Home » Mahasiswa UNY Sulap Kaos Bekas Jadi Gantungan Kunci Bernilai Jual Bersama Siswa Disabilitas

Mahasiswa UNY Sulap Kaos Bekas Jadi Gantungan Kunci Bernilai Jual Bersama Siswa Disabilitas

Mahasiswa PLK UNY ajak siswa disabilitas di Panti Asuhan Bina Siwi, Bantul, buat gantungan kunci dari kaos, Minggu (11/10/2026). (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Mahasiswa Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengajak siswa disabilitas di Panti Asuhan Bina Siwi, Bantul, mengolah kaos bekas menjadi gantungan kunci melalui teknik makrame, Minggu (11/10/2026). 

Kegiatan ini mengenalkan keterampilan kerajinan tangan sekaligus membuka peluang usaha kreatif bagi panti asuhan.

Sebanyak 25 siswa mengikuti kelas makrame yang melibatkan sembilan mahasiswa PLK UNY. 

Mereka mengajak peserta memanfaatkan kaos bekas menjadi keychain atau gantungan kunci yang memiliki nilai guna dan berpotensi menghasilkan pendapatan.

Mahasiswa mendampingi peserta secara langsung, mulai dari mengenali bahan hingga merangkai potongan kaos menjadi kerajinan. 

Para mahasiswa tersebut menyesuaikan pendampingan dengan kemampuan masing-masing peserta agar seluruh siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembuatan.

Ketua PLK UNY, Bernadetha Putu Putri Adnyana menjelaskan, kegiatan ini berangkat dari keinginan untuk mengolah pakaian bekas yang berasal dari donasi masyarakat kepada Panti Asuhan Bina Siwi.

“Kami memilih membuat gantungan kunci karena proses pembuatannya relatif mudah dan tahapannya mudah diingat oleh teman-teman di Panti Asuhan Bina Siwi. Harapannya, keterampilan ini dapat terus dipraktikkan secara mandiri dan kegiatan produksi gantungan kunci tetap berlanjut meskipun kami sudah tidak lagi berada di sini,” katanya.

Bernadetha menjelaskan, keterampilan tersebut dapat mendorong panti mengembangkan produksi kerajinan secara berkelanjutan. 

“Dengan mengolah pakaian bekas menjadi produk yang menarik, panti memiliki alternatif untuk menambah sumber pemasukan,” ungkapnya. 

Selain memperkenalkan keterampilan baru, kegiatan ini juga mengajarkan pemanfaatan kembali barang yang sudah tidak terpakai. 

Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana bahan sederhana berubah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai tambah.

Pengurus Panti Apresiasi Kegiatan Mahasiswa UNY

Salah satu pengurus Panti Asuhan Bina Siwi, Daliyem, menyambut baik kegiatan yang diinisiasi mahasiswa UNY tersebut. 

Menurutnya, pendampingan mahasiswa membantu anak-anak mengenal berbagai aktivitas keterampilan.

“Anak-anak juga menjadi lebih mengenal dan memahami berbagai kegiatan keterampilan, seperti membuat gantungan kunci dari makrame. Mereka juga senang ketika diajari menari. Kami merasa sangat terbantu dengan kegiatan mahasiswa ini,” ujar Daliyem.

Ia juga menyampaikan harapan agar para mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dan meraih cita-cita mereka.

Kegiatan mahasiswa PLK UNY ini tidak hanya berfokus pada hasil kerajinan, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa disabilitas untuk mengeksplorasi kreativitas dan mengembangkan keterampilan praktis. 

“Pendampingan secara langsung membantu peserta mengikuti setiap tahapan sesuai kemampuan masing-masing,” ungkapnya. 

Dorong Kemandirian melalui Keterampilan Kreatif

Melalui kelas makrame, mahasiswa PLK UNY berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang inklusif sekaligus bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. 

Keterampilan membuat gantungan kunci dapat menjadi bekal awal bagi peserta untuk mengembangkan kegiatan produktif.

Keberlanjutan produksi menjadi salah satu harapan utama kegiatan tersebut. 

Mahasiswa ingin para siswa dan pengelola panti dapat melanjutkan pembuatan kerajinan secara mandiri setelah program PLK berakhir.

Sembilan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini ialah Bernadetha Putu Putri Adnyana, Bramaningtyas Putri Dian Pradita, Maya Ayu Wulandari, Nabila Amelia Puspitasari, Keisha Shanie Aurelie, Alvin Nur Hidayat, Adam Abdullah Wibowo, Dzikra Al Gibran, dan Muhammad Rafi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNY turut memperkuat kepedulian sosial, pemanfaatan bahan daur ulang, dan pengembangan keterampilan kreatif bagi siswa disabilitas. 

Inisiatif inj juga menunjukkan bahwa kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi perlu terbuka bagi setiap individu. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *