Home » Sungai Winongo Butuh Trash Barrier, DPRD DIY Soroti Sampah Rumah Tangga yang Masih Dibuang ke Sungai

Sungai Winongo Butuh Trash Barrier, DPRD DIY Soroti Sampah Rumah Tangga yang Masih Dibuang ke Sungai

Ilustrasi salah satu sungai di Kota Yogyakarta. (wikimedia).

PROSA.ID, Yogyakarta – Sungai Winongo di Kota Yogyakarta dinilai membutuhkan pemasangan trash barrier untuk menahan sampah rumah tangga yang masih dibuang ke aliran sungai oleh warga.

Hal ini lantaran di Sungai Winongo masih ditemukan banyaknya sampah yang hanyut di aliran sungai. Pemasangan trash barrier ini dinilai sebagai solusi penanganan.

Usulan ini mengemuka saat kegiatan Merti Kali yang digelar Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY bersama DPRD DIY di kawasan Serangan, Notoprajan, Ngampilan.

Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, mengatakan sampah rumah tangga masih kerap ditemukan hanyut di sungai, bahkan dalam jumlah besar.

“Tidak hanya satu atau dua bungkus. Ada yang dalam bentuk bungkusan besar tas plastik seperti sampah yang biasa dibuang ke TPS,” ujarnya di sela kegiatan, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, pemasangan trash barrier akan sangat membantu menjaring sampah sebelum terbawa lebih jauh oleh arus sungai.

Hal ini juga akan memudahkan proses pembersihan yang dilakukan petugas maupun masyarakat.

Selain itu, keberadaan alat tersebut dinilai dapat membantu memetakan titik-titik rawan pembuangan sampah.

“Dengan sistem klaster, setiap titik bisa dipasangi trash barrier untuk memantau dan mengendalikan sampah,” kata Syafi’i.

Syafi’i menegaskan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program tersebut.

“Warga harus dilibatkan langsung dalam pembersihan sampah di *trash barrier*, agar muncul kesadaran bahwa membuang sampah ke sungai itu merugikan,” ucapnya.

Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri, Endang Radjiani menyebut, pihaknya telah lama mendorong penataan Sungai Winongo sejak forum tersebut dibentuk pada 2009.

“Kami punya cita-cita menjadikan Winongo sebagai wisata pada 2030. Serangan ini dulu menjadi pusat kegiatan penataan,” ungkapnya.

Meski penataan berjalan bertahap dan belum maksimal, kondisi bantaran sungai di kawasan tersebut dinilai mulai menunjukkan perbaikan.

Sementara itu, Ahli Madya Pencemaran Lingkungan DLH DIY, Raditya, mengungkapkan hasil pemantauan kualitas air menunjukkan tingkat pencemaran yang bervariasi.

“Kandungan cemaran di sungai, termasuk Winongo, mulai dari ringan hingga berat. Ini berpengaruh pada Indeks Kualitas Air dan kondisi lingkungan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sungai di kawasan perkotaan menjadi kebutuhan mendesak karena air merupakan sumber utama kehidupan masyarakat.

Pemasangan trash barrier diklaim dapat mendukung upaya pembersihan rutin, namun membutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari DPRD, DLH, Dinas Pekerjaan Umum, hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Dengan langkah ini, diharapkan kualitas Sungai Winongo dapat terus membaik dan mendukung keberlanjutan lingkungan di Kota Yogyakarta. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *