Home » Libur Natal dan Tahun Baru 2026, Ketua DPRD DIY : Harus Bisa Jadi Tuan Rumah yang Baik

Libur Natal dan Tahun Baru 2026, Ketua DPRD DIY : Harus Bisa Jadi Tuan Rumah yang Baik

Ketua DPRD DIY, Nuryadi saat ditemui awak media di ruangannya, Kamis (18/12/2025). (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, DIY diprediksi akan kedatangan 5,1 juta wisatawan. Sejumlah persiapan pun telah dilakukan oleh Pemda DIY, diantaranya koordinasi lintas sektor untuk memastikan keamanan dan kondusifitas wilayah.

Merespon hal itu, Ketua DPRD DIY, Nuryadi mengatakan, DIY sebagai salah satu destinasi wisata favorit harus bisa menjadi tuan rumah yang baik.

“Tuan rumah yang baik itu seperti apa? Artinya, kita juga bisa menyapa dengan baik, bisa menerima dengan baik, bahkan momentum masyarakat yang datang di Yogyakarta itu tidak sekedar datang, tapi melihat, membeli, belanja, dan mungkin bisa menginap di sini,” katanya di DPRD DIY, Kamis (18/12/2025).

Nuryadi mengungkapkan, momentum libur panjang ini bagi sebagian orang digunakan untuk mencari rezeki. Karenanya, ia berpesan agar masyarakat menggunakan kesempatan ini dengan baik dan wajar supaya wisatawan tidak kapok datang ke Yogyakarta.

“Sebaiknya kita fair semua. Fair nya itu kalau berdagang ya sebaiknya pakai daftar harga, jangan nuthuk. Ini berlaku untuk semua pihak,” ungkapnya.

Nuryadi menyadari, Yogyakarta ini adalah wilayah yang tidak punya sumber daya alam. Hal ini memungkinkan wisata di Yogyakarta bisa mendekati Bali jika masyarakat betul-betul siap untuk menerima wisatawan tersebut.

“Maka saya menghimbau pada masyarakat Yogyakarta, beri peluang, beri ruang pada masyarakat warga kita yang di luar Yogyakarta untuk datang di sini. Entah itu wisata, entah itu pulang kampung, dan sebagainya. Agar mereka bisa cerita nantinya pada waktu pulang dari Yogyakarta, mengesankan bahwa Yogyakarta baik dan ramah. Dan nantinya kita akan mendapatkan tamu-tamu yang lebih besar,” jelasnya.

Menurut Nuryadi, dengan sudah dibukanya tol di Prambanan, sangat membuka ruang masyarakat untuk datang di Yogyakarta. Harapannya, dengan keramahan masyarakat Yogyakarta, warga masyarakat yang datang dari luar Yogyakarta bisa bertahan.

“Tidak hanya lewat, tapi bisa bertahan, bisa menginap sehingga DIY bisa terangkat, khususnya pendapatannya dan masyarakatnya juga, UMKM juga terangkat dengan kita menyiapkan diri untuk bisa menerima wisatawan dengan baik,” ujarnya.

Terkait jumlah kunjungan wisata di Yogyakarta melebihi Bali, Nuryadi menilai bahwa hal tersebut wajar. Sebab akses masuk ke wilayah Yogyakarta saat ini lebih mudah dan cepat dengan adanya tol.

“Tadi saya sampaikan, wajar-wajar saja bahwa biasanya kita lengang, tapi kali ini tidak bisa. Sekarang sudah mulai macet ini. Maka kita sebagai warga Yogyakarta, jika tidak berkembang langsung, penting sekali, sebaiknya nggak usah ke Malioboro lah. Kita ini sebagai tuan rumah,” ungkapnya.

Nuryadi mengungkapkan, pihaknya bukan melarang masyarakat Yogyakarta untuk ke Malioboro. Namun pihaknya ingin memberikan ruang kepada masyarakat dari luar Yogyakarta untuk bisa menikmati Malaiboro dan sekitarnya.

Di sisi lain, Nuryadi juga mengingatkan kepada para pedagang, pelaku wisata, dan masyarakat pada umumnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Ia juga meyakinkan bahwa tempat-tempat sampah di kawasan wisata juga telah dipersiapkan di titik tertentu.

“Seperti yang sedang dilakukan oleh pemerintah daerah. Kita bagaimana kebersihan penting, karena itu menjadi cerita tersendiri. Jika kita bisa bersih, bisa menerima dengan ramah, harganya juga tidak nuthuk. Itu kira-kira,” tandasnya.

“Maka, ini selalu bersinergi antara masyarakat, pedagang, dan pemerintah. Semua saling bertanggung jawab bagaimana mempertahankan agar citra Yogyakarta nanti bisa baik di mata  wisatawan di luar Yogyakarta,” pungkas Nuryadi. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *