PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) resmi meluncurkan Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan sebagai program studi ke-17 pada Rabu (22/7/2026).
Peluncuran tersebut tidak hanya menandai ekspansi akademik UKDW, tetapi juga menjadi momentum penegasan bahwa program studi baru harus mampu menjawab kebutuhan industri, memperkuat ketahanan pangan, hingga mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala LLDIKTI Wilayah V, Setyabudi Indarton mengatakan, paradigma pembukaan program studi telah berubah.
Perguruan tinggi tidak boleh lagi membuka prodi semata-mata demi menarik mahasiswa baru, tetapi wajib menghadirkan inovasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Program studi yang kita lahirkan orientasinya tidak lagi sekadar berapa mahasiswanya, tetapi keberadaan program studi itu harus memberikan dampak bagi masyarakat luas,” tegas Setyo saat menghadiri Grand Launching Prodi Teknologi Pangan UKDW.
Prodi Baru Harus Menjawab Kebutuhan Industri
Setyo mengungkapkan, kebijakan pendidikan tinggi kini mengusung semangat Dikti Saintek Berdampak, sehingga seluruh aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat harus menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia yang mampu memperkuat sektor industri sebagai fondasi menuju negara maju.
“Kita ingin menjadi negara maju. Salah satu karakteristik negara maju adalah memiliki industri yang kuat. Karena itu perguruan tinggi harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mendukung penguatan industri nasional,” ujarnya.
Ia menilai, kehadiran Prodi Teknologi Pangan UKDW merupakan langkah strategis karena sektor pangan menjadi salah satu bidang yang akan terus berkembang.
Lulusan Teknologi Pangan Berpeluang Besar Dukung MBG
Setyo juga menyoroti besarnya peluang lulusan Teknologi Pangan dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menyebut, kebutuhan tenaga ahli di bidang keamanan pangan, pengawasan mutu (quality control), hingga penyusunan standar gizi akan meningkat seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Siapa yang akan menjadi quality control-nya? Kita sering mengkritik MBG, tetapi harus ada data dan tenaga ahli yang memastikan kualitasnya. Ini peluang besar bagi lulusan Teknologi Pangan,” katanya.
Ia optimistis, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri akan memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung target Indonesia Emas 2045.
Riset Harus Melahirkan Solusi
Selain menghasilkan lulusan, Setyo meminta perguruan tinggi mengubah orientasi riset.
Ia menyampaikan, keberhasilan kampus tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah, tetapi dari sejauh mana hasil penelitian mampu diterapkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Laboratorium Teknologi Pangan UKDW harus menjadi pusat lahirnya inovasi pangan yang dapat dimanfaatkan industri maupun masyarakat,” jelasnya.
LLDIKTI Bentuk Konsorsium Saintis DIY
Untuk memperkuat kolaborasi penelitian, LLDIKTI Wilayah V tengah menyiapkan Sarasehan Saintis dan Teknologi DIY (SSTY) yang akan mempertemukan para doktor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Forum tersebut akan menjadi langkah awal pembentukan konsorsium riset guna menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
“Kami sedang mempersiapkan konsorsium agar para peneliti dapat berkolaborasi menghasilkan inovasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan industri,” ujar Setyo.
UKDW Tambah Prodi ke-17
Rektor UKDW, Wiyatiningsih menambahkan, Prodi Teknologi Pangan merupakan program studi ke-17 di kampus tersebut sekaligus menjadi ‘adik’ baru Fakultas Bioteknologi yang telah berdiri selama hampir 40 tahun.
Ia mengungkapkan, pembukaan program studi ini merupakan hasil proses panjang yang dirancang secara matang agar mampu menjawab tantangan ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan.
“Prodi Teknologi Pangan bukan sembarangan dirancang. Kami ingin berkontribusi sebagai kampus yang berdampak melalui pengembangan teknologi pangan berbasis bahan alam dan sumber daya lokal untuk kesehatan masyarakat,” tandasnya.
Ia menjelaskan, kehadiran Prodi Teknologi Pangan juga memperkuat visi UKDW sebagai Sustainable Entrepreneurial Research University.
Fokus pada Pangan Fungsional dan Bahan Lokal
Ketua Program Studi Teknologi Pangan UKDW, Catarina Aprilia Ariestanti menjelaskan, kurikulum dirancang dengan mengintegrasikan teknologi pangan modern dan bioteknologi.
Mahasiswa akan mempelajari pengolahan bahan pangan hewani, nabati, maupun mikrobia melalui pendekatan fisik, biologis, dan kimia untuk menghasilkan pangan yang aman, bergizi, dan bernilai tambah.
Salah satu keunggulan program ini adalah pengembangan indigenous nutraceutical dan functional food berbasis kekayaan hayati Indonesia.
“Lulusan dipersiapkan menjadi sarjana teknologi pangan yang inovatif, berintegritas, memiliki jiwa kewirausahaan, dan siap bersaing di tingkat global,” kata Catarina.
Ia menambahkan, mahasiswa akan memperoleh pengalaman melalui laboratorium modern, riset terapan, magang industri, hingga kolaborasi dengan mitra nasional maupun internasional.
Lulusan Prodi Teknologi Pangan UKDW memiliki prospek karier sebagai quality assurance, quality control, research and development, analis laboratorium, production planning and inventory control, hingga konsultan pangan dan nutrasetikal.
“Selain itu juga bisa masuk hingga food technopreneur yang mampu mengembangkan produk pangan inovatif berbasis potensi hayati Indonesia,” pungkasn. (Ken).
