Home » Keisya Levronka Bongkar Tantangan Main Film Dan Bandung: Tak Cuma Akting, Metode Rudi Soedjarwo Bikin Deg-degan

Keisya Levronka Bongkar Tantangan Main Film Dan Bandung: Tak Cuma Akting, Metode Rudi Soedjarwo Bikin Deg-degan

Produser dan pemain film Dan Bandung saat memberikan keterangan kepada media di XXI Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (8/8/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Keisya Levronka menghadapi pengalaman berbeda saat terjun ke dunia film Dan Bandung. 

Penyanyi yang dikenal lewat lagu-lagu hitsnya itu harus keluar dari zona nyaman ketika berhadapan dengan metode penyutradaraan Rudi Soedjarwo yang tak biasa.

Keisya memerankan Susi, mengaku proses syuting film tersebut berjalan lancar. 

Namun, tantangan terbesar justru muncul sebelum kamera mulai merekam.

Pasalnya, Rudi tidak menjadikan naskah sebagai patokan dialog yang harus dihafalkan secara kaku. 

Para pemain justru diberi ruang untuk membangun dialog melalui proses diskusi dan brainstorming bersama.

“Om Rudi tidak terlalu menggunakan skrip. Kita selalu skrip itu hanya untuk guide saja,” ungkap Keisya usai screening film di XXI Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (8/8/2026). 

Keisya Harus Bangun Dialog Sendiri

Screening film Dan Bandung di XXI Ambarrukmo, Sabtu (8/8/2026). (prosa/ken).

Metode tersebut membuat Keisya harus beradaptasi. 

Ia terbiasa dengan proses kerja yang berbeda dari pendekatan Rudi Soedjarwo.

Dalam film ini, para pemain tidak sekadar menerima dialog jadi. 

Mereka ikut membangun percakapan sesuai karakter dan situasi dalam adegan.

“Kita tuh nge-build dialognya semua sendiri dan bareng-bareng, brainstorming bareng-bareng,” kata Keisya.

Bagi Keisya, pengalaman tersebut cukup menantang. 

Apalagi, ia sebelumnya lebih dikenal sebagai penyanyi dan performer di atas panggung.

Namun, proses persiapan yang panjang membantu Keisya dan para pemain menghadapi tantangan tersebut.

Simulasi Sebulan Jadi Kunci

Sebelum memasuki proses syuting, para pemain menjalani simulasi selama kurang lebih satu bulan.

Persiapan itu membuat proses keseluruhan berlangsung sekitar dua bulan. 

Keisya menilai, simulasi yang matang menjadi alasan syuting akhirnya dapat berjalan relatif lancar.

“Tantangannya sebenarnya karena kita proses simulasinya lama. Jadi selama syuting itu alhamdulillah lancar karena matang banget di simulasi,” ujarnya.

Dengan persiapan tersebut, para pemain memiliki waktu untuk memahami karakter sekaligus membangun chemistry sebelum benar-benar menjalani pengambilan gambar.

Karakter Elma Ternyata Mirip Shanna

Menariknya, Shanna Shannon yang memerankan karakter Elma justru tidak membuat pemerannya harus melakukan perubahan kepribadian yang ekstrem.

Elma digambarkan sebagai sosok pendiam dan introvert. 

Karakter tersebut disebut memiliki kemiripan dengan kepribadian pemerannya.

“Untungnya sifat Elma itu sama persis kayak aku. Dia pendiam, terus introvert, jadi aku enggak harus ngubah apa-apa,” tutur Shanna. 

Meski terasa dekat dengan dirinya, tetap ada bagian yang membuat pemeran Elma harus bekerja lebih keras.

Adegan emosional bersama keluarga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus mampu membawa emosi karakter agar terasa natural di layar.

“Yang lebih menantang itu karena ada banyak banget adegan-adegan yang emosional, terutama dengan keluarganya Elma,” katanya.

Kalau Punya Teman Seperti Elma, Keisya Mau Langsung Jemput

Kedekatan persahabatan menjadi salah satu bagian penting dalam cerita film tersebut.

Ketika ditanya bagaimana sikapnya jika memiliki teman dengan kondisi seperti Elma di kehidupan nyata, Keisya memberikan jawaban spontan.

Ia mengaku bakal melakukan hal yang dilakukan Susi. 

Namun, Keisya bahkan berkelakar akan menjemput temannya lebih cepat.

“Aku akan melakukan apa yang Susi lakukan. Tapi tanpa perlu dia telepon minta jemput, udah aku jemput, udah aku culik duluan kayaknya,” ujar Keisya.

Jawaban tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kuatnya hubungan persahabatan yang ingin ditampilkan melalui film.

Adaptasi Novel Pidi Baiq Tak Bisa Mentah-Mentah

Film ini diangkat dari novel karya Pidi Baiq. Namun, sutradara memastikan cerita film tidak serta-merta menyalin seluruh isi novel.

Produser film Dan Bandung, Titin Suryani menambahkan, ada bagian yang harus dipilih, dipadatkan, bahkan disesuaikan agar cerita bekerja dengan baik ketika berpindah dari halaman buku ke layar lebar.

“Novel itu kan panjang. Pastinya diambil adegan-adegan yang berkaitan dan yang penting itu diambil,” jelasnya.

Ia juga mengakui, terdapat penambahan serta sejumlah perubahan dalam proses adaptasi.

“Film dan novel tentunya berbeda,” lanjutnya.

Novel Baru Dipegang Setelah Syuting

Ada fakta menarik di balik proses produksi film ini. 

Keisya dan Shanna mengaku belum sempat membaca novel yang menjadi sumber adaptasi ketika syuting berlangsung.

Bukan tanpa alasan. Novel tersebut baru diberikan kepada para pemain setelah proses syuting selesai.

“Kemarin Ayah Pidi kasih ke setiap cast, jadi aku enggak sabar untuk baca,” kata Keisya.

Sang produser sekaligus sutradara menjelaskan bahwa novel sebenarnya telah tersedia sejak lama. 

Publikasi novel kemudian menunggu hingga proses film berjalan.

“Biar surprise,” ujarnya.

Alur Film Dibuat Lebih Lurus

Perubahan juga terjadi pada struktur cerita.

Jika novel memiliki alur yang sesekali bergerak maju-mundur, versi film dibuat lebih linier. 

Keputusan itu diambil agar penonton lebih mudah mengikuti cerita.

Menurut Titin, penyesuaian tersebut dilakukan melalui diskusi yang berlangsung selama proses produksi.

“Dari novelnya ada sedikit bolak-balik, tapi supaya lebih enak ditonton tentunya dibuat lebih linier,” ungkapnya.

Pengalaman Rudi Soedjarwo dalam menggarap film bergenre romansa juga menjadi salah satu pertimbangan dalam membangun alur film.

Bukan Sekadar Kisah Cinta

Film ini tidak hanya menawarkan kisah romansa. Cerita juga membawa tema persahabatan yang kuat.

Hubungan Susi dan Elma menjadi salah satu contohnya. 

Keduanya digambarkan memiliki kedekatan yang membuat mereka saling mendukung dan membela.

Selain persahabatan, film turut menyentuh hubungan antara orang tua dan anak.

“Memang ada nilai persahabatan, seperti Susi dengan Elma yang sangat dekat dan membela. Persahabatannya kental,” ungkap Titin.

Kehidupan Mahasiswa Jadi Daya Tarik

Hal lain yang ingin ditonjolkan adalah kehidupan mahasiswa.

Titin melihat kehidupan anak kuliah masih relatif jarang menjadi latar utama film. 

Karena itu, film ini mencoba membawa penonton masuk ke dunia tersebut.

“Sudah lama juga film tidak ada film yang tentang kuliah. Nah, ini tentang kondisi kuliah. Pemain-pemainnya semua kuliah,” katanya.

Kombinasi romansa, persahabatan, keluarga, dan kehidupan kampus membuat film ini diharapkan dapat diterima oleh penonton dari berbagai kalangan.

Ending Terbuka, Bakal Ada Sequel?

Satu pertanyaan yang paling membuat penasaran adalah kemungkinan hadirnya film lanjutan.

Apalagi, cerita film disebut memiliki open ending. 

Ketika ditanya apakah sudah ada rencana sequel, sang produser justru memilih memberikan jawaban misterius.

“Sequel-nya ada tidak? Itu spoiler kali ya. Nonton aja nanti kita lihat,” ujarnya.

Ia kemudian menyampaikan harapan agar film tersebut mendapat dukungan besar dari penonton.

“Mudah-mudahan atas dukungan teman-teman film ini meledak, jadi kita ada sequel,” pungkasnya.

Jawaban tersebut tentu membuat kemungkinan cerita Elma dan kawan-kawan berlanjut menjadi salah satu hal yang menarik untuk ditunggu. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *