Home » Setelah Vakum 6 Tahun, Restu Ratnaningtyas Kembali Berkarya Lewat 24/7 Bodies

Setelah Vakum 6 Tahun, Restu Ratnaningtyas Kembali Berkarya Lewat 24/7 Bodies

Restu Ratnaningtyas bersama karya yang dipamerkan di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, Jumat (12/9/2025). (Foto: prosa/Ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Manusia hidup di era dunia yang tak pernah berhenti bergerak. Teknologi digital, internet, dan kapitalisme global membentuk ritme 24/7: kerja, komunikasi, dan konsumsi yang berlangsung secara terus-menerus, siang dan malam, tanpa jeda, tanpa ruang untuk sejenak mengambil jarak.

Dalam kondisi semacam ini, tubuh manusia dipaksa menyesuaikan diri dengan tempo mesin yang dingin, terukur dan nyaris mustahil dihindari.

Situasi inilah yang dibaca seorang seniman perempuan bernama Restu Ratnaningtyas dan kemudian dituangkan dalam sebuah pameran bertajuk 24/7 Bodies.

Ia menangkap pengalaman tersebut dengan menjadikan tubuh sebagai pusat kegelisahan, ruang kontemplasi, serta jejak kerja yang terus berhadapan dengan ritme mesin.

“Ide dari pameran ini sebenarnya tentang aging, karena memang belakangan aku merasa kaya produktivitasnya agak berkurang karena bertambahnya usia. Kaya mata semakin menurun,” katanya saat ditemui di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, Jumat (12/9/2025) malam.

Restu mengungkapkan, selama berproses mempersiapkan pameran dan melihat kembali karya yang sudah dibuat, kemudian ia bersama kurator Arham Rahman memutuskan mengambil tema post human.

“Karena aku melihat karya-karya ku ini sangat post human dan bukan cuma sekedar membahas domestik. Karena belakangan karyaku sering disebutkan lebih ke hal-hal domestik karena obyek-obyeknya atau simbol-simbolnya banyak memakai simbol domestik,” jelasnya.

Restu mengakui, kegelisahan selama ini yang ia rasakan soal keberadaan sosial media, teknologi dan kapitalisme ini menjadi inspirasi dalam membuat delapan karya yang dipamerkan. Selain itu, bentuk figur seperti manusia yang tidak lengkap juga menjadi pemantik dalam mengangkat tema post human ini.

“Delapan karya ini mediumnya beda-beda. Ada yang dari keramik, ada yang dari instalasi keramik dengan tekstil, ada yang tekstil dengan kayu, ada yang lukisan cat air, lukisan cat minyak. Kebetulan aku suka bermain-main medium dan eksplorasi medium. Biasanya tergantung dari tema pemilihan medium itu,” ungkapnya.

Restu menyebut, setiap medium yang ia pilih untuk membuat karya, ada alasannya. Untuk pameran ini, medium-medium yang ia gunakan menggambarkan realitas yang terjadi dalam masyarakat. Misalnya, tekstil yang selalu erat kaitannya dengan buruh perempuan.

“Kalau keramik itu kan kriya, jadi ya kerja gitu. Seni rupa kan yang kita lakukan kerja dan itu lebih banyak kerja tangan gitu kan. Keramik ini bukan sekedar keramik yang kemudian dipajang, ya ada satu karya, tapi yang tiga karya lain itu ada fungsinya. Satu kain, kemudian alat buat suara kan itu, dan yang ada ikannya itu semacam wadah untuk menampung ikan itu. Jadi emang ada alasan untuk memilih medium-medium itu,” paparnya.

Dalam proses berkarya, lanjut Restu, tidak selalu menggunakan medium yang linier. Jika bosan dengan satu medium, kemudian ia mencoba dengan medium yang lain. Selain itu, ada insting yang bermain dalam setiap karya dengan isu yang membuatnya tertarik.

“Misalnya aku lagi tertarik dengan isu sosial media. Kemudian kain itu semacam matrix, jalinan-jalinan itu kan seperti data. Jadi menurutku relate tekstil itu ngomongin sosial media, networking itu,” paparnya.

Kurator pameran, Arham Rahman menambahkan, karya-karya yang dipamerkan berakar dari pengalaman Restu secara personal. Di usianya kini, pandangan mata mulai melemah, ritme kerja yang melambat, dan proses kreatif yang membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan di masa lalu. Akan tetapi, apa yang personal selalu terkait erat dengan yang kolektif.

“Tubuh Restu sekaligus merefleksikan tubuh kita semua. Tubuh-tubuh yang dijaring mesin, terikat algoritma, dan terperangkap dalam industri yang menuntut kerja tanpa henti, bahkan di saat tidur sekalipun,” imbuh Arham.

Arham bilang, melalui lukisan, drawing, keramik, dan instalasi tekstil, Restu menyajikan tubuh tidak sebagai sesuatu yang benar-benar utuh. Tubuh yang ia sodorkan lebih sebagai fragmen yang terus-menerus terurai.

“Kita melihat tangan yang dijahit dengan benang merah, potongan wajah yang terperangkap dalam kotak, figur jungkir balik, serta kain yang terkoyak dan dijahit kembali secara kasar. Bentuk-bentuk tersebut berfungsi sebagai metafora tentang tubuh yang terus bernegosiasi dengan waktu, usia, memori, serta tuntutan produktivitas yang tidak pernah mengenal kompromi,” lanjut Arham.

Pameran tersebut menjadi bagian Broken White Project yakni rangkaian program pameran yang diinisiasi oleh Ace House Collective yang berkolaborasi dengan pihak pendukung untuk menghadirkan seniman-seniman pilihan.

Director Ace Hous Collective, Gintani Swastika menyampaikan, selama periode program berlangsung, seniman terpilih didorong untuk mengeksplorasi dan meninjau kembali proses kerja seniman yang didampingi langsung oleh tim Ace House Collective secara intensif sebagai partner untuk mengkurasi dan mengembangkan proses berkarya serta menawarkan serangkaian aktivitas yang berfokus pada kerja perawatan untuk mendukung praktik artistik para seniman.

“Restu ini terakhir pameran pada tahun 2019. Setelah vakum 6 tahun, kami ajak berkolaborasi lagi. Pameran ini berlangsung sampai 17 Oktober 2025,” ungkapnya. 

Ace House Collective didirikan pada tahun 2011 di Yogyakarta, adalah kolektif seniman yang bekerja sama dengan komunitas dan jejaringnya untuk mengelola ruang sebagai laboratorium seni. 

Kolektif ini berkomitmen untuk mendorong potensi artistik dan berkontribusi terhadap praktik seni kontemporer Indonesia dengan menyediakan platform untuk produksi, dialog, dan kolaborasi melalui forum, pertemuan dan pertukaran. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *