Home » Tertekan, Tercetak, Tersebar: Pameran di Krack! Ubah Stiker, Kaos, dan Foto Jadi Bahasa Perlawanan

Tertekan, Tercetak, Tersebar: Pameran di Krack! Ubah Stiker, Kaos, dan Foto Jadi Bahasa Perlawanan

Pengunjung sedang mencobs permainan Hubger Tales dalam 'Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar', di Krack! Yogyakarta, Jum'at (4/9/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta –  Seni cetak tidak hanya berbicara tentang teknik menghasilkan gambar. 

Di tangan para seniman, poster, stiker, kaos, foto, hingga permainan papan dapat menjadi medium untuk merespons persoalan pangan, politik, kondisi ekologis, dan kehidupan sehari-hari.

Gagasan tersebut menjadi dasar pameran ‘Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar’ yang digelar di Krack!, Jalan Nitiprayan No. 110, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 4–13 September 2026.

Krack! mengkuratori pameran bersama Elia Nurvista dengan menghadirkan praktik seni dari Bakudapan Food Study Group, Gilang Propagila, Pangestumu, dan Ruang MES 56.

Pameran ini berangkat dari karakter dasar seni cetak yang memungkinkan sebuah gambar diperbanyak dan diedarkan. 

Karena itu, Pressing Pressure tidak hanya melihat hasil akhir sebuah karya, tetapi juga menelusuri kondisi yang mendorong gambar lahir, proses produksinya, hingga perjalanan gambar setelah meninggalkan tangan pembuatnya.

Sebuah gagasan dapat bermula dari goresan pensil, potongan stensil, foto, atau gambar digital melalui stylus. 

Setelah itu, gambar dapat berubah menjadi poster, kaos, stiker, kartu permainan, publikasi, hingga kembali beredar dalam bentuk digital.

Perpindahan tersebut membuat seni cetak memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan keseharian masyarakat.

Dari Tekanan Mesin hingga Tekanan Sosial

Elia mengatakan, nama Pressing Pressure memainkan dua makna tentang tekanan.

Tekanan pertama hadir secara harfiah dalam proses mencetak, seperti tekanan rakel, mesin, maupun tangan yang memindahkan gambar dari satu permukaan ke permukaan lain.

Namun, seniman juga bekerja di bawah tekanan lain. 

“Kondisi ekonomi, persoalan pangan, krisis ekologis, situasi politik, keterbatasan sumber daya, hingga pengalaman sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berbicara dan mencari cara menyampaikan gagasan,” katanya, Jum’at (4/9/2026). 

Elia mengungkapkan, tekanan tersebut tidak selalu menghasilkan keterbatasan. 

Sebaliknya, kondisi itu dapat melahirkan berbagai siasat.

Ia menilai, ketika alat terbatas, masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia. 

Saat informasi harus bergerak cepat, gambar dibuat sederhana agar mudah diperbanyak. 

“Ketika ruang formal sulit dijangkau, poster dapat berpindah ke jalan, stiker menempel pada benda sehari-hari, gambar hadir pada kaos, dan publikasi bergerak dari tangan ke tangan,” jelasnya. 

Sejarah seni cetak di Indonesia juga memperlihatkan pola tersebut. 

Masyarakat memanfaatkan berbagai bentuk reproduksi visual untuk menyebarkan propaganda pada masa pendudukan Jepang, menyampaikan gagasan selama perjuangan kemerdekaan, hingga menggerakkan poster, selebaran, fotokopi, stiker, spanduk, dan kaos dalam demonstrasi serta gerakan warga menjelang Reformasi.

Menurut Elia, dalam konteks tersebut kata press tidak hanya berarti menekan untuk mencetak. 

Kata tersebut juga merujuk pada upaya membuat gambar terus bergerak dan tersebar.

“Kemampuan reproduksi membuat sebuah gagasan dapat keluar dari tempat pembuatannya dan bertemu dengan orang maupun situasi yang sebelumnya tidak terbayangkan,” ungkapnya. 

Pangan hingga Kehadiran Aparat

Pameran menghadirkan beragam praktik yang menunjukkan hubungan antara seni cetak dan kehidupan sosial.

Gilang Propagila menghadirkan praktik grafis yang berkembang bersama kegiatan warga. 

Melalui Punk Pangan, yang bermula pada masa pandemi, stiker, poster, spanduk, flyer, dan kaos menjadi bagian dari aktivitas berbagi pangan.

Praktik tersebut sekaligus membawa isu mengenai akses pangan dan tanggung jawab negara kepada ruang yang lebih luas.

Persoalan pangan juga menjadi fokus Bakudapan Food Study Group melalui karya Hunger Tales.

Bakudapan menggunakan board game untuk mengajak pemain memahami sistem pangan dari berbagai posisi. 

Pemain berhadapan dengan persoalan harga, distribusi, kebijakan, hingga ketimpangan struktural.

Dalam karya ini, seni cetak tidak berhenti sebagai medium visual. 

Ia juga menjadi perangkat untuk memainkan sekaligus menyebarkan pengetahuan mengenai relasi ekonomi dan kuasa dalam sistem pangan.

Sementara itu, Pangestumu menggunakan repetisi stensil figur polisi dan militer untuk membicarakan semakin terbiasanya kehadiran aparat di ruang sipil.

Teknik stensil memungkinkan figur yang sama muncul berulang kali. 

Repetisi tersebut secara perlahan membuat figur aparat menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.

Pangestumu menggunakan pengulangan itu untuk mempertanyakan bagaimana sesuatu yang awalnya terasa ganjil dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal ketika terus hadir dalam keseharian.

Berbeda dari praktik tersebut, Ruang MES 56 kembali mengeksplorasi fotografi analog dan afdruk yang pernah dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bersama warga Nitiprayan, Ruang MES 56 menggunakan kamera untuk melihat kembali lingkungan sekitar Krack!. 

Rumah, warung, pohon, poster yang hampir terlepas, hingga kejadian sederhana dapat menjadi bagian dari arsip yang tumbuh dari cara warga melihat kampungnya sendiri.

Ada Workshop hingga Permainan Hunger Tales

Pameran ‘Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar’ dibuka pada Jumat, 4 September 2026, pukul 16.00 WIB oleh Ignatia Nilu, salah satu dari tuga juri yang memilih proyek tersebut. 

Nilu mengungkapkan, gagasan Pressing Pressure sejak awal menarik perhatian karena tidak membatasi seni grafis pada persoalan teknis.

Menurutnya, Krack! bersama tim kurator melihat seni grafis sebagai praktik yang memungkinkan gambar bergerak dari tangan pembuatnya menuju ruang sosial yang lebih luas.

“Ketika sebuah citraan dibuat, digandakan, diedarkan, lalu menemukan kehidupannya di tengah masyarakat,” jelasnya. 

Gambar Tidak Pernah Benar-Benar Netral

Ignatia menilai, pendekatan tersebut memiliki kedekatan dengan perjalanan praktik Krack! selama ini.

Ia menyebut, seni grafis bukan hanya urusan membuat atau mencetak gambar, tetapi juga bagaimana seniman bekerja di tengah masyarakat.

Sebab, menurut dia, gambar tidak pernah benar-benar netral. Ketika diproduksi, diperbanyak, dan ditempatkan dalam ruang tertentu, gambar membawa informasi, kepentingan, ingatan, hingga posisi politik.

Peredaran gambar juga menentukan siapa yang dapat melihat, menggunakan, maupun meresponsnya.

Cara berpikir tersebut kemudian mempertemukan sejumlah praktik yang memiliki bahasa berbeda dalam Pressing Pressure.

Ruang Baru Krack! dan Kehidupan Nitiprayan

Perpindahan Krack! ke kompleks barunya di Nitiprayan juga menjadi bagian penting dalam konteks pameran.

Ignatia menambahkan, Nitiprayan memiliki kehidupan seni yang intim dengan masyarakat. 

Studio, ruang pamer, rumah, warung, jalan, dan warga saling berkelindan dengan praktik artistik.

“Di tempat semacam ini seni tidak hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari masyarakat. Ia hidup karena bertemu, bercakap-cakap, dan kadang ada gesekan juga secara langsung dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap Pressing Pressure tidak hanya menjadi penanda ruang baru Krack!, tetapi juga menjadi awal hubungan yang lebih panjang antara Krack! dan lingkungan sekitar.

Hubungan tersebut dapat berkembang bersama berbagai komunitas yang nantinya datang dan bekerja di ruang tersebut.

Seni Kontemporer dan Keistimewaan Yogyakarta

Dukungan Dana Keistimewaan juga memberi konteks tersendiri bagi pameran tersebut.

Ignatia menilai, keistimewaan Yogyakarta tidak hanya hidup melalui warisan masa lalu. 

Keistimewaan juga tumbuh melalui keberanian pelaku seni hari ini dalam membaca zaman, mengajukan kritik, dan mencoba berbagai bentuk baru.

Ia menyebut, praktik seni kontemporer yang kritis, reflektif, dan progresif tidak berada di luar keistimewaan Yogyakarta.

Justru praktik semacam itu menunjukkan bahwa Yogyakarta terus hidup sebagai ruang produksi gagasan.

“Bukan hanya sebagai ruang penyimpanan sejarah, tapi tempat gagasan baru diproduksi, diedarkan, dan kadang diperdebatkan,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *