PROSA.ID, Yogyakarta – Jogja Expo Printing 2026 yang diinisiasi kedua kalinya oleh Krista Exhibitions, resmi dibuka di Jogja Expo Center (JEC), Rabu (8/4/2026).
Pameran yang diikuti oleh 35 perusahaan dan 11 UMKM ini diselenggarakan hingga 11 April mendatang.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim mengatakan, teknologi cetak digital ini menampilkan teknologi kertas, logam, akrilik, kayu serta semua yang membutuhkan teknologi kreatif.
“Kami harapkan bahwa pameran ini bisa menampilkan inovasi teknologi cetak masa kini. Jadi industri kreatif itu penting karena meninggalkan nilai tambah. Seperti kita tahu, ada yang penting perlu belajar tentang merek, itu perlu dicetak dan juga ada peluang usaha untuk industri promosi dan industri kemasan lainnya,” kata Daud dalam sambutannya.
Daud mengungkapkan, sinergi yang terbangun di Jogja Printing Expo 2026 dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing industri percetakan Indonesia secara berkelanjutan.
“Kami percaya melalui acara ini akan tercipta iklim pertumbuhan jasa, industri kreatif percetakan kemasan di Yogyakarta dan sekitarnya,” jelasnya.
Ketua DPD Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) DIY, Roni Sugiarto menjelaskan, pameran ini memberikan banyak manfaat bagi para pelaku bisnis percetakan.
Hal ini dibuktikan dengan setiap tahun ini banyak mesin-mesin cetak baru. Namun sayangnya, kecanggihan teknologi ini tidak dibarengi dengan orderan melimpah akibat kebijakan efisiensi.
“Sekarang cetak mencetak enggak ada, karena kebijakan efisiensi dan ini sangat berdampak bagi pelaku usaha percetakan, terutama UMKM,” ungkapnya.
Roni berharap, ada perhatian khusus dari Pemerintah Kota Yogyakarta agar pelaku usaha percetakan bisa bertahan dan berkembang di tengah persaingan digital.
“Kami meminta kepada Bapak Wali Kota untuk memperhatikan industri-industri percetakan yang masih kecil ini agar bisa bertahan di tengah situasi yang sangat sulit sekarang ini,” ungkapnya.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menambahkan, hampir 80 persen pelaku-pelaku printing berasal dari UMKM. Sedangkan di Yogyakarta memang termasuk yang minimal industri besar, karena memang Yogyakarta bukan kota industri, bahkan DIY ini bukan kota industri.
“Kawasan-kawasan industri yang ada memang cukup terbatas dan dalam skala yang tidak terlalu besar. Oleh karena itu, industri berbasis UMKM saya kira menjadi bagian yang penting untuk kita kembangkan bersama ke depan. Sehingga kalau hari ini Jogja Printing Expo juga banyak diikuti oleh para UMKM, saya kira sudah sangat tepat dan kami mendorong semakin banyak yang berpartisipasi saya kira akan semakin sukses,” jelasnya.
Hasto menilai, diselenggarakannya pameran ini diharapkan bisa mengangkat Jogja Printing Exhibition untuk di-create untuk bisa berkolaborasi kemudian akhirnya bisa lebih banyak pengunjung.
“Oleh karena itu saya kira ke depan bagaimana kita mengenalkan digital printing, kemudian juga artificial technology dalam bidang finishing, printing, laser, packaging, dan lain-lainnya. Saya kira sangat dimungkinkan diekspos di Yogyakarta,” lanjut Hasto.
“Karena selama ini saya merasakan Yogya itu punya magnet ya,” pungkasnya Hasto. (Ken).
