belakang, termasuk mengundurkan diri atau memutuskan tidak melanjutkan pendidikan.

“Karena itu, UMY terus memperkuat proses pembelajaran dan pendampingan mahasiswa,” pungkasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *