Home » Titiek Soeharto Minta Kampung Nelayan Poncosari Tak Sekadar Jadi Proyek

Titiek Soeharto Minta Kampung Nelayan Poncosari Tak Sekadar Jadi Proyek

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto saat menghadiri kegiatan Bulan Bakti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Poncosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (22/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto meminta pemerintah memastikan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. 

Ia mengingatkan agar fasilitas dan bantuan perikanan tidak berhenti sebagai program seremonial, tetapi mampu memperkuat usaha dan pendapatan nelayan.

Titiek menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan Bulan Bakti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Poncosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (22/10/2026).

Dalam kunjungan itu, Titiek mengungkapkan bahwa ia telah tiga kali mendatangi Poncosari. 

Sebelumnya, ia datang saat peletakan batu pertama pembangunan kampung nelayan, kemudian kembali bersama Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Senang sekali hari ini saya bisa hadir lagi di Poncosari ini yang sudah yang ketiga kali,” kata Titiek.

Ia mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap nelayan, terutama di DIY. 

Ia menilai, pembangunan kampung nelayan, bantuan sarana perikanan, dan dukungan pengolahan hasil laut harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Titiek Soeharto Minta Bantuan Nelayan Tak Mubazir

Titiek menekankan pentingnya pemanfaatan bantuan untuk memperkuat usaha perikanan. 

Ia meminta KKP dan pemerintah daerah memastikan seluruh fasilitas berfungsi optimal dan membantu nelayan mengembangkan usaha.

Dalam kegiatan di Poncosari, KKP menyalurkan 200 paket kebutuhan melaut bagi nelayan dan 50.000 benih ikan untuk lima kelompok pembudidaya.

Pemerintah juga menyerahkan tiga unit chest freezer berkapasitas 200 liter, dua paket peralatan pengolahan hasil laut untuk usaha kerupuk dan pengolahan ikan, sertifikat cold storage, sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), serta bantuan asuransi nelayan.

Selain itu, kegiatan tersebut menyediakan 100 paket perlengkapan sekolah bagi peserta khitanan massal dan mendukung penghijauan kawasan pesisir melalui penanaman cemara laut dan ketapang.

Titiek berharap bantuan tersebut membantu nelayan menjaga mutu ikan, meningkatkan nilai jual hasil tangkapan, dan mengembangkan usaha pengolahan hasil laut.

“Saya berharap seluruh bantuan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik, sarana penyimpanan dapat membantu menjaga mutu ikan, peralatan pengolahan dapat meningkatkan nilai jual hasil laut, dan dukungan bagi nelayan dapat membantu mereka menjalankan usaha dengan lebih baik,” ujarnya.

Ia juga meminta KKP dan pemerintah daerah melakukan pendampingan serta evaluasi. 

Titiek bilang, penyerahan bantuan harus diikuti upaya untuk memastikan penerima menggunakannya secara optimal.

Sebagai Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek menyatakan akan terus mendorong kebijakan pemerintah yang menjawab kebutuhan nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha perikanan. 

“Saya juga mengajak masyarakat mendukung program pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.

Titiek Ajak Masyarakat Jaga Laut dan Pesisir

Selain mendorong peningkatan ekonomi, Titiek mengajak masyarakat menjaga kelestarian lingkungan laut. 

Ia mengapresiasi kegiatan bersih pantai, deklarasi laut sehat bebas sampah, serta penanaman cemara laut dan ketapang di Poncosari.

Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial. 

Warga perlu menjaga kebersihan pantai dan merawat tanaman yang telah ditanam agar tumbuh dengan baik.

“Laut yang bersih harus berjalan bersama masyarakat, nelayan yang semakin sejahtera,” tegas Titiek.

Ia mengungkapkan, pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan usaha perikanan. 

Nelayan perlu memperoleh nilai tambah dari hasil tangkapan, sedangkan pelaku usaha pengolahan perlu meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing.

“Saya berharap pemerintah memperluas program pemberdayaan sehingga semakin banyak nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku UMKM perikanan merasakan manfaat pembangunan,” lanjutnya.

Sekjen KKP: Kampung Nelayan Harus Memberi Manfaat Nyata

Sekretaris Jenderal Kementrian Kelautan dan Perikanan, Andi Artha Donny Oktopura menyebut, Kampung Nelayan Merah Putih Poncosari sebagai salah satu lokasi program strategis Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Donny meminta nelayan dan masyarakat setempat menjaga fasilitas yang telah pemerintah bangun. 

Ia mengingatkan bahwa pembangunan tersebut menggunakan uang rakyat sehingga masyarakat perlu memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

“Apa yang dibangun di sini itu adalah menggunakan uangnya rakyat dan itu bagaimana dibangun di sini bertujuan untuk bisa menyejahterakan rakyat, khususnya bagaimana meningkatkan kesejahteraan para nelayan yang ada di Indonesia,” ujar Donny.

Ia juga mengapresiasi perhatian Titiek terhadap nelayan DIY. Menurutnya, kunjungan Titiek yang telah mencapai tiga kali ke Poncosari menunjukkan perhatian terhadap pengembangan sektor kelautan dan perikanan di daerah tersebut.

Donny menjelaskan, Bulan Bakti KKP menghadirkan sejumlah kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. 

Kegiatan itu meliputi khitanan massal, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, pasar produk perikanan, bersih pantai, dan penanaman vegetasi pantai.

KKP juga menyalurkan bantuan kebutuhan melaut, asuransi nelayan, benih ikan, sarana pengolahan hasil perikanan, bibit tanaman pesisir, serta sarana pengawasan masyarakat untuk mendukung pencegahan penangkapan ikan ilegal.

“Kami berharap bantuan dan fasilitas tersebut mampu memperkuat usaha perikanan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Bantul dan DIY,” imbuhnya. 

DIY Kembangkan Enam Kampung Nelayan Merah Putih

Sementara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan menambahkan, pemerintah daerah mengembangkan enam lokasi Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2026. 

Satu lokasi berada di Wonosari, sedangkan lima lokasi lainnya menjadi bagian dari pengembangan pada 2026, khususnya di Kabupaten Gunungkidul.

Menurut Hery, Kampung Nelayan di Wonosari yang dikembangkan sejak 2025 sudah berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. 

“Pemerintah daerah menjadikan lokasi tersebut sebagai contoh untuk pengembangan lima lokasi lainnya,” jelasnya.

Ia menyebut, progres fisik rata-rata pembangunan di lima lokasi yang dikembangkan pada 2026 telah mencapai 18 persen, melampaui target progres yang disampaikan sebesar 7 persen.

Hery berharap program tersebut tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

“Ke depan harapannya program Kampung Nelayan Merah Putih ini betul-betul tidak hanya dikembangkan untuk pengembangan infrastruktur saja, tapi juga model pengembangan pemberdayaan masyarakat utamanya untuk ekonomi masyarakat pesisir,” ungkap Hery.

Ia menjelaskan, fasilitas di kampung nelayan memungkinkan nelayan mendaratkan hasil tangkapan, menyimpan ikan, mengolah sebagian hasil perikanan, hingga memasarkannya. 

Hery menyampaikan, potensi pengembangan masih terbuka lebar. Ia menyebut terdapat sekitar 19 titik pendaratan ikan di kawasan sekitar yang berpeluang saling terhubung untuk mengoptimalkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, ia meminta jajaran KKP terus membimbing dan mendampingi pemerintah daerah serta kelompok masyarakat. 

“Pendampingan diperlukan agar pengelolaan fasilitas dan usaha perikanan semakin berkembang,” tandasnya. 

Pemda DIY Dorong Pengembangan Usaha Perikanan

Hery juga mengapresiasi dukungan Titiek Soeharto terhadap berbagai kegiatan perikanan di DIY, mulai dari perikanan tangkap, perikanan budi daya, hingga pengolahan hasil perikanan.

Bagi dia, dukungan tersebut memberi motivasi kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produktivitas.

“Pemda DIY juga berupaya mempercepat pembangunan 27 lokasi yang disebut sebagai minirice tematik di kalurahan-kalurahan penerima bantuan,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *