Home » SENDIMAS XI di UKDW Yogyakarta, Bahas Kolaborasi Kampus dan Inovasi Inklusif

SENDIMAS XI di UKDW Yogyakarta, Bahas Kolaborasi Kampus dan Inovasi Inklusif

Pembukaan Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (SENDIMAS) XI 2026 di Auditorium Koinonia UKDW, Yogyakarta, Rabu (14/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mendorong perguruan tinggi menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. 

Kampus juga perlu memastikan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Rektor UKDW, Dr.-Ing Wiyatiningsih menyampaikan pesan tersebut dalam Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (SENDIMAS) XI 2026 di Auditorium Koinonia UKDW, Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).

Seminar tahun ini mengangkat tema ‘Aksi Kolaboratif dan Inovasi Pengabdian Masyarakat 5.0 untuk Indonesia Adaptif, Inklusif, dan Berkelanjutan’. 

Melalui forum ini, UKDW mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi untuk menjawab persoalan masyarakat yang semakin kompleks.

Wiyatiningsih menilai, perkembangan AI dan teknologi berlangsung sangat pesat. 

Karena itu, perguruan tinggi perlu mengimbangi kemajuan teknologi dengan empati dan nilai-nilai humanis.

“Perkembangan AI dan teknologi sangat pesat. Itu membutuhkan empati dan nilai-nilai humanis dari kita. Perguruan tinggi dituntut untuk bisa memanusiakan apa yang sudah terlanjur menjadi canggih dan lebih tinggi itu, untuk dikembalikan kepada nilai-nilai humanisnya,” katanya.

Rektor UKDW Minta Kampus Perkuat Kolaborasi

Wiyatiningsih menegaskan, perguruan tinggi tidak bisa menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat secara mandiri. 

Oleh karena itu, kampus perlu menggandeng pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperluas dampak program pengabdian.

Ia mencontohkan Festival Inovasi Jogja sebagai wujud kolaborasi UKDW dengan Pemerintah Kota Yogyakarta. 

Pameran tersebut menghadirkan berbagai inovasi dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi.

“Kami mengajak peserta SENDIMAS XI mengunjungi pameran tersebut untuk melihat berbagai inovasi sekaligus menjajaki peluang kolaborasi,” ungkapnya.

Ia juga meminta perguruan tinggi memastikan setiap inovasi benar-benar menjawab kebutuhan pengguna. 

Menurutnya, kampus tidak cukup menghasilkan gagasan atau produk tanpa menguji manfaatnya dalam kehidupan masyarakat.

“Kalau inovasi tidak dapat digunakan, itu berarti berhenti. Kita berharap hasil-hasil pengabdian kita ini memang bisa digunakan,” katanya.

Wiyatiningsih berharap, seluruh anggota konsorsium terus menjaga komitmen dan mengembangkan kerja sama secara berkelanjutan. 

“Pentingnya tindakan nyata agar program pengabdian tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban akademik,” paparnya. 

SENDIMAS XI Bahas 69 Artikel Pengabdian

Ketua Panitia SENDIMAS XI 2026, Fransisca Endang Lestariningsih, menyampaikan bahwa panitia menjadwalkan 69 artikel untuk presentasi dalam tujuh ruang sesi paralel.

Para peserta mengangkat berbagai tema, mulai dari pemberdayaan ekonomi, kewirausahaan sosial, teknologi tepat guna, revitalisasi kemitraan, dan inovasi sosial hingga pendidikan inklusif, kesehatan masyarakat, serta lingkungan berkelanjutan.

Fransisca menilai, keragaman topik tersebut menunjukkan kontribusi berbagai disiplin ilmu dalam menjawab tantangan masyarakat. 

Ia berharap para peserta saling bertukar pengalaman, memberikan masukan, dan membangun kerja sama baru.

“Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar menjalankan program atau memenuhi kewajiban akademik. Ini merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab kita sebagai insan perguruan tinggi untuk menghadirkan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Fransisca juga mendorong peserta mengembangkan program yang mengutamakan kebutuhan masyarakat dan menghasilkan manfaat jangka panjang.

SENDIMAS XI melibatkan lima perguruan tinggi dalam konsorsium, yakni UKDW, Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Kristen Maranatha, dan Universitas Katolik Soegijapranata.

“Saya juga berharap konsorsium ini bisa memperluas jejaring kerja sama dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi, khususnya dari Yogyakarta dan Surabaya,” jelasnya. 

Romo Kirjito Ajak Peserta Merawat Manusia dan Alam

SENDIMAS XI menghadirkan Rm. Vincentius Kirjito, Pr., sebagai pembicara utama. 

Imam purnatugas Keuskupan Agung Semarang itu membawakan materi bertajuk Jagad Cilik Agung: Bersih Pangkal Sehat, Sehat Modal Cerdas, Cerdas Berani Jujur.

Romo Kirjito mengajak peserta memahami hubungan antara kesehatan manusia, kearifan lokal, dan kelestarian lingkungan melalui perspektif iman. 

Ia juga menekankan pentingnya menjaga tubuh serta memperhatikan kecukupan dan kualitas air sebagai kebutuhan mendasar kehidupan.

Sementara dalam sesi panel menghadirkan Dr. Ir. Iwan Aang Soenandi dari UKRIDA dan Dr.-Ing. Sita Yuliastuti Amijaya dari Pusat Studi Disabilitas dan Desain Inklusif (PS-DDI) UKDW.

Iwan menekankan pentingnya penguatan kompetensi dosen, riset terapan, kolaborasi pentahelix, dan sistem penjaminan mutu. 

Ia mendorong perguruan tinggi membangun kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media agar program pengabdian menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Perguruan tinggi juga perlu mengevaluasi dampak program secara berkala agar kegiatan pengabdian memberikan manfaat jangka panjang,” papar Iwan.

Sementara itu, Sita memaparkan upaya PS-DDI UKDW mengembangkan pengabdian inklusif melalui riset, desain partisipatoris, dan teknologi asistif. 

Ia menyoroti pentingnya melibatkan penyandang disabilitas secara aktif dalam proses perancangan solusi.

PS-DDI UKDW menerapkan pendekatan tersebut melalui pengembangan permainan edukatif berbasis etnografi berdasarkan observasi di SLB Negeri 1 Bantul. 

“Tim juga mengembangkan AusomeBricks, permainan modular inklusif untuk melatih kemampuan kognitif dan motorik halus,” imbuhnya. 

Selain itu, PS-DDI UKDW melakukan asesmen aksesibilitas fasilitas publik di kawasan Kotabaru. 

Kegiatan ini membantu mengidentifikasi kebutuhan aksesibilitas agar masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat memanfaatkan fasilitas publik secara lebih optimal.

Melalui SENDIMAS XI, UKDW mengajak perguruan tinggi menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan kebutuhan nyata masyarakat. 

Kampus diharapkan terus memperkuat kolaborasi, memperluas akses, dan memastikan setiap program pengabdian menghasilkan manfaat yang terukur serta berkelanjutan. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *