Home » Pendapatan Indosat Tumbuh 11 Persen, Bisnis AI Cloud Bidik US$100 Juta

Pendapatan Indosat Tumbuh 11 Persen, Bisnis AI Cloud Bidik US$100 Juta

Indosat Ooredoo Hutchison. (istimewa).

PROSA.ID, Jakarta – Indosat Ooredoo Hutchison membukukan pendapatan Rp45,8 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. 

Di tengah pertumbuhan bisnis telekomunikasi, perusahaan juga mempercepat ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) setelah bisnis AI Cloud mencatat pendapatan US$50 juta.

Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 11 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga September 2026. 

Pada periode yang sama, EBITDA mencapai Rp21,1 triliun, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 37,2 persen menjadi Rp4,9 triliun.

Kinerja tersebut memperkuat fondasi perusahaan untuk mengembangkan sumber pertumbuhan baru sekaligus mempertahankan bisnis inti telekomunikasi.

President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha mengatakan, perusahaan tetap mengandalkan bisnis telekomunikasi untuk menopang transformasi menuju perusahaan teknologi berbasis AI atau AI TechCo.

“Bisnis inti telekomunikasi yang kuat merupakan fondasi utama transformasi kami. Fokus kami tetap pada peningkatan pengalaman pelanggan, penguatan monetisasi, serta mengoptimalkan investasi pada jaringan dan spektrum,” ujar Vikram dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, kekuatan finansial perusahaan memungkinkan Indosat meningkatkan investasi pada infrastruktur dan solusi AI. 

Di sisi lain, perusahaan juga berupaya memenuhi kebutuhan teknologi yang terus berkembang di Indonesia maupun pasar global.

Strategi AI Dorong Pendapatan per Pengguna

Di sektor telekomunikasi, Indosat memanfaatkan AI untuk memahami perilaku pelanggan dan menawarkan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Strategi hyper-personalization ini berjalan beriringan dengan investasi pada kualitas jaringan, optimalisasi spektrum, dan pengembangan teknologi 5G.

Pendekatan tersebut mendorong rata-rata pendapatan per pengguna seluler atau Average Revenue Per User (ARPU) gabungan naik 16,5 persen secara tahunan menjadi Rp46.000.

Pada saat yang sama, trafik data tumbuh 16 persen menjadi 14.829 petabyte. 

Peningkatan ini memperlihatkan besarnya kebutuhan pelanggan terhadap layanan data sekaligus memperkuat peran jaringan sebagai penopang bisnis Indosat.

Selain itu, Indosat juga terus mengoptimalkan kapasitas jaringan dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. 

“Melalui strategi tersebut, Indosat ingin menjaga pertumbuhan pendapatan sekaligus meningkatkan nilai bisnis dari layanan telekomunikasi,” kata Vikram. 

Pendapatan AI Cloud Tembus US$50 Juta

Tak hanya mengandalkan konektivitas, Indosat mulai memperlihatkan hasil komersial dari investasi AI. 

Bisnis Indosat AI Cloud membukukan pendapatan US$50 juta selama sembilan bulan pertama 2026.

Capaian itu melampaui pendapatan sepanjang 2025 yang mencapai US$28 juta. Indosat pun menargetkan pendapatan AI Cloud mencapai US$100 juta hingga akhir 2026.

Proyeksi tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap komputasi AI dan layanan cloud. 

Indosat melihat peluang untuk menjadikan investasi teknologi sebagai sumber pendapatan baru di luar bisnis telekomunikasi konvensional.

Vikram menjelaskan, investasi AI perusahaan mulai memberikan kontribusi bisnis yang nyata. 

Karena itu, Indosat terus membangun kemampuan untuk menyediakan infrastruktur dan solusi yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.

“Investasi kami di bidang AI kini mulai menunjukkan kontribusi bisnis yang nyata. Kami juga terus membangun kapabilitas untuk menjawab tingginya kebutuhan akan infrastruktur dan solusi AI, baik di Indonesia maupun di kancah global,” katanya.

Bangun Infrastruktur AI hingga Target 1 Gigawatt

Untuk memperluas bisnis tersebut, Indosat membangun ekosistem AI terintegrasi yang menghubungkan konektivitas, jaringan serat optik, pusat data, kapasitas komputasi, model AI, dan aplikasi perusahaan.

Indosat mengandalkan jaringan serat optik RAIA Grid sepanjang 86.000 kilometer untuk menghubungkan sumber daya komputasi dengan kebutuhan penerapan AI di berbagai sektor.

Di sisi lain, Zankore by Indosat mengembangkan infrastruktur AI generasi berikutnya. 

Inisiatif ini memiliki ambisi jangka panjang untuk mencapai kapasitas AI hingga satu gigawatt (GW).

Melalui pengembangan tersebut, Indosat ingin membantu pelaku usaha mengakses dan menerapkan teknologi AI sesuai skala kebutuhan mereka. 

“Indosat berupaya membuka peluang bisnis baru dari meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital,” imbuh Vikram. 

Gandeng F5 Perluas Akses AI bagi Perusahaan

Untuk mendekatkan teknologi AI kepada pelanggan korporasi, Indosat menghadirkan Indosat Intelligence Suite melalui kemitraan strategis dengan F5.

Solusi ini menyediakan akses terkelola terhadap model dan infrastruktur AI melalui satu lapisan terintegrasi. 

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengelola penggunaan AI, mengendalikan biaya, dan memperluas penerapan teknologi secara lebih terukur.

Indosat juga menyebut perusahaan teknologi global mulai menjadi pelanggan. 

Perkembangan ini membuka peluang bagi perusahaan untuk mengubah investasi infrastruktur AI menjadi pendapatan komersial.

Ke depan, Indosat akan mengandalkan perpaduan bisnis telekomunikasi dan ekosistem AI untuk memperkuat pertumbuhan. 

Vikram menargetkan strategi tersebut dapat mendukung transformasi digital pelaku usaha sekaligus memperluas akses terhadap teknologi canggih.

Ia menegaskan, seluruh langkah tersebut tetap berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dan penciptaan nilai jangka panjang.

“Kami ingin memastikan teknologi semakin mudah diakses, sekaligus mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan maupun perekonomian secara luas,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *