Home » Tidal Weavers Hadir di Yogyakarta, Rajut Sejarah Pesisir dan Pertukaran Budaya Asia Lewat Tekstil

Tidal Weavers Hadir di Yogyakarta, Rajut Sejarah Pesisir dan Pertukaran Budaya Asia Lewat Tekstil

Tidal Weavers hadir di ACE House - Langgeng Art Foundation. (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Ace House Collective menghadirkan pameran Tidal Weavers: Islands Exchange di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta pada 19 Juni -24 Juli 2026.

Pameran ini mengajak publik menelusuri hubungan antara air, tekstil, dan kehidupan masyarakat pesisir serta kepulauan di Asia.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman menyoroti sejarah perpindahan manusia, perdagangan, ritual, pengetahuan lokal, hingga hubungan sosial yang berkembang di kawasan maritim.

Rangkaian pameran ini menjadi penutup perjalanan internasional proyek Tidal Weavers setelah sebelumnya digelar di Hong Kong dan Taipei.

Berangkat dari Riset Maritim dan Warisan Tekstil

Seniman sekaligus inisiator proyek, Ade Darmawan, menjelaskan bahwa Tidal Weavers berawal dari ketertarikannya meneliti pengetahuan masyarakat tentang air, pulau, dan kawasan pesisir.

Gagasan tersebut kemudian berkembang setelah berdiskusi dengan Takahashi Mizuki, Direktur dan Kurator CHAT (Centre for Heritage, Arts and Textile) Hong Kong.

“Kami melihat tenun, kain, dan motif bukan hanya sebagai benda budaya. Kain juga menyimpan pengalaman, pengetahuan, dan kebijaksanaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Ade, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, proyek ini tidak sekadar mengundang seniman untuk membuat karya.

Tidal Weavers mendorong seniman bekerja langsung bersama komunitas, penenun, dan kelompok budaya di berbagai wilayah.

“Kami menekankan proses percakapan dan pertukaran pengetahuan antara seniman dan komunitas. Kain kami lihat sebagai arsip hidup atau museum yang terus bergerak,” katanya.

Tekstil sebagai Arsip Kehidupan

Takahashi Mizuki mengatakan, CHAT menempati bekas pabrik pemintalan kapas di Hong Kong.

Karena itu, lembaganya memiliki perhatian besar terhadap sejarah industri tekstil dan warisan budaya yang menyertainya.

Ia menilai banyak tekstil tradisional Asia menyimpan keterampilan, teknologi, dan cerita yang luar biasa.

Namun, keberlanjutan tradisi tersebut menghadapi tantangan karena semakin sedikit masyarakat yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika tidak ada pengguna, bagaimana tekstil bisa bertahan? Karena itu kami mencoba menghadirkan pendekatan baru agar warisan tekstil tetap relevan dengan kehidupan masa kini,” jelasnya.

Mizuki menambahkan, tekstil dapat dipandang seperti museum yang menyimpan sejarah, teknologi, identitas, dan cerita masyarakat.

Bangun Kolaborasi Lintas Negara

Tidal Weavers mempertemukan seniman dari Indonesia, Hong Kong, Taiwan, dan Filipina dalam program residensi dan kolaborasi komunitas.

Para peserta melakukan riset lapangan di sejumlah wilayah seperti Tuban, Pontianak, Maumere, Sulawesi Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Filipina.

Mereka bekerja bersama komunitas lokal untuk menggali sejarah, tradisi, hingga pengetahuan yang hidup di masyarakat.

Mizuki menegaskan kolaborasi menjadi inti proyek ini.

“Tanpa dukungan komunitas lokal, karya-karya ini tidak mungkin terwujud. Proyek ini membangun hubungan antarmanusia sekaligus menghasilkan karya seni,” ungkapnya.

Seniman Taiwan Telusuri Jejak Indigo dan Tradisi Lokal

Direktur Hong-Gah Museum Taiwan, Zoe Yeh, menilai proyek ini membuka ruang dialog antara seni kontemporer dan kerajinan tradisional.

Ia menjelaskan banyak komunitas adat di Taiwan sedang berupaya menghidupkan kembali tradisi menenun yang sempat terputus akibat kolonialisme dan perubahan sosial.

Dalam proyek ini, seniman Taiwan Chang En-Man melakukan residensi di Sulawesi Selatan dan mempelajari budaya Bugis.

Sementara Yang Wei-Lin melakukan penelitian di Tuban, Jawa Timur.

Yang Wei-Lin menemukan hubungan historis menarik antara Taiwan dan Indonesia melalui tanaman nila atau indigo yang digunakan sebagai pewarna alami tekstil.

“Belanda memperkenalkan tanaman nila ke Indonesia dan juga Taiwan. Namun perkembangan tradisinya berbeda di masing-masing wilayah. Temuan itu kemudian menjadi dasar penciptaan karyanya,” ungkap Zoe.

Ia menambahkan proses residensi tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang antara seniman dan komunitas.

Mengangkat Ketangguhan Penenun Perempuan Filipina

Sementara Seniman Filipina Alma Quinto menghadirkan karya yang berangkat dari penelitian di Sulu, wilayah selatan Filipina yang lama terdampak konflik bersenjata.

Dalam risetnya, Alma bekerja bersama perempuan penenun dari komunitas Tausug.

Ia menyoroti bagaimana para penenun tetap mempertahankan tradisi di tengah situasi konflik dan keterbatasan ekonomi.

Alma mengangkat kisah Darhata Sawabi, peraih penghargaan National Living Treasure Filipina yang berperan besar menjaga tradisi tenun Tausug.

“Para penenun ini mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi. Mereka menjaga tradisi agar tidak hilang meskipun menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.

Melalui karyanya, Alma memberikan penghormatan kepada para penenun yang selama ini menjadi penjaga memori budaya masyarakatnya.

Hadirkan Ruang Arsip dan Pengetahuan

Selain menampilkan karya seni, edisi Yogyakarta juga menghadirkan Tidal Weavers Resource Room yang dikembangkan bersama Lawe Indonesia dan IVAA Contemporary Art Studies.

Ruang ini memperluas pemahaman publik tentang tekstil sebagai media produksi pengetahuan, penyimpan memori kolektif, dan pembentuk relasi sosial.

Melalui pameran ini, penyelenggara mengajak masyarakat melihat tekstil tidak sekadar sebagai produk kerajinan atau benda dekoratif.

Kain dan tenun juga menjadi arsip hidup yang merekam perjalanan manusia, pertukaran budaya, serta hubungan antarkomunitas di kawasan Asia.

Tidal Weavers menunjukkan bahwa selembar kain dapat menyimpan sejarah panjang tentang laut, migrasi, identitas, dan pengetahuan yang terus bergerak melintasi batas-batas geografis. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *