Home » UGM Luncurkan Proyek SHIELD, Kaji Efektivitas Wolbachia untuk Tekan Dengue di Lima Kota

UGM Luncurkan Proyek SHIELD, Kaji Efektivitas Wolbachia untuk Tekan Dengue di Lima Kota

Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menggelar kick-off meeting proyek SHIELD, Kamis (22/10/2026). (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Indonesia masih menghadapi beban dengue yang tinggi. 

Pada 2025, Indonesia menempati urutan kedua dunia dalam jumlah kematian akibat dengue dengan 703 kasus kematian atau sekitar 17 persen dari total kematian dengue secara global.

Kondisi tersebut mendorong Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama sejumlah mitra meluncurkan Proyek SHIELD (Scaling Health Interventions for Effective Long-term Dengue Control). 

Proyek penelitian kolaboratif ini akan mengkaji implementasi teknologi Wolbachia di lima kota di Indonesia untuk memperkuat strategi pengendalian dengue.

Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menggelar kick-off meeting proyek tersebut pada Kamis (22/10/2026). 

Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Fadjar Surya M. Silalahi menyebut, tingginya angka kematian akibat dengue menjadi salah satu alasan pemerintah menerapkan teknologi Wolbachia.

Menurut Fadjar, pendekatan tersebut mengacu pada hasil penelitian di Yogyakarta yang menunjukkan bahwa Wolbachia mampu menurunkan kejadian dengue hingga 77 persen dan angka rawat inap hingga 86 persen.

Implementasi di Semarang juga menunjukkan perkembangan positif. Proporsi nyamuk Aedes aegypti yang membawa Wolbachia telah stabil di atas 60 persen dan diikuti tren penurunan kasus dengue.

“Implementasi yang kami lakukan di Kota Semarang menunjukkan hasil positif, dengan tren penurunan kasus dengue seiring stabilnya proporsi nyamuk ber-Wolbachia di atas 60 persen,” kata Fadjar dikutip Jum’at, (30/10/2026). 

Dampak Wolbachia Bertahan hingga Tujuh Tahun

Bukti efektivitas teknologi Wolbachia juga terlihat dalam pemantauan jangka panjang di Yogyakarta.

Katie Anders, dari Monash University yang bertindak sebagai Pendamping Peneliti Utama Proyek SHIELD, menjelaskan dampak Wolbachia dalam menekan penularan dengue masih bertahan hingga tujuh tahun setelah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia.

Hasil pemantauan pada 2023–2024 menunjukkan proporsi Wolbachia dalam populasi nyamuk Aedes aegypti mencapai 89 persen.

Selain itu, selama lima tahun setelah penerapan Wolbachia secara menyeluruh di Kota Yogyakarta, angka kejadian dengue tercatat 76 persen lebih rendah dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa yang tidak menerapkan intervensi tersebut.

Meski menunjukkan hasil positif, Katie mengingatkan bahwa Wolbachia tidak sepenuhnya menghilangkan risiko penularan dengue. 

Karena itu, pemerintah tetap perlu mengintegrasikan teknologi ini dengan berbagai upaya pencegahan dan pengendalian dengue lainnya.

SHIELD Kaji Implementasi Wolbachia di Lima Kota

Ketua Peneliti Proyek SHIELD, Dr. dr. Citra Indriani menjelaskan, proyek ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang pengembangan teknologi Wolbachia di Indonesia.

Melalui penelitian tersebut, tim akan menggali pengalaman implementasi di lima kota untuk mengidentifikasi faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program.

“Melalui SHIELD, kami ingin mengambil pembelajaran dari implementasi di lima kota sebagai dasar untuk menyusun strategi perluasan Wolbachia, baik di tingkat nasional maupun global,” jelas Citra.

Untuk mencapai target tersebut, tim membagi penelitian SHIELD ke dalam empat kelompok kerja, yakni Riset Implementasi, Entomologi, Epidemiologi, dan Pemodelan.

Kelompok Riset Implementasi akan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat penerapan Wolbachia. 

Tim juga akan mengkaji komponen penting yang menentukan keberhasilan program di berbagai wilayah.

Sementara itu, kelompok Entomologi akan meneliti faktor yang memengaruhi keberhasilan dan keberlanjutan Wolbachia dalam populasi nyamuk. 

Kajian ini juga mencakup ketahanan intervensi terhadap kondisi panas ekstrem.

Kelompok Epidemiologi akan mengevaluasi dampak penerapan Wolbachia terhadap penularan dengue dan kesehatan masyarakat di wilayah dengan karakteristik berbeda.

Adapun kelompok Pemodelan akan menghitung manfaat dan biaya penerapan Wolbachia. 

Tim ini akan menyusun berbagai skenario integrasi teknologi tersebut dengan strategi pengendalian dengue lainnya, termasuk vaksinasi.

Jadi Dasar Kebijakan Perluasan Wolbachia

Melalui empat kelompok kerja tersebut, SHIELD diharapkan menghasilkan bukti ilmiah yang lebih komprehensif mengenai efektivitas, keberlanjutan, dan peluang perluasan teknologi Wolbachia.

Hasil penelitian juga diharapkan membantu pemerintah menyusun kebijakan pengendalian dengue berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi di lapangan.

Citra menegaskan, dukungan dan kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting untuk memastikan penelitian berjalan optimal.

“Semoga proyek ini menghasilkan luaran yang bisa kita gunakan untuk penguatan kebijakan perluasan Wolbachia di Indonesia,” harapnya.

Proyek SHIELD sekaligus menegaskan bahwa teknologi Wolbachia bukan pengganti metode pengendalian dengue yang sudah berjalan. 

Teknologi ini menjadi pendekatan pelengkap yang perlu terintegrasi dengan strategi pencegahan dan pengendalian lainnya agar mampu memberikan manfaat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *