PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyoroti rencana penutupan program studi oleh pemerintah.
Akademisi meminta kejelasan kriteria agar sesuai kebutuhan industri dan kondisi riil di lapangan.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Zuly Qodir, menilai rencana yang disampaikan Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, masih menyisakan sejumlah pertanyaan, terutama terkait bidang keilmuan yang disebut mengalami kelebihan lulusan.
“Beberapa program seperti pendidikan disebut mengalami inflasi lulusan, tetapi harus jelas pendidikan yang mana. Karena di lapangan justru masih banyak daerah yang kekurangan guru,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia juga menyoroti sektor kedokteran yang disebut mengalami kelebihan lulusan, namun di sisi lain pembukaan fakultas kedokteran masih terus didorong.
“Jika dianggap berlebih, mengapa pembukaan fakultas kedokteran tetap dilakukan? Bisa jadi yang dibutuhkan sebenarnya dokter spesialis, bukan dokter umum,” tegas Zuly Qodir.
Menurutnya, akar persoalan bukan sekadar jumlah prodi, tetapi kurangnya keterkaitan antara kurikulum dan kebutuhan industri. Ia menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin, termasuk peran ilmu sosial dalam mendukung sektor industri.
“Industri tidak hanya membutuhkan keahlian teknis, tetapi juga kemampuan manajerial, komunikasi, dan sosial,” jelasnya.
Sebagai respons, UMY memilih melakukan penyesuaian kurikulum daripada menutup prodi. Strategi ini dilakukan dengan melibatkan praktisi industri serta memperkuat soft skills mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja.
“Kami menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan lapangan dan menghadirkan praktisi agar mahasiswa lebih siap secara profesional,” tambahnya.
Zuly mengingatkan agar kebijakan pemerintah tidak hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek industri, melainkan juga mempertimbangkan peran perguruan tinggi dalam membangun ilmu pengetahuan dan masa depan bangsa.
“Pemerintah harus tegas menjelaskan prodi mana yang ditutup dan dikembangkan, agar tidak menimbulkan kebingungan di perguruan tinggi,” pungkasnya. (Ken).
