PROSA.ID, Yogyakarta – Warga Sleman harus bersiap menghadapi kemarau yang lebih panjang.
BPBD Sleman memprediksi musim kering tahun ini berlangsung lebih lama karena pengaruh El Niño yang menguat.
Kondisi tersebut mulai terasa di sejumlah wilayah.
Salah satu yang menjadi perhatian BPBD Sleman yakni mata air di hulu Sungai Krasak, kawasan lereng Merapi, yang debitnya turun sekitar sepertiga.
Penurunan debit itu berdampak langsung terhadap distribusi air kepada masyarakat.
Pengelola harus menerapkan sistem giliran agar ketersediaan air tetap terjaga.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengataka, kondisi kemarau tahun ini berbeda karena pengaruh anomali El Niño dan angin muson Australia yang membawa udara kering.
“Prediksinya untuk musim kemarau ini agak panjang,” kata Bambang, Selasa (11/8/2026).
Puncak Kemarau Diprediksi Mundur ke September
Bambang menyebut, pengaruh El Niño sempat melemah, kemudian kembali menguat hingga Agustus 2026.
Kondisi tersebut membuat BPBD mengantisipasi musim kemarau yang lebih panjang.
Menurut dia, puncak kemarau yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada Agustus kini berpotensi bergeser ke September.
Dampaknya, awal musim hujan di Sleman juga berpotensi mundur.
Bambang menjelaskan, hujan baru berpeluang turun pada akhir November bahkan awal Desember 2026.
“Musim hujan di 2026 ini juga mundur bisa di akhir November bahkan di Desember awal, karena Desember masih menguat El Nino-nya,” ujarnya.
Dokumen kesiapsiagaan Pemkab Sleman juga mencatat BMKG memprediksi curah hujan Sleman berada pada kisaran 0–20 milimeter per bulan atau di bawah normal.
BMKG juga memprediksi periode kemarau berlangsung hingga Dasarian I November, dengan peluang El Niño kuat bertahan hingga Desember 2026.
Sleman Sudah Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan
Pemkab Sleman tidak menunggu kondisi semakin parah.
Bupati Sleman telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026.
BPBD dapat memperpanjang status tersebut jika kondisi kekeringan masih berlangsung.
Jika situasi memburuk, pemerintah juga dapat meningkatkan status menjadi darurat.
Bambang menjelaskan, pihaknya menyiapkan langkah mitigasi sekaligus memperkuat distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air.
“BPBD juga menyiapkan anggaran Rp25 juta untuk operasional dropping air bersih,” tandasnya.
Anggaran tersebut berasal dari tambahan anggaran Rp12,5 juta dan revisi anggaran murni Rp12,5 juta.
Mata Air Krasak Turun, Warga Mulai Bergiliran
Bambang mengungkapkan, penurunan debit mata air Krasak menjadi perhatian serius BPBD.
Ia mengaku sudah dua kali mendatangi langsung lokasi mata air tersebut.
Hasil pengukuran menunjukkan debit air turun sekitar sepertiga.
Penurunan debit membuat pasokan air ke masyarakat di bawah kawasan mata air ikut berkurang.
“Ini mengakibatkan intensitas air yang dialirkan pada masyarakat di bawahnya semakin berkurang, sehingga harus ada giliran penggunaan air,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat BPBD melakukan dropping air ke wilayah Ngandong, Turi.
Dalam empat hari, BPBD telah mengirim delapan tangki air.
Dengan kapasitas sekitar 5.000 liter per tangki, distribusi tersebut mencapai sekitar 40.000 liter air bersih.
Namun, pengelola Pamsimas kemudian menerapkan penggiliran distribusi dan mendorong masyarakat menghemat penggunaan air.
Hasilnya, selama dua hari terakhir kebutuhan air masih dapat dipenuhi dari bak penampungan sehingga BPBD belum kembali melakukan dropping.
Bukan Cuma Krasak, Pamsimas Sempat Bermasalah
Bambang menambahkan, BPBD Sleman juga mencatat persoalan air bersih di Sumbersari, Moyudan.
Namun, persoalan di wilayah tersebut bukan semata-mata karena kekeringan. Hasil asesmen menunjukkan sumur dalam masih memiliki air.
Masalah justru terjadi pada pompa Pamsimas yang mampet.
“Relawan, pengurus Pamsimas, masyarakat penerima manfaat, dan unsur pemerintah kemudian melakukan perbaikan. Setelah pompa dibersihkan selama dua hari, sistem kembali berjalan,” tandasnya.
BPBD sebelumnya melakukan dropping sebanyak lima tangki atau sekitar 25.000 liter air ke wilayah tersebut.
Di sisi lain, BPBD mencatat distribusi air ke Sumberarum, Moyudan sebanyak 5.000 liter untuk 120 kepala keluarga.
Girikerto Sudah Terima 20 Ribu Liter Air
Krisis air juga menyentuh wilayah Girikerto, Turi.
Bambang mengungkapkan, pemerintah bersama berbagai pihak mendistribusikan air bersih ke Girikerto pada 4–6 Agustus 2026 dengan total 20.000 liter.
Pemerintah menyiapkan jadwal distribusi sebanyak dua tangki per hari untuk memenuhi kebutuhan 175 kepala keluarga.
Persoalan di Girikerto berkaitan dengan sumber air dari kawasan hulu Sungai Krasak yang mengalami gangguan setelah material menimbun jalur sumber air.
“BPBD kemudian berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaga pasokan air masyarakat,” paparnya.
Pemerintah juga berencana berkoordinasi dengan Pemkab Magelang terkait pemanfaatan Sungai Krasak.
BPBD Waspadai Kebakaran hingga APG Merapi
Bambang menegaskan, ancaman musim kemarau tidak berhenti pada krisis air bersih.
BPBD juga mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman yang belakangan meningkat.
Karena itu, BPBD Sleman menggelar apel siaga bersama TNI, Polri, Baznas, PMI, relawan, Damkar, Satpol PP, BMKG, BBTKG, serta unsur TNI.
Pemerintah meminta masyarakat tidak membakar sampah maupun lahan secara sembarangan.
“Kami juga menyiapkan langkah pencegahan kebakaran selama periode kemarau,” imbuhnya.
Bambang mengatakan, ancaman lain juga datang dari kawasan Merapi.
“Awan Panas Guguran (APG) sebagai salah satu potensi bencana yang perlu diwaspadai selama musim kemarau,” katanya.
Pemerintah Siapkan Truk Tangki dan Hidran
Pemkab Sleman memperkuat mitigasi dengan menyiapkan armada distribusi air bersih, hidran umum, sumur bor, pemetaan wilayah rawan kekeringan, hingga pemantauan informasi BMKG.
BPBD juga memiliki hidran umum yang dapat dipinjamkan kepada wilayah terdampak kekeringan.
Selain itu, pemerintah mendorong masyarakat membangun sarana penampungan air agar distribusi bantuan berjalan lebih efektif.
Selain itu, BBWSSO menyiapkan pemenuhan air melalui sumur bor dan 40 pompa portable untuk irigasi.
Bambang menegaskan pemerintah akan terus mengandalkan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi kemarau panjang.
“Masyarakat juga memiliki peran penting dengan menghemat air dan menggunakan sumber air secara bijak,” pungkasnya. (Ken).
